Game & Takdir

Game & Takdir
46. Menyesal


__ADS_3

Pagi pun tiba dan aku baru bangun. Yang membuat aku agak terkejut saat baru pertama kali bangun adalah, mbak kunti sedang melayang tepat di atas ku.


"Menyingkir atau aku tembak?" Kata ku.


"Kamu ini... Jadi cowok kasar banget ya... Apakah kamu punya pacar? Kayaknya tidak sih, hahaha" kata mbak kunti dan dia pun terbang menjauh.


"Ngomong-ngomong, apakah kamu masih ingat tentang cerita mu?" Pertanyaan ku sambil berdiri.


"Tenang saja, aku masih ingat semuanya kok" kata mbak kunti.


"Bagus lah kalo begitu"


Tiga puluh menit berlalu, aku sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Hati ini aku berencana mau ke guild dan mengambil satu quest yang bisa di selesaikan dengan cepat dan mudah.


"Kamu tidak bisa pergi dari penginapan ini kan?" Pertanyaan ku.


"Ya, qku tidak tau kenapa seperti itu, padahal aku hantu" jawab mbak kunti.


Aku keluar dari kamar dan langsung menuju ke depan penginapan. Aku menunggu Rui dan Alvina.


"Maaf... Apakah Riko sudah menunggu lama?" Tanya Alvina sambil berlari.


"Tidak, aku baru tiga menit di sini ... Dimana Rui?" Kata ku.


"Rui tadi balik ke kamar lagi, karena ada yang ketinggalan"


Setelah kami bertiga sudah berkumpul semua, kami langsung menuju ke guild. Setelah sampai di guild, kami bertiga memeriksa papan pengumuman quest.


Meskipun begitu, kebanyakan masih sama seperti yang kemarin. Memangnya ada beberapa sih para petualang di kota ini?


"Riko... Gimana kalo quest itu saja?" Kata Alvina sambil menunjuk ke quest yang dia maksud.


Aku membaca quest yang ditunjuk Alvina "bisa bantu panen gandum? Kami kekurangan orang untuk memanen gandum. Waktu pada tanggal 18, upah 75 koin emas"


"Tunggu, ini tanggal berapa Rui?" Tanya ku.


"Emm, sudah tanggal 21" jawab Rui.


"Eh? Ini quest udah kadaluwarsa woi, kok masih di pajang?" Kata ku.


Aku pun memanggil pelayan guild "permisi... Ada yang bisa kesini sebentar?"


Salah satu pelayan guild pun datang "iya, ada yang bisa aku bantu?"


"Ini quest sudah kadaluwarsa, kok Masih di pajang aja?" Teguran ku.


Pelayan guild itu pun tersenyum "mohon maaf tuan, sebenarnya kami mau menyingkirkan quest tersebut, tapi sang pembuat quest masih menginginkan untuk di pajang. Dia juga masih membayar pajaknya"

__ADS_1


"Jadi, dia masih meminta bantuan untuk panen gandum? Ini kan sudah lama? Tapi kok gak ada yang mau menggambil quest ini sejak dulu? Kalo tau, Kenap ya?" Pertanyaan ku.


"Mungkin, para kebanyakan para petualang hanya mau menggambil quest yang bisa menaikkan level mereka dan juga, kemungkinan karena upah yang di berikan terlalu sedikit"


Sedikit? Segini banyaknya dibilang sedikit? Menurut ku sih ini sudah banyak banget untuk pekerjaan tidak harus mempertaruhkan nyawa.


Atau mungkin, karena aku yang dah terbiasa tidak punya uang. Sekali melihat uang segini, aku mengiranya sudah sangat banyak. Dah lah, tiba-tiba aki menjadi galau memikirkan takdir ku.


Aku melihat Alvina dah Rui "gimana? Kita ambil quest ni? Atau yang lain saja?"


"Aku sih terserah ya, yang penting dapat uang untuk makan" pendapat Rui.


"Kita ambil ini saja Riko ... Entah kenapa, aku merasa orang yang membuat quest ini, sangat berharap adanya bantuan" pendapat Alvina.


"Sudah di putuskan ya... Kita ambil quest ini" ucapan ku.


Setelah quest di setujui oleh pelayan guild, aku bertanya kepada pelayan tempat atay lokasi sih pembuat quest.


Kami bertiga berjalan menuju kerumah sang pembuat quest. Tempatnya berada di desa Hivu, hanya lima kilometer dari kota.


Karena kami ingin menghemat tenaga untuk panen, aku dan Alvina menaiki Rui yang berubah menjadi wujud naga.


Cuma butuh waktu lima menit dan Kani pun sampai di desa Hivu. Aku dan Alvina turun dari Rui sebelum sampai di desa.


Kami bertiga berjalan menuju desa. Ada seseorang yang lewat, kami pun bertanya kepada orang tersebut.


"Maaf nona, rumahnya tuan Yoidi, dimana ya?" Tanya ku.


"Ah... Rumahnya di..." Pada akhirnya nona tersebut memberitahu rumahnya.


Kami bertiga mengunjugi rumah tuan Yoidi. Rumah tuan Yoidi terlihat sangat sederhana dan kecil, jauh berbeda dari kebanyakan rumah di desa ini.


Aku mengetok pintu rumah tuan Yoidi.


*Tok ... Tok ... Tok*


"Iya... Tunggu sebentar" suara seperti anak kecil.


"Pintunya terbuka dan yang membuka adalah seorang anak perempuan. Hem, mungkin anaknya tuan Yoidi.


"Ah... Nak, Bapaknya ada?" Pertanyaan ku.


"Bapak? Ah... Ada-ada" -anak itu berbalik badan dan berjalan tapi dia berbalik badan lagi "ah aku lupa! Silahkan masuk para tuan tamu"


Tuan tamu? Apa-apaan itu? Kosa katanya masih berantakan, tapi itu lah yang membuat anak kecil terlihat sangat imut.


Kami bertiga pun masuk kedalam rumah dan mengikuti anak kecil tersebut. Saat kami berjalan kami berpasangan dengan wanita cantik sedang bersih-bersih rumah. Mungkin dia seorang ibu anak ini, tapi kok terlihat sangat mudah ya?

__ADS_1


"Papa, kita kedatangan tamu!" Kata anak kecil itu yang sudah masuk ke suatu ruangan.


Kami bertiga masuk kedalam dan terkejutnya aku yang baru saja masuk. Di ruangan santai ini, hanya ada Kakek-kakek.


"Ah... Kek, tuan Yoidi dimana ya?" Pertanyaan ku.


"Hah, Yoidi itu nama ku" jawab kakek-kakek tersebut.


Heh? Ah... Itu, mungkin Yoidi adalah nama magar keluarga.


"Ah... Maksudnya Yoidi anak Kakek" ucapan Ku.


"Hem... Anak ku ini sekaligus cucu ku" -menunjuk sih anak kecil- "dan yang lagi bersih-bersih itu juga anak ku"


Aku bengong dengan mulut terbuka. Sulit dipercaya sih, tapi aku paham yang di omongkan sih kakek.


"Ah... Maksud?" Pertanyaan Alvina dengan polosnya.


"Iya, maksud gimana ya?" Rui pun ikutan.


Aku dengan cepat membawa Alvina dan Rui keluar dari dalam rumah "Ka-kalian kembali saja ya, ke kota. Biar aku sendiri saja yang membantu panen disini.


"He... Kenapa?" Pertanyaan Alvina.


"Ya... Kayaknya aku saja sudah cukup di sini. Jadi kalian... Oh iya, lebih baik kalian kembali saja ke guild dan ambil quest yang lain gimana?"


"Tapi, kalo kamu sendiri, memangnya kamu sanggup? Kita juga belum tau ladangnya itu luas atau tidak" kata Rui.


"Em... Gini ya, lebih baik kita ambil dua quest dalam sehari, kalo begitu kan, akan lebih banyak mendapat uang, benar kan?"


"Iya sih, tapi Riko, kamu beneran tidak apa-apa sendirian?" Pertanyaan Alvina.


"Tenang saja, aku kan seorang laki-laki" jawaban ku sambil bersikap sok tegar.


Dan akhirnya, Rui dan Alvina pun pergi. Oke, aku sudah menjauh kan dunia ribet kepada mereka berdua dan sekarang.


Aku masuk lagi kedalam rumah tuan Yoidi. Tuan Yoidi sedang bercanda ria dengan anaknya yang masih kecil.


"Loh? Dimana teman mu yang lainnya?" Pertanyaan tuan Yoidi.


"Mereka aku suruh pulang" jawaban ku dan langsung duduk, padahal belum di persilahkan untuk duduk.


"Kenapa? Bukannya lebih banyak orang akan lebih baik? ... Ah nak, ambilkan kakak ini minum"


"Baik papa!" Kata anak kecil itu dan langsung berlari.


"Terserah aku kan menyuruh mereka untuk pulang" ucapan ku dengan nada agak kesel dan kecewa.

__ADS_1


"Hem, jadi... Kamu sudah paham ya ... Maksud panen gandum yang aku tulis"


"Ya... Aku Sangat-sangat memahaminya dan aku menyesal menerima quest ini"


__ADS_2