
Mbak Kunti kembali dengan membawa sekumpulan kertas yang sudah hangus sebelah. Yap, sudah bisa di tebak, ini adalah Karya novelnya yang terbakar.
"Meskipun ini masih ada, mana bisa di baca ini woi" ucapan ku sambil memegang sekumpulan kertas.
"Ya, tentunya bisa lah... Ini yang pinggir kan masih ada tulisannya" kata mbak kunti.
Justru itulah masalahnya, aku tidak bisa baca tulisan di game ini! Gimana ini sekarang, ini sudah tidak ada separuhnya dan juga aku tidak tau tulisannya. Jika aja nih fitur translate bukan cuma omongan tapi juga tulisan.
"Ah... Tunggu ya... Aku mau minta bala bantuan" kata ku dan langsung membuka pintu.
Aku berjalan menuju ke kamar Alvina dan Rui, tepat di sebelah kamar ku... Tunggu, bukanya tadi mbak kunti menembus tembok menuju kamar ini? Mantap, aku memiliki firasat bakalan ribet urusannya.
*Tok ... Tok ... Tok*
"Alvina... Rui..."
Lah kok gak ada jawaban ya? Kok aneh? Apa mereka lagi keluar kamar? Ah... Bodoh amat langsung terobos masuk aja an***g ah.
Aku membuka pintu, ruangan kamar ini sangat gelap. Apakah ini beneran kamar kosong ya? Perasaan gak dah.
Aku masuk sambil membuat pemetik api. Aku menyalakan obor yang dekat pintu terlebih dahulu. Saat obor berhasil aku nyalakan, secara tiba-tiba.
"Pergi Kao! Dasar hantu...!" Terikat Rui dengan membawa kursi.
"Woi woi, tunggu! Aku Ri-" Rui pun, memukul kepala ku.
"Aduh sakit lah! Sudah ku bilang, aku adalah Riko!" Meskipun aku belum selesai ngomong sih.
"Ah... Maaf Riko" kata Rui.
"Riko? Dimana Riko?" Suara Alvina, tapi orangnya entah dimana.
Rui pun mengungkapkan keahliannya dalam membuat api dan dia menyalakan semua obor dalam kamarnya.
"Riko...!" -Alvina berlari dan langsung memeluk ku- "tadi ada hantu Riko... Aku sangat takut..."
"Oh... Jadi kamu sudah melihatnya tadi?" Pertanyaan ku.
"Iya, dia sangat putih rambutnya kedepan semua dan dia melayang-layang di udara" kata Alvina.
Dasar mbak kunti, aku sudah menduganya kalo dia tidak mungkin hanya mau mengambil kertas separuh terbakar tadi.
"Tenang-tenang, tadi kan ada Rui, kenapa masih takut?"
"Gimana tidak mau takut, Rui saja tapi juga ketakutan" kata Alvina.
__ADS_1
Aku melihat kearah Rui dengan tatapan kecewa. Rui pun memalingkan pandangannya, sambil bersiul tapi tidak ada bunyinya. Lebih tepatnya sih, cuma meniup-niup ya.
"Sudah, sekarang ada aku kan? Jadi, tolong lepaskan aku" kata ku sambil melepas pelukan Alvina.
Lima menit sudah berlalu, aku berjalan masuk kamar dan langsung duduk di atas kasur. Begitu juga dengan Alvina dan Rui, mereka duduk di kasur yang satunya.
"Jadi, kamu kesini hanya untuk bermain? Maaf tidak bisa, kamu kira sekarang jam berapa!" Kata Rui.
"Mana mungkin untuk bermain-main lah, kalo memang tujuan ku seperti itu, lebih baik aku tidur saja di kamar ku sendiri" perkataan ku.
"Jadi, kamu punya tujuan apa kesini?" Tanya Rui.
Aduh... Kenapa ini tiba-tiba kok merasa tidak enak kalo aku minta bantuan. Kalo Alvina sih aku tidak butuh, dia sama-sama tidak bisa membaca tulisan, lagian dia juga takut sama hantu. Tapi Rui... Tak ku sangka dia juga takut dengan hantu.
"Gimana yak ... Ah... Tidak jadi ah, maaf menganggu, selama malam" kata ku sambil berjalan mundur.
"Tunggu, sebenarnya ada apa sih? Kamu malah membuat kami penasaran" kata Rui.
"Aduh... Tujuannya sih, mau meminta bantuan, tapi setelah lihat kalian seperti tadi ... Kayaknya tidak jadi, maaf" kata ku yang sudah memegang gagang pintu kamar.
Rui tiba-tiba menaruh baju ku dan aku terlempar dan jatuh kelantai. Rui langsung berada di atas ku.
"Apa maksudnya tidak jadi setelah lihat kami yang tadi? Aku bodoh, aku tidak bisa memahami kata-kata mu yang tinggi tersebut. Jadi, ngomong saja yang jelas dan mudah dipahami"
"Ri-Riko, ka-ka-kamu, cuma bercanda kan?" Ucapan Alvina dengan muka pucat ketakutan.
"Kalo kamu tidak pacaran ya malah bagus, kalo itu bisa membuat kamu tidak takut dan tenang" perkataan ku.
"Ja-jadi, sekarang m... M... M... kata Rui.
"Mbak kunti" kata ku
"Iya, mbak kunti! Sekarang dia ada di kamar mu? Hehe, ini sudah jelas-jelas cuma bercanda ya kan?" Ucapan Rui, makanya juga pucat ketakutan.
"Ha... Baiklah kalo begitu" -aku berdiri- "ku ulang, maaf mengganggu, aku kembali du-"
"Riko... Apakah kamu disini?" Kata mbak kunti, badannya cuma separuh yang menembus dinding.
"Ah...! Ah...!" Terikat Alvina dan Rui secara bersamaan.
Setelah terikan itu, Alvina malah jatuh kelantai dan pingsan. Sedangkan Rui, cuma berdiri dengan tatapan kosong.
"Hahaha! Mereka sangat lu- ah maksud ku, ya ampun... Cerobohnya aku melakukan ini, pasti mereka akan ketakutan ya?" Kata mbak kunti.
Aku membuat pistol dan langsung menembak mbak kunti di kepalanya.
__ADS_1
*Duar*
"Ah...! Sakit-sakit! Sakit sekali! ... Apa-apaan sih yang kamu lakukan!" Terikat mbak kunti.
"Ah... Maaf, tadi tangan ku licin, tidak sengaja menembak mu"
"Hah? Kamu melakukannya dengan sengaja! Kamu bilang tangan mu licin?"
*Duar*
*Ah...! Maaf! ... Maaf kan aku...! Aku tidak akan melakukannya lagi...!" Terikat kesakitan dari mbak kunti.
Setelah itu Alvina aku mengangkatnya dan aku taruh di kasur dan Rui, aku menyadarkannya dan dia pun dengan sendirinya naik keatas kasur.
"Kalo gitu... Selamat malam" ucapan ku yang mau keluar dari kamar.
"Riko! Tunggu!" Terikan Rui.
"Hem? Apakah kamu menginginkan cerita sebelum tidur?"
"Tidak lah! ... Hei, bisa gak tidur disebelah ku?" Perkataan Rui yang sangat pelan.
"Gak usah takut, ku jamin mbak kunti tidak akan ke sini lagi ... Sudah ya?, Bye" aku langsung keluar dari kamar.
Aku berjalan menuju ke kamar ku sendiri. Ngapain aku menulis berjalan ya? Padahal cuma lima langkah doang.
Aku masuk dan mbak kunti terlihat sedang membaca kertas-kertas separuh kebakar. Yang aku lihat, dia membaca dengan sengat serius.
Aku berjalan mendekatinya "woi, memang paham dengan cerita separuh-separuh seperti itu?" Pertanyaan ku.
"Aku ingat sekarang ... Tiba-tiba aku mengingat semuanya!" Terikan mbak kunti.
"Eh? Ingat? Ingat kuncinya? D minor atau E minor dulu?" Pertanyaan ku.
"Entah kenapa, tadi setelah kamu menembak kepala ku, aku terus membaca ini, aku langsung mengingat semua cerita novel ku ini. Padahal aku tadi baru membaca satu kata"
"Maksudnya, di otak mu sekarang sekarang sudah ada semua cerita novel mu?"
"Ya... Semuanya mulai bermunculan dengan sendirinya"
"Haha, hahaha! Bagus dong dengan begitu... Masalah terbesar ... terselesaikan!, Hahaha!" Aku puas tertawa.
"Jadi ... Mau ku tembak lagi? Biar makin kuat lagi ingatan mu" kata ku.
"Gak ... Gak usah makasih" Kate mbak kunti.
__ADS_1