Game & Takdir

Game & Takdir
37. Kedatangan Tony


__ADS_3

"Eh? Apakah aku pernah berkenalan dengan mu? Tentunya tidak ya" jawaban Tony.


"Aku tau kamu dari tuan Sanyo, ayah kamu" ucapan ku.


"Hahaha, gitu ya, dari pak tua itu ya, hahaha ... Sudah cukup aktingnya" Perkataan Tony dan dia langsung mengambil pedangnya yang ada di sebelahnya.


Rui sedang tak sadarkan diri atau pingsan, tangan dan kakinya sedang di ikat, Rui berada di sebelah kanan Tony ... Sedangkan Alvina juga sama seperti Rui, dia berada di sebelah kiri.


"Biar aku tebak, apakah kamu Riko?" Pertanyaan Tony.


"Ya, aku Riko"


"Wah... Kebetulan kalo gitu, aku cuma ingin bertanya tentang batu Ghilx ... Kamu membawanya kan?"


"Tidak, aku sudah melelehkannya hingga tak tersisa"


"Haha, jadi ucapan dari bocah naga ini benar ya"


Setelah Tony ngomong seperti itu, dengan sangat cepat, telapak kakinya sudah berada di depan mata ku.


Aku di tendang dan langsung terhempas keluar dari rumah kepala desa. Aku mendarat di atap rumah tak jauh dari rumah kepala desa.


saat aku baru bangun, Tony sudah berada di hadapan ku. dia memukul kepala ku. Aku terhempas agak jauh dan menembus beberapa dinding perumahan.


"Uhuk-uhuk"


Aku batuk mengeluarkan darah dan hidung ku juga mimisan. Sial, kekuatan macan Apa itu? Sangat cepat dan sangat kuat, aku kehilangan dua belas persen dari seluruh jumlah HP ku.


Aku menyingkirkan reruntuhan rumah yang membuat aku tidak bisa berdiri. Setelah berdiri, Tony lagi lagi sudah berada di depan ku, dia menendang ku lagi pada dada.


Lagi-lagi aku terhempas sangat kencang, sampai-sampai beberapa rumah aku tembus lagi. Aku batuk berdarah lagi. Namun, aku masih bisa berdiri.


Saat aku berdiri, dengan cepat aku membuat senjata. Senjata yang aku buat adalah M4. Aku berjalan perlahan mencari Tony.


"Mengapa kamu mengendap-endap, aku tidak akan menendang kamu lagi kok"


Aku langsung melihat dari sumber suara, Tony ternyata sedang duduk di atas sumur. Meskipun dia terlihat santai, aku tetap harus waspada padanya.


"Bisakah aku bertanya satu hal kepada mu?" Ucapan ku yang sambil membidik Tony.


"Ouh, silakan, mau bertanya apa?"


"Kenapa kamu bisa hidup kembali? Bukan kah kamu sudah pernah aku bunuh sebelumnya?"

__ADS_1


"Hah? Kan aku sudah bertanya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya"


"Apakah ini yang disebut ... Sombong?" Aku menyindir Tony.


"Ya ampun... Yang jelas dong kalo bertanya"


"Di sungai Kett, saat itu kamu berubah menjadi raksasa kan?"


"Oh... Itu toh! Maaf, dia cuma bagian lain dari tubuh ku"


"Eh? Apa maksudnya cuma bagian tubuh?"


"Maksudnya, itu adalah salah satu bayangan diri ku. Sekedar informasi saja, aku memiliki sepuluh bayangan diri ku di setiap penjuru dunia. Karena sudah kamu bunuh satu, jadinya sekarang tinggal sembilan"


Sumpah aku masih belum paham.


"Jadi yang mana diri mu yang asli, apakah yang ada di depan ku ini?" Pertanyaan ku meskipun belum begitu paham.


"Maaf ... Sayangnya, ini cuma bayanganku juga" jawaban Tony.


"Kalo gitu, bayangan mu tinggal delapan tidak masalah kan!"


Tampa basa-basi lagi, aku langsung menembak Tony. Sangat luar biasa dia bisa menghindari semua peluru ku dengan gesit. Seperti menghindari lempar batu dari anak kecil.


"Hem? Cuma segitu doang?" Pertanyaan Tony.


Sial, dia berlagak begitu sombong "tidak, kamu kira aku selemah itu!?"


Aku berlari dengan sambil membuat tongkat besi. Aku lemparkan tongkatnya, itu hanyalah sebuah penggalian perhatian.


Dia menangkap tongkatnya dan aku membuat lagi yang baru. Dengan cepat dan sekuat mungkin aku mengayunkan tongkat ku dari atas kebawah.


Namun, Tony menangkisnya dengan tongkat besi ku, tapi ini lah yang aku inginkan. Aku membuat tongkat kedua ini agak aku modifikasi sedikit.


Di dalam tongkat besi yang aku pegang ini, di ujungnya sudah aku kasih serbuk ledak dan aku kasih pembatas untuk serbuk nya tidak kebawah atau menuju ke bagian yang aku pegang.


Serbuk ledakan yang sangat rapat, pasti akan menghasilkan ledakan yang sangat besar. Tinggal panaskan saja sampai bisa membuat serbuk nya meledak.


Aku memancarkan panas dari telapak tangan ku dan benar saja, serbuk nya meledak sangat besar.


Karena ledakan itu, membuat aku terlempar sampai menatap dinding rumah. Di kedua telapak tangan ku ada beberapa serpihan besi yang menancap.


Jujur, ini rasanya sakit sekali, lebih sakit lagi dari pada punggung ku yang dari tadi selalu berbenturan dengan dinding rumah.

__ADS_1


Aku melihat Tony, Tony masih berdiri tegak. Tapi dari tanah, dia terlihat bergeser beberapa centimeter dari tempat berdirinya sebelumnya.


"Hahaha! Sangat menarik, aku jadi suka kamu Riko" perkataan Tony, aku juga baru sadar kalo Tony berdarah di bagian kepalanya.


Aku yang mendengar ucapan Tony itu, aku tiba-tiba muntah.


"Eh? Loh, kok muntah?"


"Ya... Rasanya jijik banget kalo di sukai oleh kamu" nyatanya, aku muntah karena memang ingin muntah.


"Terserah lah ... Oh ya, apakah kamu mau bermain game?"


"Tidak, makasih atas tawarannya. Tapi saat ini aku tidak ingin bermain game"


Ya gimaan aku mau menerimanya, aku ini sedang bermain game loh. nanti jadi bermain game dalam game.


"Oke kita mulai gamenya kalo gitu"


"Woi!" teriakan ku.


Tampa angin tanpa hujan, segerombolan Dark Elf pada berdatangan. Aku memiliki firasat buruk, aku pun langsung naik keatas rumah untuk berjaga-jaga.


"Kita akan bermain game PVP dan akan meningkatkan kesulitannya jika kamu menang" ucapan Tony.


Kepanjangan PVP sendiri adalah player versus player, yang maksudnya satu lawan satu antar pemain. Di jaman game sekarang, fitur PVP tidak hanya di game MMORPG, sudah banyak jenis game dengan kategori bermacam-macam yang di tambahkan fitur PVP juga.


"Hah? Tidak-tidak, aku tau startegi mu, kamu mau membuat aku kelelahan dan pastinya akan jauh lebih mudah untuk kamu kalahkan ya kan?" Penjelasan ku.


"Dari perkataan mu ada benarnya, tapi itu hanya sebagian kecil dari tujuan ku ... Aku hanya ingin tidak turun tangan lagi secara langsung, biar mereka saja yang melakukannya untuk ku, santai saja pasti akan ada habisnya kalo kamu mengalahkan satu orang"


"Tetap saja jawabannya, aku tidak ingin mengikuti permainan mu"


"Masih keras kepala ya... Kalo gitu gini, kalo kamu bisa mengalahkan sepuluh orang, kamu bisa melepas salah satu dari Rui dan Alvina"


"Kalo aku kalah?"


"Kalo kamu kalah, aku cuma ingin batu Ghilx"


"Kan sudah aku bilang...., Ah terserah lah, kayaknya bakalan sia-sia saja meskipun aku ulang"


Yang keras kepala siapa sih? Perasaan sudah ku beritahu kalo batu Ghilx sudah aku lelehkan hingga tak tersisa.


"Sekalian lagi maaf, aku tidak mau bermain game"

__ADS_1


"aku juga, Sekali lagi ku tanya, bermain game, atau langsung PVP dengan diri ku"


__ADS_2