Game & Takdir

Game & Takdir
9. pertarungan kelabang


__ADS_3

Diumur ku yang sepuluh tahun, aku pernah digigit kelabang saat aku bermain sepak bola. Saat itu, bolanya masuk ke semak-semak dan aku mengambil bolanya di semak-semak.


Namanya juga anak kecil, aku hanya fokus mencari bola dan tidak berfikir akan datangnya bahaya. Masih mending aku hanya digigit kelabang, coba banyak kalo ular. pasti tidak akan pernah ada ini novel.


Aku melompat keluar dari semak-semak sambil berteriak kesakitan. Teman ku yang mendengar terikan ku, langsung datang menghampiri ku.


Kelabang itu masih menggigit ku, aku menggerakkan tangan ku dengan cepat, berusaha biar kelabang itu terlepas.


Saat teman-teman ku sudah datang, kelabang itu pun juga ikut terlepas. Salah satu teman ku menginjak kelabang itu dan yang lainnya membawa ku pulang.


Aku menangis sambil berteriak 'sakit... Aku sebentar lagi akan mati' begitulah, terikan ku sangat mengharukan.


Setelah digigit kelabang, aku sakit selama dua Minggu. Batuk-batuk, hidung penuh ingus, dan tubuh ku panas tapi yang aku rasakan hanya dingin.


Mulai hari itu lah, aku trauma dan ketakutan saat bertemu dengan kelabang.


Dan sekarang, aku malah bertemu dengan kelabang. Yang kecil saja aku sudah ketakutan, ini malah sebesar bus dan panjangnya kira-kira 50 meter.


Sial, aku tidak bisa bergerak satu langkah sama sekali. Alvina malah lagi pingsan. Sial, apa yang harus aku lakukan.


Aku pun akhirnya dilihat oleh kelabang itu. Sih kelabang menyerang ku, kayaknya dia mau menelan ku hidup-hidup.


Aku yang membatu tidak bisa bergerak sama sekali, aku pun pada akhirnya di telan oleh kelabang raksasa.


Didalam kelabang aku mendengar suara "Riko... Kamu di mana?" Suaranya terdengar samar-samar dan pelan.


Aku mulai sadarkan diri, aku membuka mata, tapi yang aku lihat hanyalah kegelapan. Aku bisa merasakan kekenyalan dan sangat berlendir.


Saat aku meraba-raba, aku merasakan sesuatu yang keras dan berbentuk runcing. Ya aku sadar, itu adalah sebuah gigi.


"mantap dah, kemungkinan aku masih dalam mulut kela... Woh..." kelabang itu bergerak.


Aku yang didalamnya berguling-guling kesana-kemari "apa yang sedang kelabang ini lakukan?"


Aku mengeluarkan tongkat ku dari inventori. Dengan sekuat tenaga aku mengangkat mulut kelabang.


Mulutnya perlahan mulai terbuka "Ah.... Sedikit lagi!" Akhirnya mulut kelabang itu terbuka lebar.


Saat terbuka lebar, aku melihat Alvina sedang memanah ke arah kelabang "Riko!" Terikan Alvina.


Aku mengganjal mulut kelabang mengunakan tongkat ku. Aku melompat keluar dari mulut kelabang.


Setelah aku keluar, aku menoleh kebelakang dan inggin mengambil tongkat ku "woi! Tongkat ku... Tidak..." Tongkat ku patah menjadi dua.

__ADS_1


Alvina menarik ku melompat dan langsung bersembunyi di balik batu yang lumayan tinggi "Riko, kamu baik-baik saja kan? Aku sangat mengkhawatirkan mu" Tanya Alvina sambil meraba-raba baju dia juga meraba muka ku.


"Makasih Telah mengkhawatirkan ku, tapi aku baik-baik saja, hanya basah kuyup dan bau lendir ini yang tidak enak" kata ku sambil memegangi kedua tangan Alvina. Biar dia berhenti meraba-raba ku, jujur rasanya sangat risih.


"Bagus lah kalo begitu. Saat aku bangun, aku melihat kamu sedang di makan oleh kelabang. Aku berusaha keras melawan kelabang itu sendirian sambil berteriak-teriak" kata Alvina.


"Tunggu, aku tertelan sudah berapa lama?" Tanya ku.


"Sekitar dua jam"


"Eh?"


Tunggu-tunggu ... Aku kira, aku tertelan baru satu menit, ternyata dua Jam toh! Jadi, aku tadi sempat pingsan dalam mulut kelabang.


"Riko, sekarang apa yang akan kita lakukan? Kalo kabur pun, jalan kita masuk sudah tertutup oleh puing-puing bebatuan" kata Alvina.


"Lah, kenapa bisa begitu?"


"Saat aku dan kelabang bertarung, kelabang itu menyundul atap goa, mengakibatkan atap goa berjatuhan dan menutup jalan"


"wah parah, dengan kata lain, kita tidak bisa kabur apalagi berusaha keluar dari goa" ucapan ku sambil memegangi kepalaku.


"Riko, sekarang kita gimana?" Tanya Alvina sambil menggoyangkan pundak ku.


"Tunggu, biar kan aku berfikir, pasti ada jalan keluarnya"


"Ha... Dah lah, game over lah kita" kata ku.


"Game over? Apa maksudnya itu?" Tanya Alvina.


"Kita akan berakhir di si-" aku berhenti berbicara karena kepikiran suatu ide.


Aku melihat ke langit-langit goa "Alvina, kutarik kata-kata ku tadi. Hehe, hehehe..."


"Riko"


Lima menit kemudian, aku keluar dari balik batu. Aku membuat granat.


"Ini mungkin cuma bisa bertahan satu menit. Tapi, kalo aku tarik pelurunya, granat ini hanya bertahan cuma sepuluh detik!"


Aku melempar granat itu ke muka kelabang.


*Boom*

__ADS_1


Granat itu pun meledak di muka kelabang "Alvina sekarang!" Terikan ku.


Alvina melompat dan menembakkan anak panahnya ke langit-langit goa, dan aku membuat RPG-7.


RPG-7 adalah senjata peluncuran roket, yang biasa untuk menghancurkan tank atau bisa juga untuk menghancurkan tembok.


"Grah..." Monster itu mengamuk.


Aku menembaknya dengan RPG-7.


*Boom*


Roket RPG-7 pun meledak di mukanya kelabang. Aku mengisi ulang dengan cepat RPG-7 ku dan sambil membuat flashback.


flashback adalah granat yang Kalo meledak bisa menghasilkan cahaya, granat ini di gunakan untuk membutakan musu buta sementara.


Ku tarik peletuk flashback, dan langsung aku lempar ke kelabang.


"Alvina!"


Aku dan Alvina berbalik badan.


*Ting*


Flashback itu pun meledak, sekarang kelabang itu butu sementara, aku menembakan RPG-7 ku ke langit-langit goa.


*Boom*


Saat peluru RPG-7 meledak di langit-langit goa, anak panah Alvina pun juga ikut meledak. Bebatuan yang lancip di langit-langit goa pun jatuh semua menimpa kelabang.


sepuluh detik sebelum aku dan Alvina melakukan serangan. Aku membuat bom TNT dan aku pasang kan ke enam anak panah Alvina, yang nantinya aku suruh dia untuk menembak anak panah itu ke langit-langit goa.


TNT adalah bom pada abad 18 di Jerman, bom ini berbentuk lonjong dan biasanya di warnai warna merah.


Sesuai rencana, aku berhasil membuat kelabang itu tidak bisa bergerak lagi. RPG-7 ku sudah hilang, tapi aku membukanya lagi.


Aku mengarahkannya ke kelabang.


"Dengan ini, selesai sudah riwayat mu" kata ku.


Aku Meu menekan peletuk RPG-7 ku tapi tiba-tiba.


"Tu-tunggu, tolong jangan bunuh aku!" kata sih kelabang itu.

__ADS_1


Kelabang itu mengeluarkan cahaya dan langsung meledakan dirinya sendiri. Aku langsung melompat ke arah Alvina, untuk melindunginya. Kami tiarap dengan aku yang di atas.


Semua bebatuan itu pada berterbangan kemana-mana. Setelah ledakan itu, ada seorang anak kecil dan kelabang itu hilang entah kemana.


__ADS_2