
"Prf, hahaha" tawa Alvina.
"Lah kok ketawa? Apakah ada yang lucu dari pertanyaan ku tadi?" Perkataan ku.
"Bukan apa-apa, aku cuma merasa sangat senang"
"Kalo gitu siapa cowok itu? Tinggal jawab aja susah amat" ucapan ku yang makin perlahan.
"Apakah kamu sebegitu ingin tahunya?"
Nih cewek malah balik bertanya. Oh... Ya-ya aku tau, pasti dia kira kalo aku sedang cemburu, kalo begitu.
"Ya sudah lah kalo gak mau jawab gak papa" perkataan ku dan langsung keluar dari kelas.
"Ah... Riko tunggu!" -Alvina memegang tas ku dan menariknya- "iya-iya akan aku jawab kok, jangan ngambek dong"
"Ngambek? Ah sudahlah aku ingin pulang"
Dia melepas tas ku dan berbicara "cowok itu hanya teman ku, kami pernah sekelas bersama sejak kelas satu sampai dua dan di kelas tiga kami tidak sekelas lagi"
"Tunggu, sejak kelas satu, kita dulu juga pernah sekelas saat itu, dia namanya siapa kok aku tidak tau, apa mungkin aku sudah lupa ya?"
"Dasar Kakek-kakek pikun"
"Piku?"
"Dia Handa, dia sekretaris kan saat kelas satu dan aku juga sekretaris sama seperti dia"
Ah... Handa ingat-ingat. Kalo tidak salah dia juga pernah ada gosip kalo pacaran dengan ketua kelas, tapi kenyataannya, sih ketua kelas sudah pacaran dengan kakak kelas.
Tapi entah kenapa aku masih belum merasa tenang. Padahal jawabannya sudah sangat jelas. Kenapa ya?
"Jadi, kamu masih nyaman dengan dia ... Sa-sampai pulang bareng dia kemarin" ucapan ku yang kayaknya muka ku sangat merah.
"Ah... Riko" ucapan Alvina sambil mendekatkan mukanya.
"A-apa? ... Bisa gak jangan terlalu dekat"
"Hahaha! Tenang saja Riko, Handa sudah punya pacar kok" Alvina tertawa lepas.
Aku merasa sangat lega dan juga sangat bahagia, aku juga ingin tertawaan dengan kencang. Tapi kayaknya jangan ya, ini bukan waktu yang pas.
"Jadi, siapa pacar Handa?" Pertanyaan ku, aku bermaksud menganti topik.
"Sama ketua kelas" jawaban Alvina.
"Ketua kelas, ketua kelas saat kelas satu maksudnya?"
__ADS_1
"Iya, tapi maaf, aku lupa namanya"
Sama, aku juga lupa namanya, malah mungkin tak pernah tau nama ketua kelas. Aku dulu selalu memanggilnya dengan panggilan ketua kelas.
"Menurut ku Handa adalah orang yang hebat ... Kamu pasti ingat dengan gosip Handa pacaran dengan ketua kelas, itu sebenarnya bukan hanya gosip, tapi kenyataan"
"Eh? Terus?" Kok aku jadi penasaran ya.
"Namun dia diputus karena satu alasan yang konyol, alasan itu tidak bisa diterima oleh Handa dan hampir tiap hari selalu frustasi"
"Kalo boleh tau, memangnya alasannya apa?" Sumpah makin penasaran dah gua.
"Aku tidak tau. Namun sangat mengejutkan, dia tidak membenci ketua kelas tapi malah makin cinta padanya. Dia terus berjuang untuk mendapatkan ketua kelas, meskipun berulang kali gagal, dia tak pernah menyerah.
"Sampai saat dia bertemu lagi dengan ketua kelas saat kelas tiga ini, perjuangannya tidak sia-sia, dia berhasil membuat ketua kelas jatuh cinta pada Handa dan sekarang mereka pacaran"
entah kenapa, aku merasa seperti sedang melihat drama di tv.
Aku melihat jam dinding kelas "eh sudah jam 17.15 yuk pulang"
Aku mengantarkan Alvina pulang kerumahnya. Alvina melambaikan tangannya saat aku hendak pulang, setelah itu dia langsung masuk kedalam rumah.
Keesokan harinya "jadi, kenapa kamu tidak bertemu dengan Alvina kemarin?" Pertanyaan Mita yang sedang duduk di atas meja ku.
"Gak perlu, aku sudah baikan dengan Alvina" perkataan ku yang sedang melihat luar jendela.
"Beneran kok, kami sudah balikan" seperti suara Alvina. Aku langsung menoleh dan benar saja, Ada Alvina di samping Mita.
"Sedang ada apa ini, kok pada kumpul?" Tanya Billa yang ikut ketempat duduk ku.
Mereka bertiga melihat kearah ku sambil tersenyum. Suasana macam apa ini kawan, tapi entah kenapa rasanya ngeri juga dilihatin seperti ini.
Aku tertolong saat guru sudah datang, mereka bertiga langsung balik ketempat duduk mereka masing-masing.
Sementara itu, aku masih bingung dengan apa yang barusan terjadi.
pulang sekolah pun tiba, namun aku tidak sabar hari esok. karena hari esok adalah, hari minggu. Tapi aku tidak bole terlalu merasa senang, kalian pasti tahu maksud aku kan, karena besok aku akan bermain game laknat itu.
Saat aku berjalan menuju ke parkiran, ada Alvina, Mita, dan Billa. Mereka bertiga berkumpul di motor ku. Perasaan ku mendadak tidak enak tentang hal ini.
"Sedang apa kalian kumpul di motor ku?" Pertanyaan ku.
"Hei Riko, sekarang kamu mau pulang dengan siapa?" Pertanyaan Billa dengan santainya.
"Meskipun aku ditanya begitu... Ya tentunya dengan orang yang mau ikut dengan ku"
"Hei cowok kurang peka, disini semua sama-sama ingin pulang denganmu lah" perkataan Mita dan perkataannya membuat mental ku langsung down.
__ADS_1
"Em... Kalo gitu gini saja biar adil, kenapa tidak menentukannya dengan batu gunting kertas" saran ku.
Mereka bertiga saling bertatapan dan saran ku pun di pakai. Dari permainan batu gunting kertas di menangkan oleh.
"Hei Riko" ucapan Alvina yang sedang aku bonceng.
"Hem apa" jawaban ku yang masih fokus berkendara.
"Terimakasih, kamu tau aja kalo aku pandangi batu gunting kertas"
Eh? Eh... Sumpah aku baru tau "haha, sama-sama" aku tidak bisa jujur...
Setelah sampai di rumah Alvina, aku langsung pulang dan lagi-lagi Alvina melambaikan tangannya.
Sesampainya di rumah, aku langsung berganti pakaian dan langsung pergi lagi. Karena hari ini adalah hari diskon game.
Setelah membeli game itu, aku bermain game itu sampai begadang dan baru tidur jam satu. Saat bangun tidur, aku lupa kalo belum mandi sejak kemarin sore.
Saat jam sidah menunjukkan pukul 08.30 aku pun langsung bergegas mandi dan ingin pergi kerumahnya Alvina.
Setelah sudah berdandan, aku keluar dari rumah ku dan langsung menaiki motor supra bapak.
Saat aku starter motor, Mita memangil nama ku "woi, Riko... Mau kemana pagi-pagi gini?"
Aku tau kalo aku jawab akan terjadi suatu hal yang ribet, jadi aku memilih lebih baik diam dan langsung pergi.
Aku sampai di rumah Alvina
*Tok Tok Tok*
"Ini aku, Riko"
Pintu terbuka dan sangat mengejutkan sekali, Billa sudah ada di dalam rumah Alvina. Kalo tidak salah, seminggu yang lalu aku mengajak Billa untuk bermain game. Makanya dia berada di sini sekarang.
Aku duduk di sebelahnya Billa "maaf Riko, aku cuma punya teh hangat, baru buat tadi" ucapan Alvina sambil memberikan tehnya di depan ku.
"Oh ya gak papa, terimakasih" ucapan ku.
"Jadi, kapan kita bermain gamenya?" Pertanyaan Billa.
"Yakin mau ikut?" Pertanyaan ku.
"Ya, yakin lah, buat apa aku datang kesini kalo tidak yakin"
Aku melihat Alvina dan Alvina mengangguk. Aku mengambil nafas pelan-pelan dan hembuskan.
Aku melakukan persiapan ... Persiapan untuk bercerita.
__ADS_1