
Bismillah.
"Kamu tidak boleh masuk kelas saya hari ini!" Sentak pak Raja sebagai dosen kilir yang hari ini mengisi kelas Revan.
Lagi-lagi Revan terlambat masuk kelas disetiap perakuliah pak Raja. Anak kuliah seperti Revan tentu saja senang disuruh bolos bukan, masalah absen urusan belakangan yang penting sekarang bisa bebas dari dosen kiler.
"Terima kasih, pak." Tak ada basa basinya sama sekali Revan, dia langsung saja meninggalkan kelasnya.
"Dia mahasiswa yang tidak patut dicontoh!" sindir pak Raja saat melihat Revan akan membuka pintu kelas mereka kembali.
Sama sekali tak peduli Revan dengan teriakan pak Raja. Yang dia inginkan saat ini bebas dan tidak ada kelas. Tak satupun orang yang mengganggu dirinya, rasanya Revan ingin menemui pujaan hatinya sekarang juga.
Sayangnya Revan tau hari ini Sakira tidak ada jadwal pagi. Gadis muslimah itu akan ada jadwal kuliah siang, tak tahu bagimana seorang Revan bisa tahu jadwal kuliah Sakira.
"Ngapain gue, kantin aja dah mending." Putus Revan akhirnya.
Dia belum sempat mengisi perutnya saat di markas tadi. Teman-temannya memang kurang ajar semua, memesan makanan tapi dia tak disisakan sedikitpun.
"Cek! Nasib emang ya." Dengus Revan meras sebal.
Dia asik menikmati kesendiriannya di kantin, tidak peduli akan para mahasiswi yang kini telah menganggumi dirinya. Revan memasang tampang datarnya, tak lupa tatapan tajam yang sengaja dia suguhkan agar tidak ada satupun orang yang menyapa atau pun menegur dirinya. Revan orang yang tidak begitu suka basa-basi, jadi dia sudah paham modus para cewek-cewek kampus untuk mendekati dirinya.
"Mending gue tidur." Ide Revan yang masuk ke dalam kepalanya membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Tidak tahu saja kalu di dalam kelas pak Raja sedang marah-marah pada seluruh mahasiswanya, semua itu ulah Revan. Tapi mereka juga tak akan menyalahkan Revan nantinya.
Selesai kelas, tidak ada yang menyangka kalau pak Raja akan memberikan mereka begitu banyak tugas.
"Sialan emang pak Raja! Dikira otak gue punya robot apa? Tugas sebanyak ini, lupa dia kalau kita udah mau nyusun skripsi."
Gibran tersenyum remeh melihat Digo mengumpat kelas, coba kalau di depan pak Raja langsung tak mungkin dia akan bersikap seperti sekarang ini yang ada Digo akan sok manis di hadapan dosen kiler satu itu.
__ADS_1
"Di depan aja lo mewoh kalau sama pak Raja. Giliran dibelakang lo ngatain pak Raja. Patut dibilang muka dua sih lo." Sindiri keras Faqih.
"Idup itu kayak gue, menerima apa adanya jangan suka mengeluh."
"Idup lo kalau apa adanya ya bakal gitu-gitu aja Ir, kagak bakal berkembang nantinya." Kini Digo yang menyerang Irfan. Tadi dia sudah disemprot ketiga temannya sekaligus.
"Mending kita susual si Revan." Ajak Faqih.
4 anggota intin Revandra itu keluar dari kelas untuk mencari keberadaan ketua mereka, kelewatan Revan sudah luar biasa, seorang dosen kilerpun dia tidak ada respon kakut-takutnya sama sekali.
"Gue yakin sih Revan di kantin."
"Kita ke kanti aja." Ajak Faqih.
Para anggota intin Revandra saat memasuki kantin membuat kantin tersebut menjadi heboh, bagimana tidak para good boy tampan masuk ke kanti disaat suasana sedang ramai.
"Gila mimpi apa gue bisa papasan sama Gibran. Ui, melelah rasanya gue." Ucap seorang mahasiswi yang tadi tak sengaja berpapasan dengan Gibran.
Gia dan Sakira juga ternyata berada di kanti itu, Sakira hanya menggelengkan kepala melihat semua orang heboh di kantin melihat kedatangan Faqih dan teman-temannya.
"Udah Gia, lagipula bukan urusan kita." Sakira tidak mau melihat adiknya itu emosi. Susah kalau Gia sudah emosi apalagi sekarang gadis itu sedang palang merah indonesia, PMS.
Tatapan Gia dan Sakira tidak lepas dari abang mereka, kedua adik Faqih itu menatap curiga abangnya. Ada yang salah di wajah Faqih hingga membuat Sakira dan Gia penasaran.
Kedua gadis itu duduk dibangku kanti yang ada dipaling pojok, jadi mereka bisa leluasa memperhatikan Faqih. Sampai netera Sakira tak sengaja menangkap sosok Revan yang terlihat begitu pucat.
Dari tempat duduk Sakira, dia bisa melihat Revan terusik tidurnya saat kedatangan Faqih dan yang lain. Wajah pucat Revan terlihat jelas sekali di mata Sakira.
"Dia kenapa?" gumun Sakira pelan. "Astagfirullah Kira sadar!" sadar dia sudah memperhatikan orang yang bukan mahramnya. Sakira tau Ravan calon suaminya, tapi mereka sekarang masih belum sah sebagai suami, istri.
"Gia coba lihat muka bang Faqih, kok banyak memar sih."
__ADS_1
"Ternyata Kira juga sadar, ayo kita samperin bang Faqih."
"Ay-." Ucap Sakira tertahan baru sadar kalau kelasnya 5 menit lagi akan segera dimulai.
"Gia temuin bang Faqih duluan, aku ada kelas 5 menit lagi doesnya masuk. Assalamualaikum." Buru-buru Sakira pergi tanpa menunggu jawaban salam dari Gia.
Melihat kepergian Sakira, Gia hanya mampu menghela nafas pelan, sebelum dia juga menjawab pelan salam dari Sakira. "Waalaikumsalam." Jawab Gia.
Sakira tidak sadar kala Revan melihat keberadaan dirinya. Revan sedari tadi Memperhatiakan Gia dan Sakira. Revan tau dua gadis itu sedang menatap aneh pada Faqih.
Sampai Revan melihat Sakira terburu-buru, karena kelasnya sudah akan dimulai. Melihat Sakira yang terburu-buru, tanpa Revan sadari sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Sangat tipis sampai-sampai tidak ada yang melihat senyum Revan.
"Rev, lo kena masalah." Ucap Digo ragu.
"Why?"
"Pak Raja nyuruh lo reviwe 15 jurnal cuman dalam waktu 2 hari, isinya harus sesuai yang diharapkan pak Raja." Terang Irfan ragu.
"Gue doang, Kalian?"
"Kita juga tapi cuman 5 jurnal dong." Jawab Gibran. Revan berdecak kesal, dosennya yang satu itu memang selalu suka menyusahkan dirinya.
"Gue baru mau nyari judul udah dikasih tugas aja, kagak ada hati itu dosen." Dengus Revan sebal.
"Sabar Rev, terima nasib lo." Sahut Faqih bersuara juga akhirnya. Revan mengangkat satu alisnya mendengar perkataan Faqih.
"Tapi kayaknya yang harus sabar lo deh Qih." Sahut Revan santai. Dia menghitung 1-3 entah apa yang Revan lakukan, saat hitungan ketiga usai suara seorang perempuan memenuhi isi kantin.
"Bang Faqih!" Teriak Gia sampai membuat semua orang menutup kuping mereka masing-masing.
Gia menatap tajam abangnya, coba saja kalau ada Sakira pasti Faqih tak akan bisa berbuat apa-apa selain jujur apa yang telah terjadi. Bersama adiknya yang satu itu Faqih tidak bisa bohong. Sayang sekali Sakira ada kelas.
__ADS_1
"Apa sih dek, ini di kantin ya bukan hutan. Jadi jangan teriak-teriak." Kesel Faqih.
"Gia nggak akan teriak, kalau bang Faqih jujur, muka kenapa? Kalau nggak mau jujur biar Gia panggil mbak Sakira." Ancam Gia.