Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Dikejar 3 orang


__ADS_3

Bismillah.


Sampai di kantor polisi benar saja para pedagang kaki lima sudah berkumpul menunggu kehadiran Revan. Mereka sudah tak sabar agar Revan diberikan balasan setimpal.


"Itu dia orangnya!" ucap seorang pedagang saat melihat kehadiran Revan.


Suasana di depan kantor polisi itu yang tadinya sangat tenang, dalam sekejap menjadi begitu riuh para pedagang terus meneriaki Revan.


Sementara Revan sendiri menatap malas orang-orang yang ada di depan kantor polisi, menurut Revan mereka semua sudah mengganggu waktunya saja.


Melihat kericuhan yang terjadi seorang polisi turun tangan untuk memperbaiki suasana. Mereka para pedagang itu seperti sedang berdemo saja di depan gedung kantor polisi.


"Bapak, ibu saya mohon harap kalian semua tenang kami dari pihak berwajib akan segera menindak lanjuti masalah ini." ucap pak polisi.


Perlahan suasana yang tadinya begitu ricuh sedikit reda, karena suara dan perkataan yang keluar dari mulut pak polisi.


"Pak kami sebagai pedagang butuh kepastian bukan hanya sekadar janji!" teriak salah seorang.


"Betul!"


"Betul kepastian bukan hanya sekedar janji."


Melihat para pedagang terus berteriak akhirnya polisi tadi mengambil toa keci yang dapat menimbulkan suara keras.


"Jika bapak dan ibu tidak percaya sihlakan menunggu, saat ini sadang dalam proses!" tegas pak polisi.


Perlahan berangsur-angsur kericuhan yang terjadi sudah muali mereda, sedangkan Revan masih diintorgasi oleh polisi.


"Kamu lagi, bukan baru kemarin saya bilang jagan buat ulah lagi."


"Saya sudah katakan pak, saya tidak janji tak membuat ulah. Karena hobi saya memang berulah." jawab Revan enteng.


"Sudah langsung saja tanggung jawab!"


Sudah pusing para polisi menghadapi Revan, apalagi laki-laki itu tidak ada takut-takutnya sama sekali pada para polisi. Sudah berkali-kali menjadi buronan polisi Revan tak jera juga.


Tanpa pikir panjang Revan mengeluarkan beberapa juta uang untuk ganti rugi. Revan memang begitu tak banyak berpikir langsung dia jalani saja padahal uang yang Revan keluarkan termasuk banyak.


"Sudahkan pak, apa saya boleh pergi?" Revan menatap datar pak polisi.


"Cek! silakan menyusahkan saja kamu. Ingat jangan datang kesini lagi."

__ADS_1


"Saya tidak janji." sahut Revan sambil bangkit dari tempat duduknya.


Revan berjalan santai keluar dari kantor polisi menuju motornya, para pedagang bahkan melongo melihat Revan sudah bebas.


Seperti biasa Revan tak pernah bisa mengendarai motor pelan, pasti dia akan selalu ugal-ugalan.


Cek!


"Mau apa lagi mereka." kesal Revan saat melihat ada 3 motor yang mengikuti dirinya. Revan semakin menambah laju kencang motornya.


Dia seperti sudah terbang bukan lagi berjalan di aspal jalan raya segitu besarnya sampai terbang.


3 orang yang mengikuti Revan tadi tidak menyerah begitu saja, mereka terus mengejar Revan.


"Jangan sampai lepas, dia ketua geng Revandra!" teriak 3 orang yang mengejar Revan saling bersahutan.


Geng Revandar memang begitu terkenal dikalangan anak motor kota Surabaya. Apalagi inti dari geng motor Revandra merupakan anak orang-orang kaya terkenal di kota Surabaya.


Geng Revandra juga terkenal bengis, tak akan mudah melepaskan lawan mereka. Tapi jika sudah dekat dengan geng Revandra maka mereka tidak akan mejadi musuh, malah menjadi teman, walaupun tidak dekat.


"Gue abisin lo semua." kesal Revan


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Revan, dia langsung menerjang orang-orang yang sudah mengganggu ketengan dirinya.


3 lawan 1 bagi Revan tak berarti sama sekali. Revan memang sangat ahli dalam bela diri, tanding Revan memang bukan orang sembarangan. Selain bertarung dengan kekuatan Revan juga bertarung menggunakan akan dan strategi yang harus tepat.


Bruk!


Duk!


Bruk!


Revan terus memukuli mereka sampai babak belur. Revan memang hebat dia terus bisa menghindari serangan demi serangan dari orang-orang yang sudah mengejar dirinya.


Sakira yang kebetulan lewat di tempat itu tak sengaja mendengar ada kegaduhan, dia segera melihat apa yang sudah terjadi.


Sakira sampai menutup mulutnya tak percaya melihat Revan diserang banyak orang, sedang mengeroyok Revan. Rasa khawatir Sakira rasakan saat melihat Revan dikeroyok.


Menyadari kehadiran Sakira terlintas niat jahat di otak kecil Revan.


"Gue kerjain lo gadis aneh." ucap Revan sambil berpura-pura tidak melihat kehadiran Sakira.

__ADS_1


Revan melihat semua lawannya sudah lemah, dia pura-pura lengah sampai akhirnya satu tendang mendarat di perut Revan.


Duk!


Bruk!


Bukanya kesakitan Revan malah menyerigai penuh kemenangan, melihat Revan kalah mereka yang menantang Revan tadi buru-buru pergi karena sudah kehabisan tenaga.


"Astagfirullah." kaget Sakira saat melihat Revan jatoh lemas.


Padalah sebenarnya Revan tidak apa-apa, dia tak merasa sakit sama sekali. Sakira bingung harus menolong Revan atau tidak sementara di tempat itu jarang orang yang berlalu lalang ada juga tapi tak peduli melihat Revan mereka tidak ada niatan untung menolong Revan.


Mau tidak mau akhirnya Sakira mendekati Revan, bagaimana pun dia tidak bisa membiarkan orang terkena musibah tapi Sakira tidak menolongnya.


Baru Sakira akan sampai didekat Revan, abi Gilang sudah berada di hadapan Revan. Sakira merasa lega melihat abinya datang diwaktu dan momen yang pas.


"Ya Allah, nak Revan kamu tak apa?" tanya abi Gilang khawatir.


"Saya baik-baik saja abi." sahut Revan ramah.


"Syukurlah."


"Ayo biar abi bawa ke rumah sakit. Sakira masuk mobil nak."


Sakira langsung mematuhi perintah papanya, tanpa membantah sedikitpun. Membuat Revan heran melihat Sakira begitu patuh pada orang tuannya.


"Eh, tidak perlu abi saya baik-baik aja." tolak Revan sungkan.


Akhirnya Revan tak bisa menolak lagi, mau tidak mau Revan harus mengikuti abi Gilang. Baru kali ini Revan menurut dengan orang lain, biasanya dia selalu melakukan apapun atas kehendaknya sendiri. Revan tak akan pernah patuh pada orang lain.


Beda cerita kalau sudah bersama abi Gilang, Revan tak bisa menolak apapun perkataan abi Gilang. Mulut Revan tersa terkunci saat berhadapan dengan abi Gilang.


Segera abi Gilang melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Faqih dirawat, padahal tadinya abi Gilang berniat untuk menanyakan tentang orang tua Revan.


Apakah Revan anak pak Riko atau bukan, sepertinya Allah belum mengizinkan abi Gilang tau tentang Revan.


Di dalam mobil Sakira yang duduk di kursi belakang tak sekalipun melihat kearah Revan, dia sibuk dengan dunianya sendirinya. Padahal rasanya Revan ingin melihat wajah Sakira lebih jelas lagi.


'Cek! Sebenarnya gue kenapa? Nggak mungkin kan gue tertarik sama gadis ini.' batin Revan kesal sendiri.


Merasa bodoh kali ini Revan, hanya ingin melihat Sakira mengkhawatirkan dirinya. Padahal dia dan Sakira tak saling mengenal.

__ADS_1


__ADS_2