
Bismillah.
Baku hantam masih terjadi di jalan raya yang amat sempi, baku hantam terjadi antara beberapa kelompok geng motor. Setelah balap liar usai. Pertandingan balap liar tentu dimenangkan oleh geng Revandra.
Bagi Revan dan anak geng Revandra uang tidaklah mereka butuhkan, terlahir dari anak orang kayak. Membuat anggota Revandra tak terlalu tergila-gila dengan uang.
Salah satu dari mereka juga ada yang memiliki usaha sendiri, tanpa sepengatahun orang tua. Mereka memang sangat nakal apalagi Revan kadang melihatnya saja ingin sekali menemgelamakan mereka dalam lautan.
Baku hantam semakin sengit tidak ada yang melerai mereka semua. Sampai suara mobil polisi membuat semua orang kocar-kacir termasuk Revan dan keempat temannya.
"Polisi weh cabut, gue udah cape berurusan sama polisi." ujar Revan.
Dia menancap gas motornya begitu saja, tidak memperduliakan luka yang Revan dapatan hampir diseluruh tubuhnya. Wajah tampan Revan sudah berganti menjadi memara diseluruh wajahnya. Gibran, Faqih, Irfan dan Digo segera menyusul Revan. Mereka tidak mau tertangkap polisi begitu saja.
"Gila weh, perih semua badan gue." keluh Irfan.
Digo melempar botol aqua miliknya yang masih dia pegang pada mengarah pada Irfan. Mereka sedang diburu polisi bisa-bisanya si Irfan mengendarai motornya begitu santai.
"Woi! Tamban kecepatan polisi lagi ngejar kita." teriak Digo dari atas motornya.
Padahal dia dan Irfan yang tidak ikut balapan, tapi yang kehabisan tenaga mereka berdua. Aneh memang mungkin efek baku hantam yang terjadi.
Bukan hanya geng Revandra yang kocar-kacir dan saat ini tengah dikejar-kejar polisi. Tapi semua anggota geng motor lainnya juga sedang diburu polisi.
Revan memimpin jalan mereka, dia memastikan kalau polisi sudah tidak lagi mengejar mereka semua. Lalu setelahnya Revan mengajak anggota inti Revandra itu kembali ke markas mereka untuk mengobati semua luka yang didapat oleh mereka masing-masing.
Sampai di markas keliam orang itu memasukan motor mereka begitu saja. Setelahnya mereka duduk dikursi sopa masing-masing.
"Gila, kok bisa ada polisi sih." gerut Faqih.
"Kalau polisi nggak datang mungkin kita bakal baku hantam sampai pagi dan ada yang kehilangan nyawa gimana." sambung Irfan.
__ADS_1
"Tumben bener." sindir Gibran yang masih memegangi pipinya, pipi Gibran entah terkena tonjokan dari lawan berapa kali.
Gibran mendapatkan luka parah di mukanya, Faqih sama dengan Gibran. Saat baku hantam tadi Faqih menghindari betul agar perutnya tidak terkena tinjauan oleh orang lain. Suasa yang gelap membuat mereka tidak bisa membedakan yang mana kawan dan yang mana lawan.
Irfan dan Gibran mendapatkan luka parah yang sama tepat diperut mereka, hal ini lah yang membuat kedua orang ini begitu lelet mengendarai motor mereka. Untung saja mereka tidak tertangkap oleh polisi. Kalau saja Revan tidak berhasil mengecoh para polisi tadi mungkin saja mereka malam ini sudah berada di kantor polisi.
Tidak ada yang tahu kalau Revan mendapatkan luka paling parah tepat di dadanya, Revan ingat betul ada 7 orang lebih yang mengeroyok dirinya tadi. Kalau saja tidak ada polisi datang mungkin Revan akan benar-benar kehilangan nyawanya.
"Huh! Mau pulang tapi gue takut diomelin nyokab." keluh Irfan.
"Gue minep di markas, lagipula besok ada kelas pagi."
"Gue ikut lo Rev." sambung Faqih.
Akhirnya mereka berlima memutuskan untuk tidur di markas, tentu setelah mereka mengobati luka masing-masing. Sebelum itu Revan sempat memesan makanan malam untuk mereka. Sehabis balapan dan baku hantam tentu saja menjadi lapar.
Waktu bergulir amat cepat, tak terasa pagi sudah menyapa. Diantara mereka berlima Faqih yang sudah bangun sedari subuh, mereka tidak tahu apa yang Faqih kerjakan.
Diantar 5 anggota inti Revandra hanya Faqih lah yang masih waras mungkin. Jam sudah menunjukkan pukul 6:20 tapi tidak ada tanda-tanda 4 teman Faqih untuk bangun.
"Woi bangun ada kelas pagi dosen kilir yang ngisi." Suara Faqih sudah seperti toa.
Tidak ada cara lain menurut Faqih untuk membangunkan mereka semua, cara satu-satunya hanya berteriak dari pada dia susah-susah membawa air untuk membangunkan mereka. Lebih baik duduk santai sambil berteriak.
"Suara lo Qih buat gedang telinga gue pecah." Protes Digo, dia yang paling pertama bangun dari ketiga temannya.
"Udah pecah belom gendang telinga lo." Sahut Faqih tanpa dosa.
"Cek! Teman lucknat lo ya." Dengus Digo.
Dia bangkit dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri, tidak peduli pada ketiga temannya yang masih tidur seperti kebo. Hebat memang mereka bertiga suara toa Faqih tidak membuat mereka terusik sama sekali. Padahal tadi Digo bilang gara-gara suara Faqih gendang telinganya hampir pecah.
__ADS_1
Selesai memberihkan diri Digo menghampiri Faqih yang duduk di sopa ruang tamu, Faqih sedang berbalas chat pada kedua adiknya menanyakan kemana Faqih tidak pulang semalam. Tentu dia mengatakan sejujurnya kalau menginap di markas, walaupun Faqih tidak menceritakan semua tentang kejadian tadi malam pada Gia dan Sakira.
"Fokus amat bang, lagi ngapai lo?"
"Kepo!"
Lalu Faqih langsung memasukan kembali hpnya di dalam saku celana miliknya tentu saja, tidak mungkin milik Digo.
"Pada kayak mayat tidurnya." Digo menatap Revan, Gibran dan Irfan yang masih tidur secara bergantian.
"Kayak situ kagak aja."
"Buktinya gue bangun pas dengar suara toa punya lo, lah mereka masih merem. Kalau bukan ketua sama wakil ketua pengen gue siram pake air seember rasanya mereka."
"Kan ada Irfan."
Gibran merasa terusik oleh suara berisik Faqih dan Digo akhirnya bangun juga. Gibran sebenarnya sudah bangun sedari tadi subuh saat Faqih bangun dia juga ikut terbangun. Namun, Gibran enggan untuk bangkit dia malah semakin menempelkan bantal di telinganya tapi tetap saja suara berisik Faqih terdengar di kuping Gibran.
"Berisik lo berdua." Kesal Gibran sampai-sampai dia menatap tajam Faqih dan Digo.
Yang namanya Faqih tidak akan takut pada Gibran maupun Revan, dia akan berlaku biasa saja mau salah ataupun tidak salah. Tak berselang lama Irfan juga ikut terbangun karena bantal yang tadinya Digo maksud untuk melempar Gibran malah jadi salah sasaran mengenai Irfan yang sedang aski-aski tidur.
Kalau sudah begini mereka bisa menebak siapa yang bangun paling akhir tentu saja Revan siapa lagi. Raja tidur itu Revan bukan Irfan maupun Gibran.
"Cek, mending lo pada mandi sono." Usir Faqih.
Gibran dan Irfan tak menjawab, mereka membenarkan perkataan Faqih lebih baik bersih-bersih lagipula mereka ada kelas pagi hari ini.
15 berlalu mereka semua sudah siapa berangkat ke kampus, sedangkan Revan baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.
"Rajin amat lo pada."
__ADS_1
"Lo aja yang tidurnya udah kayak mayat." Sungut Digo.
"Kita dulan Rev." Revan mengangguk saja, berangkat ke kampus dia memang lebih suka santai dan sendirian.