Game & Takdir

Game & Takdir
48. siapa yang salah


__ADS_3

Yang mereka lakukan adalah, berjudi dadu dan Rin sebagai bandar. Di sini aku terdiam tidak bergerak dan semua orang yang di dalam ruangan melihat kearah ku.


"Oh, bocah yang baru keluar tadi!" Kata salah satu dengan bapak-bapak.


"Apakah kamu ingin ikutan main?"


"Ah... Maaf para tuan-tuan, aku pergi sebentar" kata Rin sambil berjalan membawa ku keluar.


Rin membawa ku kedepan pintu rumah. Rin menarik tangan ku dengan kencang dan langsung melepasnya. Bisa di bilang, dai melempar ku.


"Aduh" sebenarnya aku tidak apa-apa, itu cuma refleks dari mulut ku.


"Bukannya tadi ayah sudah menyuruh mu untuk pergi kan? Kenapa kamu kembali lagi!?" Kata Rin.


"Ya... Aku cuma penasaran, kenapa ada bapak-bapak datang kerumah mu" kata ku.


"Hah? Kalo kamu penasaran sesuatu, emangnya haru tau gitu, meskipun itu provinsi seseorang"


"Ya gak gitu juga tapi ... Tapi"


"Tapi apa?"


Aku sudah tidak tau apa lagi yang harus ku jadikan alesan "maaf telah mengganggu" ucapan ku sambil menunduk kepala ku.


"Ah sudah lah, cepat lah pergi!" Kata Rin dan langsung menutup pintunya.


Aku berjalan meninggalkan rumah tuan Yoidi. Apa-apaan sifat Rin itu, dia seperti orang lain. Aku memang baru mengenalnya hari ini, tapi aku tidak tau dia punya sifat kejam juga.


Saat aku berjalan sambil kapala ku menunduk, ada lima ibu-ibu yang sedang berkumpul di pinggir jalan.


Ibu-ibu itu melirik ku sambil berbisik-bisik. Kayaknya aku akan jadi bahan gosip di desa ini. haha, sial-sial.


"Tuh kan jeng, sebenarnya Rin yang ingin, bukan suami kita" kata dari salah satu ibu-ibu.


"Iya jeng, kasian masnya, di buang sama Rin" Dibuang?, kalian kira ku ini sampah atau apa?


"Mungkin punya masnya kecil, beda dari suami-suami kita" kata dari ibu-ibu.


Seandainya kalian tau, barang ku juga besar loh. Tunggu, barang? Memangnya barang apa? Kenapa aku berfikir barang yang ini?.


Tunggu, kok makin aneh ya? Perasaan ku juga belum merasa tenang. Rin yang menginginkannya, menginginkan ada yang bermain judi kan maksudnya? Itu hal yang wajar yang di inginkan semua bandar judi.

__ADS_1


Tadi ibu-ibu itu juga bilang suami-suami kita. Bisa di simpulkan, bapak-bapak yang di rumahnya Rin adalah suami para ibu ini.


Aku berputar arah, aku berjalan menghampiri ibu-ibu. Karena ada sesuatu yang harus aku pastikan.


"Maaf para ibu, bisa aku bertanya sebentar?" Perkataan ku sambil menunjukan lencana yang baru aku buat tadi.


"Iya boleh, mau bertanya apa ya mas?" Kata salah satu dari ibu-ibu.


"Maaf tadi saya mendengar pembicaraannya ... Maksudnya apa ya bu, barang yang ibu-ibu bicarakan?" Pertanyaan ku.


Ibu-ibu saling menatap satu sama yang lain. Mereka nampak ingin tertawa tapi mereka tahan.


"Em... Itu loh mas, yang mas punya di bawah itu. Masak mas gak paham" kata salah satu ibu-ibu sambil menunjuk bagian bawah perut ku.


Sudah kuduga pasti ini, jadi kalo begitu, mereka tidak sedang berjudi, melainkan ... Lebih baik sekarang cari informasi lebih dalam lagi.


"Maaf ibu-ibu ... Bisa kah aku bertanya satu kali lagi?" Perkataan ku.


Aku bertanya ada apa dengan keluarga tuan Yoidi dan ibu-ibu itu pun menceritakan fakta tentang keluarga Yoidi.


Jadi tuan Yoidi ini hidup miskin sejak lama, tapi kehidupan keluarga Yoidi biasa-biasa saja atau bisa dibilang, damai.


Tuan Yoidi hanya memiliki satu Sawa di belakang rumahnya. Yap, Sawa itu adalah ladang gandum yang baru saja aku panen gandum nya.


Saat Rin sudah berusia 15 tahun. Ibunya Rin tau istri tuan Yoidi, meningal dunia. Ini membuat tuan Yoidi sangat terpukul, karena kehilangan istrinya.


Tuan Yoidi pun mulai mabuk-mabukan dan tidak mau bekerja. Sedangkan Rin, harus menguasai tuan Yoidi, yang tiap hari, makin kurus kondisinya tuan Yoidi.


Rin tidak bisa bekerja di sawa, karena sejak kecil juga dia tidak pernah di ajarkan cara bertani. Mungkin karena Rin cewek. jadi tidak dianjurkan bertani.


Mungkin karena pikirannya tuan Yoidi. Rin pasti akan menikah dan jadi ibu rumah tangga. Ini hanya perkiraan ku, tapi aku tidak apa tujuan sebenarnya.


Karena tuan Yoidi hanya mabuk-mabukan dan tidak bekerja sama sekali. Pada akhirnya, semua persediaan makanan mereka habis dan pada saat ini, adalah lagi musim dingin.


Yang artinya, tidak bisa menanam gandum atau pun sayur-sayuran. Rin yang merawat ayahnya dan tentu saja selalu memasak untuk ayahnya.


Karena tidak ada persediaan lagi untuk di makan, mendapatkan perlakuan kasar dari ayahnya. Para tetangga yang melihat, mereka pun kasihan dengan Rin.


Para tetangga memberikan beberapa makanan untuk Rin dan ayahnya, hal ini terus berlanjut sampai dua tahun.


Para tenaga mulai bosan memberikan makanan kepada Rin dan ayahnya. Mereka tidak lagi kasihan, tapi sekarang berubah menjadi Sangat marah kepada Rin.

__ADS_1


Para tetangga pun tidak memberikan makanan lagi kepada Rin dan ayahnya. Hujan ejekan dari para tetangga terus berdatangan.


Karena tidak ada lagi makanan dari para tetangga, Rin pun kembali di perlakukan kasar oleh ayahnya.


Entah apa yang telah merasuki ayahnya, tuan Yoidi memiliki satu ide gila. Yap, tuan Yoidi ... Menawarkan tubuh putrinya.


Awalnya hanya bapak-bapak yang tau, tapi lama-kelamaan ... Ibu-ibu atau istri mereka tau tentang kelakuan suaminya.


Ibu-ibu tidak membenci suaminya, tapi entah kenapa, malah membenci Rin. Rin pun akhirnya kehamilan dan saat ini juga, taun Yoidi baru sadar.


Tuan Yoidi menyesal telah melimpahkan hal kejam kepada putrinya. Disini taun Yoidi kembali bekerja, meskipun tubuh sudah berubah seperti kakek-kakek. Padahal, umur tuan Yoidi baru 45 tahun.


Tuan Yoidi berusaha untuk melunasi hutang-hutangnya, yang sebenarnya dulu itu hanyalah niat baik dari para tetangga.


Namun nasip sudah menjadi bubur, tapi hati tidak peduli Rik lagi hamil atau pun sakit, bapak-bapak tetangganya Rin selalu datang.


"Katanya ini memang yang terbaik mas, cari perempuan yang lain saja mas, masih banyak di luar yang cantik-cantik dan lebih baik daripada Rin" kata salah satu ibu-ibu.


"Ah, iya, makasih" ucapan ku.


Kayaknya mereka masih salah paham ya...., Ah lah tidak penting, yang penting sekarang adalah.


Aku langsung berlari cukup kencang menuju kerumahnya tuan Yoidi. Aku juga langsung membuat tongkat besi.


sambil membuat lencana para kesatria. Aku tidak tau sih bentuknya seperti apa, tapi akan aku buat seperti punya polisi di dunia nyata.


Rumah tuan Yoidi hanya terbuat dari kayu, aku menghancurkan bagian dinding yang dimana dinding ini adalah dinding kamarnya Rin.


Semu bapak-bapak bengong melihat ku, mereka sudah telanjang dan begitu juga Rin. Rin yang awalnya lemas, dia pun berdiri dan mengambil pakaian dan menutup bagian tubuhnya.


"Apa yang telah kamu bocah!" Kata salah satu dari bapak-bapak.


Aku mengejutkan lencana palsu yang aku kuat.


"Aku adalah kesatria, aku mendapatkan informasi, kalo di desa ini ada tindakan tidak senonoh terhadap seorang wanita ... Ternyata itu beneran kalian ya?" Perkataan ku sambil memasukkan lencana palsu.


"A-apa? Kami tidak melakukan kesalahan, ini ... Ini ... Ini Rin sendiri yang meminta. Benar kan Rin?"


Tidak di dunia nyata, tidak di dunia game. Pasti banyak banget alasannya kalo sudah tertangkap basah.


"Simpan saja alesan mu itu ... Di depan hakim!"

__ADS_1


__ADS_2