
Bismillah.
"Kira kenapa disuruh umi pulang?" tanya Gia.
Sakira dan Gia saat ini tengah menuju rumah Gia, Sakira harus mengantar adiknya itu dulu. Untung saja saat Gia ikut Sakira pulang gadis itu sudah tidak memilik kelas.
Orang pasti mengira kedua gadis itu selalu ribut dan saling membenci, walaupun lebih dominan Gia yang terkesan mencari gara-gara pada Sakira.
Sakira selalu menganggap kelakuan Gia yang dia tunjukan padanya merupakan tanda kasih sayang Gia.
Sakira memberhetikan motornya tepat di depan rumah orang tua Gia, kala gadis itu bertanya pada Sakira tepat sekali mereka sampai.
Sakira menatap Gia sejenak, dia belum menjawabkan pertanyaan gadis yang duduk di belakangnya.
"Aku tidak tau, umi menyuruh pulang saja." sahut Sakira.
Dia memang benar-benar tidak tahu kenapa umi Intan menyuruhnya pulang cepat, Sakira hanya tau uminya tadi bilang ada tamu penting yang akan datang.
"Aku pulang, salam dengan bunda dan ayah bilang tidak bisa mampir."
"Siap mbak Kira."
Sakira mendengus kesal jarang sekali dia mendengar gadis yang umurnya hanya berjarak 1 tahun 7 bulan ini memanggil dirinya dengan embek-embek Mbak.
"Cek! Tumben sekali, sudah aku pulang. Assalamualaikum."
"Waalaikusalam." jawab Gia.
Gia tak langsung masuk ke dalam rumahnya, dia memastikan Sakira sudah tak terlihat lagi barulah Gia masuk ke dalam rumah.
"Jadi penasaran siapa jodoh mbak Kira." ucap gadis itu.
Dia pernah membayangkan mbaknya akan mendapatkan laki-laki tampan, soleh, good atitud pokonya yang hampir sempura. Mengingat hal itu Gia tidak sabar melihat mbaknya menikah.
__ADS_1
Disis lain Sakira akhirnya sampai di depan rumah orang tuanya. Rumah itu tidak terlalu mewah tapi cukup baik dan layak di tempati.
Bukan abi Gilang tidak sanggup membangun rumah besar, hanya saja beliau tidak ingin melakukan hal itu mengingat mereka hanya bertiga saja menempati rumah itu, tidak ada pembantu di rumah orang tua Sakira. Karena umi Intan sudah terbiasa membersihkan sendiri dibantu Sakira.
"Assalamualaikum umi." sapa Sakira kala melihat uminya tengah sibuk di dapur.
"Waalaikusalam Kira. bersih-bersih gih, hari ini calon suami kamu dan keluarga akan datang."
Deg!
'Ya Allah, cepat sekali.' pekik Sakira dalam hati.
Sakira tersenyum sambil mendekati uminya, lalu mencium tangan wanita yang amat Sakira sayangi.
"Baik umi." patuh Sakira setelahnya.
Sakira segera menuju kamarnya sendiri, tidak tahu kenapa tiba-tiba saja dia rasanya deg, degan sendiri. Apa karena semua ini untuk pertama kalinya Sakira akan dikenalkan dengan laki-laki oleh kedua orang tuanya. Bahkan laki-laki itu sekarang calon suaminya.
Memikirkan itu Sakira jadi penasaran seperti apa calon suaminya. "Astagfirullah Kira apa yang kamu lakukan." ucap gadis itu.
Tak butuh lama untuk Sakira membersihkan diri, dia tipe gadis yang tidak suka berlama-lama dalam kamar mandi. Sakira sudah lengkap dengan baju tertutupnya, penampilan gadis itu tidak telihat kuno walau menggunakan pakian tertutup sempuran, dia malah sangat elegan dan pandai mencocokan waran baju dan hijabnya.
Tak lama-lama berada di dalam kamar Sakira segera menemui uminya kembali, untuk membantu umi Intan yang sedang menyiapkan makanan.
...****************...
Masih di kampus Sakira, tidak lama setelah Sakira dan Gia pergi Revan mendapat telepon dari papanya menyuruh laki-laki itu untuk pulang.
Jika tidak maka papa Riko akan menarikan semua fasilitas Revan dan membekukan semua kartu kredit milik laki-laki itu, Revan sama sekali tidak peduli sampai papanya mengancam akan mengeluarkan namanya dari kk saat itu juga.
Dengan berat hati akhirnya Revan pulang ke rumah, setelah berhari-hari laki-laki itu tak pernah menginjakkan kaki di rumah orang tuanya, Revan hanya malas jika nanti dia akan berdebat dan bertengkar hebat dengan sang papa.
"Gue cabut." ucap Revan pada teman-temannya.
__ADS_1
"Tumben." sahut Gibran.
Revan mengedikan bahunya acuh, dia masih malas bicara apalagi tadi mengingat kata-kata yang keluar dari mulut Faqih mengatakan dirinya calon suami Sakira. Revan juga tidak tahu kenapa dia tak terima atas perkataan Faqih, dari pada pusing akhirnya Revan memutuskan untuk pulang menemui papanya.
Hari ini intinya dia malas berdebat dengan siapapun, Revan sama sekali tidak memiliki mood bagus untuk hal itu.
Tak butuh waktu lama Revan sudah berada di depan rumah orang tuanya, terlihat jelas sekali kalau Revan enggan masuk ke dalam rumah itu, rumah yang selalu meninggalkan kenangan buruk bagi Revan sampai saat ini.
"Kamu pulang juga, segera siap-siap kita akan menemui calon istrimu." ucap mama Diana saat melihat kehadiran Revan.
Revan sampai terselak ludahnya sendiri mendengar kata calon istri, apakah dia barusan tidak salah dengar mamanya menyuruh dia bersiap-siap untuk menemui calon istri yang sama sekali tidak Revan kenal dan mungkin Revan tidak mengharapkannya. Itu karena Revan belum tau siapa calonya.
"Mama serius?"
"Memangnya siapa yang sedang bercanda." sahut mama Diana santai.
Revan mendengus kesal, dengan langkah malas dia menuju kamarnya sendiri. Revan tidak bersipa dia hanya mencuci mukanya lalu setelah itu keluar kamar lagi menemui sang mama. Ternyata sampai dibawah kedua orang tuanya sudah menunggu kehadiran Revan.
"Revan!" pekik mama Diana.
Tidak tau kalau putranya hanya mencuci muka saja dan tidak berganti pakaian sama sekali, dia masih terlihat seperti gengster yang mengerikan.
"Sudah biar saja ma, yang penting dia mau ikut dengan kita." papa Riko tidak mau ambil pusing melihat penampilan Revan.
Dari pada beliau protes berujung dia dan Revan bertengkar lagi, sampai berakhir tidak jadi menemui keluarga abi Gilang.
"Tapi pa, bagaimana nanti pendapat orang tua calon istri Revan? Juga pendapat gadis yang akan menjadi istri Revan nanti melihat pakaiannya tidak sopan sekali." ucap mama Diana sambil menatap Revan dan suaminya secara berganti.
"Aku tidak peduli." Revan malah yang menjawab acuh.
"Kita jadi pergi atau tidak, kalau tidak aku ada urusan lain yang lebih penting dari ini." tukas Revan lagi.
"Kita pergi sekarang!" ajak papa Riko.
__ADS_1
Dia tidak mau janjinya dengan abi Gilang yang sudah direncakan gagal, sudah berapa kali Riko mengatakan pada Gilang akan bertemu malah selalu gagal, karena Revan terus saja membuat kekacauan dan berakhir Revan selalu mendapat surat panggil dari polisi.
Revan sudah ada di dalam mobil papanya, malas sekali rasanya Revan duduk di dalam mobil itu, tapi apa boleh buat dia tidak bisa membawa motornya sendiri, papanya terus saja mengancam dirinya.