Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Disengaja


__ADS_3

Bismillah.


Sakira beranjak dari tempat duduknya, dia sudah selesai mengisi perut jadi tak perlu berlama-lama duduk di meja yang sama dengan orang aneh tak Sakira kenal.


"Lo bayar makan gue." ucap Revan saat melihat Sakira bangkit.


Revan menatap tajam Sakira berharap gadis itu patuh pada dirinya. Sakira tahu laki-laki aneh di hadapan dirinya ini sedang bicara pada dirinya.


Sakira menatap Revan sejenak, tanpa bersuara sedikitpun Sakira berlalu pergi dari hadapan Revan dan Rena. Tentu saja Sakira akan membayar makanannya.


"Woi." teriak Revan yang tak digubris Sakira.


"Saya mau bayar bill mbak sekalian sama dua orang yang duduk sama saya tadi." ucap Sakira sopan.


"Totalnya 600.000 ya mbak." Sakira mengangguk.


Lalu dia segera mengeluarkan uang berjumlah 600.000 dari dompetnya. Padahal Sakira makan hanya menghabiskan uang 100.000.


"Terima kasih."


Sakira segera pergi dari restoran tersebut, hari ini dia sudah berniat untuk membantu uminya yang sedang membuat kue. Tadi dia memang disuruh umi Intan untuk mengantarkan kue pesana pelanggan. Karena merasa lapar Sakira berniat mengisi perutnya lebih dulu.


Sayangnya para pedagang kaki lima tempat Sakira biasa jajan sedang mengalami musibah. Bagimana kalau Sakira tahu semua itu ulah Revan. Cowok yang begitu menyebalkan. Herannya dia selalu dipertemukan dengan laki-laki berpenampilan pereman itu.


"Pasti umi nungguin Sakira pulang." gumunya.


Buru-buru Sakira pergi dari tempatnya saat ini, dia harus sampai di rumah sebelum sore hari.


Di dalam restoran itu, melihat kepergian Sakira. Revan ikut bangkit dari tempat duduknya.


Dia teringat ada hal yang harus Revan selesaikan pada geng Revandra. Dia juga harus membahas tengang kecelakan Faqih. Tadi saat di rumah sakit Revan belum menjelaskan apapun.


"Ren lo pulang sendiri, gue masih ada urusan." ucap Revan berlalu begitu saja, tanpa memberi Revan kesempatan untuk bicara.


"Tapi yang." belum selesai Rena bicara Revan sudah tak terlihat.


Sebelum meninggalkan restoran Revan menuju kasir lebih dulu untuk membayar tagihannya dan Revan. Tidak tahu saja Revan kalau Sakira benar-benar melakukan yang dia suruh.


"Mbak saya mau bayar bill!" ucap Revan tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.


"Meja nomor berapa mas?"


"45." jawab Revan singkat.


"Meja nomor 45 sudah membayar tagihan ya mas."

__ADS_1


Revan mengerutkan dahinya bingung, siapa yang sudah membayar tagihan dirinya. Apakah gadis tadi? pikir Revan.


"Siapa yang bayar?"


"Ooh, mbak cantik yang pake hijab hitam tadi."


'Benar dia.' batin Revan.


Tak mengucapkan terima kasih sama sekali pada karyawan restoran Revan berlalu pergi, sambil menunjukkan wajah sangarnya.


"Kumpul di markas sekarang!" Revan menulis pesan di chat grup wa geng Revandra.


Chat yang Revan kirim adalah sebuah perintah, geng Revndra tidak boleh tak hadir karena Revan akan membahas hal serius.


Seperti biasa Revan melajukan motornya kencang. Sekarang posisi Revan sudah hampir sampai markas. Dia melewati genangan air begitu saja. Tanpa melihat ada orang atau tidak didekatnya.


Byur!


Air di dalam genangan air tadi berterbagan kemana-mana saat motor sport Revan melewati genangan air itu.


"Astagfirullah." kaget seorang gadis.


Kali ini Revan tidak melihat kesalahannya, motornya sudah melajau kencang tak terlihat lagi. Parahnya lagi gadis itu adalah Sakira. Dia hampir tiba di rumahnya. Tapi apa yang terjadi membuat Sakira harus bersabar.


Cepat Sakira melangkahkan kakinya menuju rumah yang lokasinya sudah lumayan dekat, dari tempat Sakira saat ini. Mungkin Sakira tak akan sempat membantu uminya.


"Assalamuaikum Sakira pulang." ucapnya sambil masuk ke dalam rumah.


"Ya Allah, anak abi habis main dimana." ucap abi Gilang, beliau tersenyum melihat putrinya yang basah kuyup.


Sakira mengerucutkan bibirnya, tahu kalau sang abi sedang meledek dirinya.


"Tau ih bi! Masa ada orang bawa motor nggak bisa pelan-pelan." adu Sakira pada akhirnya.


"Yang sabar sayang, mungkin orang itu sedang terburu-buru."


"Abi ada benarnya juga, tapi seenggaknya Sakira tidak bahas kuyup seperti ini. Dan orang tadi minta maafkan enak juga."


"Yasudah kamu saja yang memaafkan." jawab abi Gilang enteng.


"Abi memang yang terbaik, Sakira ke kamar dulu mau bersih-bersih. Kalau abi mau ke toko kue umi. Tolong bilangin ke umi. Sakira belum bisa bantu umi buat cake."


Abi Gilang mengangguk tersenyum. Beliau memang ingin pergi ke toko sang istri.


"Ada-ada saja." gumun abi Gilang, sambil melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Disisi lain Revan sudah sampai di markas geng Revandra.


Disana tiga temannya yang lain sudah berkumpul.


"Kalian semua pasti tahu gue mau bahas apa disini." ucap Revan.


Irfan, Gibra dan Digo baru saja kembali dari rumah sakit.


"Tentang Faqih." tebak Gibran yang membuat Revan mengangguk.


"Tadikan Faqih sama lo Rev."


"Lo bener Digo, tapi setelah dari kantor polisi Faqih pergi lebih dulu. Sebenarnya gue juga hampir nabrak orang diwaktu bersamaan saat kecelakaan Faqih di jalur yang berbeda. Tapi masalahnya sekarang bukan itu. Gue rasa ada musuh yang diem-diem nyerang Faqih." jelas Revan.


"Lo tahu dari mana Rev?" tanya Revan.


Karena sekarang sedang dalam mode serius, jadi Irfan tidak mencari gara-gara.


"Gue sempat ngelihat bukit yang biasanya ditinggalkan oleh geng Jenlot. Kalian tahukan geng Jenlot selalu meninggalkan bukti kalau mereka habis mencelakai musuh?"


"Lo bener Rev, tapi kita sama geng Jenlot fine, fine aja bukan." Revan mengangguk lemah.


Gibran yang sedari tadi diam, akhirnya mengeluarkan suara juga.


"Kita harus selidik kasus kecelakaan Faqih." usul Gibran.


"Lo bener Gib, kita harus tangkap pelakunya. Seperti yang tadi Revan bilang. Gue jadi yakin kalau Faqih dijebak oleh salah satu musuh kita." ujar Digo.


Disaat seperti ini tiba-tiba Revan terbayang wajah Sakira yang menangis pilu melihat Faqih kecelakaan. Hati kecil Revan merasa terenyuh mengingat tangis Sakira.


"Irfan suruh mata-mata kita untuk mencaritahu, siapa pelaku yang sudah membuat Faqih mengalami kecelaan."


"Siap." jawab Irfan.


Walaupun anggota inti geng Revandra hanya terdiri dari 5 orang saja. tidak banyak yang tahu kalau geng Revandra memiliki banyak anggota yang jumlahnya ada sekitar 50 orang lebih.


"Sekarang kita harus lebih hati-hati lagi, kita tidak tahu siapa target selanjutnya yang mereka sasarkan. Kita juga belum tahu siapa pelakunya dan dari geng mana." Revan mengingatkan ketiga temannya.


Setelah obrolan serius itu mereka semua duduk santai.


"Yuk ke rumah sakit lagi, gue mau minep nemein Faqih." ajak Revan pada ketiga temannya.


"Pasti lo ada masalah lagi sama bokap dan nyokapkan?"


Tebakan Digo 100% benar. Kalau ada masalah dengan orang tuanya Revan pasti enggan untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2