Game & Takdir

Game & Takdir
49. proses


__ADS_3

Aku membantai semu bapak-bapak dengan tongkat besi ku, tentunya aku hanya membuat mereka pingsan tidak sampai membunuhnya kok.


Setelah mereka tidak berdaya, ibu-ibu dari suami bapak-bapak pun datang menghampiri rumah tuan Yoidi.


Bukan hanya itu, keributan ini juga terdengar sampai seluruh desa dan para penduduk desa juga ikut berdatangan.


Rin memakai bajunya dan dia langsung berlari menuju persawahan. Mungkin dia malu atau mungkin tidak ingin terlibat dengan semu ini.


"Apa yang kamu lakukan!? Selain itu, kamu ... siapa?" Tanya salah satu dari ibu-ibu.


Aku membuat lencana palsu ku tadi yang aku buat. Setelah itu, aku menunjukkan lencana palsu itu ke ibu-ibu yang sedang menangani suaminya masing-masing.


"Aku adalah kesatria, aku mendengar informasi, kalo ada pelecehan seksual di desa ini dan ternyata pelakunya adalah suami ibu-ibu ini" ucapan ku dan langsung menurunkan lencana palsu.


"Ti-tidak mungkin! Mereka kan hanya menagih hutang" kata salah satu dari ibu-ibu.


"Mohon maaf para ibu ... Bukan kah kalian sendiri tadi yang memberikan informasi lengkap kepada ku. Dan ini sudah terbukti, aku melihat dengan mata ku sendiri tadi"


Setelah itu, tangisan pecah dari ibu-ibu. Ngomong-ngomong, kenapa ada drama nangis segala? Dan kok mereka bisa langsung percaya gitu aja loh.


Perkiraan sekarang baru jam sembilan malam, aku kembali menuju ke kota untuk menemui Alvina dan Rui yang ada di penginapan.


Setengah jam perjalanan, aku sampai di pintu gerbang kota dan aku memberitahu sang penjaga pintu tentang kejadian di desa Hivu.


Setelah itu aku langsung menuju ke penginapan. Alvina dan Rui Ku beri tau juga tentang kejadian di desa Hivu.


Aku tidak berniat untuk kembali lagi ke desa Hivu. Melainkan, aku tidur saja di kamar penginapan ku. Karena aku sudah sangat capek memanen gandum tadi siang.


Keesokan harinya, aku bangun tidur dan di sambut oleh mbak kunti.


"Selama pagi" kata mbak kunti.


"Ya, selamat pagi" jawaban ku.


Aku beranjak dari kasur ku. Namun, semua sekujur tubuh ku merasa nyeri yang luar biasa. Padahal kemarin malam tidak terasah, kenapa pagi-pagi gini baru terasa.


"Kamu masih terlihat kelelahan. ngomong-ngomong, kemarin menyelesaikan quest apa? Sampai kelelahan itu?" Pertanyaan mbak kunti.


"Kemarin? Ah... Ya-ya baru ingat, banyak yang telah terjadi dalam satu hari" Jawaban ku.


"Iya apa? Aku juga tau kalo banyak yang telah terjadi, dilihat dari muka mu saja sudah terlihat. Pertanyaan ku, apa saja yang telah terjadi kematian malam?"


Aku pun akhirnya menceritakan kejadian di desa Hivu ke mbak Kunti juga. Mbak kunti merespon dengan biasa saja.

__ADS_1


"Hem... Gitu toh, jadi sekarang sudah di tangkap para pelakunya?" Mbak kunti bertanya lagi.


"Kalo masalah itu mah, aku belum yakin. Aku sudah sangat capek, jadi aku pulang saja" penjelasan ku.


Aku segera berganti pakaian ku dan langsung menuju ke kamar Alvina dan Rui. Saat aku berada di depan pintu kamarnya, firasat ku mengatakan, jangan membuka pintunya. Apakah mereka sedang berganti pakaian?


*Tok tok tok*


"Apakah aku boleh masuk?" Pertanyaan ku.


"Beri kami waktu sepuluh menit, kami sedang berganti pakaian" jawaban dari Alvina.


"Oh... Gitu ya, kutunggu"


"Kalo kamu penasaran, buka saja pintunya" perkataan dari Rui.


"Mana mungkin lah!" Terikan ku.


Tak lama Alvina dan Rui keluar dari kamar. Kami bertiga pun, mau ke desa Hivu. Sebenarnya aku hanya penasaran dengan keadaan daru Rin.


35 menit kemudian, kami bertiga telah sampai di desa Hivu. Kami berjalan kerumahnya tuan Yoidi. Namun, tak di sangka, rumahnya tuan Yoidi di dipenuhi oleh para kesatria.


Hem, ternyata sudah di proses ya? Bagus lah kalau begitu. Namun tetap saja, aku masih khawatir dengan Rin.


Kami bertiga hanya diam saja melihat, ada salah satu dari kesatria yang melihat kami ku dan dia langsung berlari menghampiri ku.


"Apakah tuan ... Tuan Riko?" Tanya sang kesatria.


"Iya, saya sendiri" jawaban ku.


"Aku mendengar dari para warga, apakah kamu beneran memukuli para pelaku?"


Mati aku, apakah aku juga akan di tangkap? Atau, menangkap ku. Hanya ini lah yang hanya terlintas dalam kepala ku.


aku berfikir negatif, tapi yang mereka lakukan kepada ku adalah, memberi beberapa pertanyaan tentang kejadian semalam. Yap, aku diwawancarai sebagai saksi.


aku melihat Rin dan anaknya, keluar dari rumah. Aku berjalan menghampirinya.


"Rin!" kata ku.


Rin pun menengok kearah ku, awalnya dia tersenyum kepada ku. Namun, saat wajahnya kembali menunduk, wajahnya.


"Apa? tunggu-tunggu, tuna Yoidi juga ikut tertangkap?" Pertanyaan ku.

__ADS_1


"Aku sudah berusaha keras membujuk para kesatria, kalo aku ikhlas di perlakukan seperti itu oleh Ayah ku sendiri ... Namun, tidak ada satu pun mendengarkan ku" jawab Rin dan dia kembali menangis.


dua puluh menit sebelumnya, Alvina menghampiri Rin. entah sihir apa yang di lakukan oleh Alvina kepada Rin. Rin pun mengikuti Alvina dan sekarang kami berbicara di tengah perjalanan menuju kota.


"Sekarang aku tidak tau, apa yang akan aku lakukan bersama Rena (anaknya Rin)" ucapan Rin.


"Apakah kamu bisa menulis?" pertanyaan ku.


"Hem, ya, aku bisa menulis, meskipun lambat" jawaban Rin.


"Kalo gitu, aku memiliki pekerjaan untuk mu"


Kami pergi ke penginapan dan aku membeli beberapa kertas sebelum pulang.


"Mbak Kunti... aku pulang membawa oleh-oleh loh..." ucapan ku.


Secara tiba-tiba mbak Kunti muncul di hadapan ku, dari bawah keatas.


"Hah! Mana-mana? Oleh-olehnya?" tanya mbak Kunti.


"Rin!"


Rin membuka pintunya "Permisi... Hi!" Rin tiba-tiba diam tak bergerak.


butuh waktu selama selama setengah jam, untuk menjelaskannya kepada Rin tentang mbak kunti. Akhir, Rin juga sudah tidak takut lagi dengan mbak kunti. bahkan sekarang mereka sangat dekat.


Rik sedang menulis apa yang di ucapkan oleh mbak kunti. Sedangkan Rena, berada di kamar Alvina. Dia masih kecil, Sudah pasti akan sangat ketakutan kalo melihat mbak Kunti.


Aku hanya melihat dan meminum secangkir teh. Ngomong-ngomong, baru kali ini aku membeli bungkusan daun teh dan membuatnya sendiri.


"Hem... enak juga" kata ku.


Ya pasti enak, aku membuatnya sendiri. Apapun itu, kalo kamu membuatnya sendiri dan kamu minum sendiri, akan terasah enak bagi mu, meskipun orang lain berkata lain.


Satu jam berlalu, akhirnya karya mbak kunti, yang sudah hilang selama seratus tahun, akhirnya sekarang.


"Ini novel bagian Ending kan?" pertanyaan ku.


"iya, akhirnya ... akhirnya, aku telah menyelesaikannya" kata mbak kunti, nadanya seperti orang menangis, tapi dia tidak mengeluarkan air mata.


"Ano... Boleh aku bertanya? Meskipun sudah selesai, tapi di mana kita akan menerbitkannya? Bukan kah karya ini sudah lama sekali hilang?" pertanyaan dari Rin.


setelah Rin bertanya seperti itu. Aku tidak dapat menjawabnya dan mbak kunti, berhenti berprilaku seperti orang menangis.

__ADS_1


__ADS_2