Game & Takdir

Game & Takdir
27. pengganggu


__ADS_3

Pada akhirnya aku memberi tahu Billa tentang game dan juga konsep game ini. Namun reaksi Billa yang diberikan.


"Tunggu-tunggu, game pedang dan sihir, waktu berhenti ... Perfff, hahaha. Apa-apaan itu, kedengarannya seperti pelawak saja kalian" kata Billa.


"Kalo tidak percaya ya sudah. Oke, pembicaraan ini sudah selesai, aku mau pulang" perkataan ku sambil berdiri.


Billa menarik baju ku, sampai membuat aku kembali duduk. Billa memasang mata yang mengerikan, sama seperti saat aku di sandaran di ruang bawah rumahnya.


"Kalo itu benar, aku mau ikut Minggu depan, boleh kan?" Kata Billa.


Aku tidak dapat beralasan apa lagi menolak, aku pun setuju saja dengan permintaan Billa tanpa memikirkan resikonya. Semoga saja dia lupa Minggu depan.


Aku kembali kerumah, kerumahnya Billa maksudnya. Aku mengantarnya pulang, karena di minta olehnya.


Sesampainya di rumah Billa, dai turun dari motor dan terus membuka pintu pagar rumahnya.


"Kalo gitu, sampai jumpa besok di sekolah" kata Billa dan langsung berlari masuk kedalam.


Aku menyalakan motor ku dan langsung pulang juga kerumah ku sendiri.


Hari Senin pun tiba, aku bangun pagi, pokoknya tidak terlambat sekolah lagi. Sesampainya di sekolah, ada Billa yang di depan gerbang sekolah, seperti lagi menunggu seseorang.


Saat aku melewati Billa, dai tiba-tiba melompat ke motor ku. Dia naik di belakang ku, saat aku lihat, dia cuma senyum-senyum tidak jelas.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya ku sambil menghentikan motor ku.


"Sudah lah, jalan saja, gak usah hiraukan diri ku" jawaban Billa.


Aku langsung mengendarai motor ku lagi menuju ke parkiran. Sesampainya di parkiran, aku turun dari motor begitu juga dengan Billa.


Kami berdua berjalan menuju kelas bersama. Tidak ada satu kata pun, kerena aku canggu untuk memulai pembicaraan.


Pada akhirnya, sampai di kelas masih tidak ada pembicaraan apa pun yang kita lakukan. Pelajaran pertama pun dimulai.


Entah kenapa, meskipun aku baru kemarin pelajaran matematika ini di ulas, tapi rasanya udah lama banget aku tidak mempelajarinya.


Jam pertama selesai tinggal ganti pelajaran kedua. Sebelum pelajaran di mulai ada jeda lima menit sebelum pelajaran dimulai.


Saat Jedah waktu itu, Billa datang kemeja ku "sekarang apa lagi?" Pertanyaan ku.


"Tidak ada, cuma mau menghampiri mu, gak boleh? Emangnya ada sepanduk 'jangan kesini' gitu?" Perkataan Billa.


"Ya... Gak ada keduanya sih, tapi...., Ah dah lah"

__ADS_1


Billa duduk di atas meja ku "eh, jangan duduk di meja, sebentar lagi ada guru loh" ucapan ku.


"Kalo gitu" -Billa turun dari meja dan langsung duduk di pangkuan ku- "gini saja deh"


Aku diam tak bisa berbuat banyak, Padahal tinggal usir saja Billa. Ya memang semudah itu, tapi rasanya resikonya akan besar. karena itu aku memilih diam.


"Eh... Billa" panggilan ku.


"Iya, ada apa?" Billa menoleh kearah ku.


"Semua teman sekelas melihat kita loh"


"Hem, oh ya pada lihat, memangnya kenapa kalo dilihat?"


Guru akhirnya datang, Billa pun pergi kembali ke bangkunya sendiri dan pelajaran pun di mulai. Jam istirahat pertama telah tiba.


Aku berniat mau pergi ke kelas Agong dan Ivan. Akan tetapi, Billa lagi-lagi, menggangu ku, atau lebih tepatnya mengikuti ku.


Aku berhenti berjalan sebelum sampai di kelas 3A, Begitu juga dengan Billa. Aku berjalan lagi, Billa juga ikutan berjalan.


"Kenapa kamu mengikuti ku?" Pertanyaan ku.


"Tidak kok, kebetulan saja kita Sarah" jawab Billa


Pada akhirnya, Billa mengikuti ku. Kami menjadi berempat pergi ke kantin bersama Agong dan Ivan. sampai-sampai kami berempat balik kelas bersama.


Selama aku bersekolah, aku masih diganggu dengan Billa. Bahkan sampai pulang pun, masih diganggu oleh Billa.


Aku berboncengan dengan Billa, sedang menuju ke rumah Billa. Di tengah jalan, aku memberhentikan motor ku. Jujur, kesabaran ku mulai habis.


Aku berhenti di gang yang sepi, aku menarik Billa hingga terjatuh dari motor ku. Namun, Billa malah tersenyum kearah ku.


Aku juga turun dari motor, Billa juga langsung berdiri dari motor. Aku memepet kan Billa di tembok gang.


"Apa tujuan mu sebelumnya?" Pertanyaan ku.


"Apa yang kamu maksud?" Billa membalas dendam bertanya kembali.


Aku menghela nafas terus bertanya lagi "jawab, apa tujuan mu sebelumnya? Gak usah pura-pura bodoh!" Aku pun berteriak.


"Oke, akan aku jawab. Tapi, jawab dulu pertanyaan ku ini" perkataan Billa.


"Baik lah, apa?"

__ADS_1


"Apa hubungan mu dengan Alvina?"


"Kan kita sudah membahasnya dulu, aku dan Alvin cuma berteman"


"Bohong! Aku tidak akan mempercayai perkataan mu kedua kalinya!"


"Beneran, aku dan Alvina cu-"


"Minggir" -Billa mendorong ku- "tujuan ku adalah, ingin membuat Alvina merasakan apa yang aku rasakan. Terserah kamu mau memberitahu ke Alvina atau tidak, aku akan tetap melakukannya! " Billa pun berlari dengan menangis.


Aku cuma bisa berdiri, aku tau harus mengejarnya, tapi aku masih emosi dengannya. Malahan, aku sangat senang melihat Billa seperti itu.


Aku sampai di rumah, namun perasaan ku menjadi tidak stabil. Masih benci Billa, tapi juga...., Ah sudahlah, besok aku akan minta maaf ke Billa.


Hari mulai malam, aku berusaha tidur di kamar ku. Padahal, ini masih jam sembilan malam, seharusnya jam segini aku masih bermain game sampai jam sebelas baru tidur.


Kepala ku mulai pusing, entah kenapa tapi ini beneran sangat pusing, seperti seorang yang lagi abis mabuk kendaraan.


Aku pun memejamkan mata ku dan perlahan mulai tertidur. Keesokan harinya, aku tidak sanggup bangun dari tempat tidur ku. Kayaknya, sekarang aku lagi sakit.


"Kak, bangun, sudah jam 06.20 nih" kata Ferdi, adik ku.


"Maaf, kakak lagi sakit ini kayaknya" kata ku.


"Ah, masak?" -Ferdi menyentuh kepala ku- "lah, beneran kak, oke akan aku panggil ibu dan akan aku buatkan surat izin" Ferdi pun langsung keluar dari kamar.


Kepala ku pusing ingin muntah, tapi tidak bisa muntah. Sudah lah coba untuk tidur lagi, siapa tau akan membaik.


Aku pun berusaha untuk tidur, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Karena kepalanya ku yang sangat pusing mengganggu.


"Riko, kamu masih bangun?" Tanya ibu ku.


"Iya, aku masing bangun" jawaban ku.


"Ini ibu buat kan bubur untuk mu, bangun lah, makan bubur ini dulu, biar kamu punya tenaga"


Aku pun bangun dan langsung memakan bubur buatan ibu ku. Akan tetapi, saat baru memakannya beberapa sendok, aku tiba-tiba muntah langsung di tempat tidur ku.


"Aduh... Riko. Apa yang kamu lakukan" kata ibu ku.


Aku langsung di bangun kan ibu ku berdiri, dan naik keatas, yaitu tempat tidur adik ku. Ibu ku sedang membersihkan tempat tidur ku.


Ah... para dah, perasaan tadi tidak ingin muntah, tapi saat aku makan...., ha, sudah lah, makin pusing kalo ku gunakan untuk berfikir.

__ADS_1


__ADS_2