
Bismillah.
"Nak Revan kenapan pucat banget kelihatannya, kamu sakit?" tanya umi Intan lembut.
Sedari tadi beliau terus memperhatikan calon mantunya itu, sejak Revan dan Sakira masuk ke dalam rumah. Umi Intan merasa ada yang aneh pada Revan. Calon mantunya itu tidak sedang baik-baik saja.
"Eh, tidak papa umi. Revan hanya kelelahan saja." Jawab Revan sopan.
Hanya dengan orang tua Sakira, Revan bisa berlaku sopan, layaknya anak muda yang memilik tatakrama bagus. Lalu kenapa saat bersama orang tuanya Revan tak bisa berlaku sopan? Apakah benar hatinya sudah mati untuk berlaku baik pada orang tua.
Mungkin Revan lupa, seburuk apapun orang tua kita. Tak bisa dipungkirin mereka tetaplah orang tau Revan, entah kapan laki-laki itu akan tersadar.
"Umi, sudah hampir magrib Revan izin pulang dulu ya."
"Nanti saja habis magrib nak Revan, kita shalat berjamaah bersama dulu ya." Pinta umi Intan.
Dan hal itu membuat jantung Revan hampir copot, shalat? Yang benar saja. Terakhir shalat kapan saja Revan sudah lupa. Lalu bagimana dengan sekarang diminta untuk shalat berjamaah bersama calon mertua. Bukan hal ini sama saja Revan sedang berusaha untuk mempermalukan diri sendiri. Di hadapan calon mertua sekaligus calon istrinya pula.
Kalau menolak juga lebih parah lagi bukan, hanya shalat magrib. Masa Revan harus menolak sepertinya sangat tidak mungkin.
'Mati gue." Bingung sudah otak Revan untuk mencari alasan menolak permintaan umi Intan.
Allahhu akbar, Allahhu akbar.
"Alhamdulillah sudah adzan magrib, Nak Revan. Umi siap-siap dulu ya."
Buyarlah semua isi di dalam kepala Revan, kala umi Intan mengatakan adzan telah berkumandang. Padahal dia hampir saja menyiapkan jawaban untuk menolak ajakan umi Intan. Sayang sekali adzan datang diwaktu yang tidak tepat bagi Revan. Tidak bagi umi Intan, abi Gilang dan Sakira, adzan datang diwaktu yang pas dan tepat.
"Eh, iya umi." Jawab Revan pasrah.
'Nasib gue, bikin malu aja lo Revan. Mana di rumah camer lagi.' Revan mengutuk dirinya sendiri, dia telah melupakan satu hal. Keluarga Sakira orang yang taat beribadah kepada Allah.
Tak berselang lama setelah kepergian umi Intan, Sakira datang menghampiri Revan yang tengah mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Kak Revan." Panggil Sakira.
Sakira sudah lengkap menggunakan mukenya panjang untuk biasa dia pakai saat shalat. Tadi dia berpapasan dengan umi Intan. Sang umi menyuruh Sakira untuk memanggil Revan mengambil air wudhu.
"Iya." Jawab Revan tanpa disadari oleh Revan, dia menatap Sakira dengan pandangan sayup seakan meminta tolong untuk membatu dirinya.
Sakira cupuk paham akan tatapan Revan, dia juga kadang memarahi Faqih karena sering meninggalkan shalat. Faqih saja masih seperti itu apalagi Revan.
"Tak apa kak, ambil wudhu saja. Nanti abi yang jadi imam."
"Baik. Maaf." Revan berlalu dari hadapan Sakira.
Cepat dia mengambil air wudhu sebelum ketinggalan shalat. Tak butuh waktu lama Revan sudah ada di sebelah abi Gilang.
"Nak Revan mau jadi imam?" tawaran abi Gilang benar benar membuat jantung Revan seakan hendak keluar dari tempatnya.
"Au abi-" ya benar Revan bingung harus menjawab apa.
"Abi saja yang jadi imam, tadi Sakira lihat kak Revan kayaknya lagi sakit."
"Baiklah."
Lega rasanya Revan, akhirnya abi Gilang yang tetap menjadi imam shalat. Sakira, gadis itu walaupun tak pernah melirik Revan. Dia tetap membantu Revan.
Shalat jamaah telah usai, umi Intan dan Sakira tengah menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Abi Gilang menyuruh Revan makan malam terlebih dahulu barulah pulang.
Sepanjang salat tadi rasanya Revan sudah tak sanggup bergerak, untungnya dia dapat menyelesaikan shalat dengan baik. Sampai sekarang Revan belum beranjak dari tempat duduknya.
Revan sadar, dia sudah sangat jauh dengan Tuhannya. Tampa Revan sadari air mata jatuh di pelupuk matanya.
'Apakah aku pantas mendapatkan maaf dari Engaku Ya Rabb.' bisik hati Revan.
"Aku sudah terlalu jauh dari Engaku ya Rabb. Bimbinglah hamba kembali pada Engaku." Kata kata itu lolos begitu saja dari mulut Revan.
__ADS_1
Hatinya mungkin baru merasakan ketengan setelah sekian lama tidak bersujud pada sang Pencipta. Kehilangan kakaknya membuat Revan lupa akan segelanya. Ditambah lagi dia orang tuanya menyalakan dia atas kepergian sang kakak.
"Maaf, maafkan Revan. Aku tidak tahu sekarang harus bagaimana. Lalu apakah aku pantas bersandig dengan Sakira? Gadis soleha yang taat akan agamanya. Aku merasa tidak pantas Ya Rabb. Tapi aku juga mencintainya, aku memang benar-benar egois!"
Tanpa Revan sadari Sakira mendengar semua doa yang Revan ucapkan. Sakira tidak tahu kenapa hatinya begitu sakit mendengar keluh kesah Revan.
"Kak Revan, kata umi makan dulu." Akhirnya Sakira bersuara juga.
Mendengar suara Sakira buru-buru Revan menghapus air matanya. Dia terlalu gengsi menangis di hadapan Sakira, apalagi mengingat kata-katanya beberapa detik lalu.
"Kamu sejak kapan disitu?" senyum Revan merka menatap Sakira yang memggilnya untuk makan.
"Makan kak."
"Baiklah." Revan membiarkan Sakira meninggalkan dirinya. Revan jadi senyum-seyum sendiri.
Malam ini, malam paling membahagiakan bagi Revan. Dia bisa makan bersama layaknya keluarga untuh. Walaupun bukan dengan kedua orang tuanya.
Sejak lama Revan menantikan momen seperti sekarang ini dikeluarganya sayang sekali Revan tak pernah mendapathal itu semenjak kepergian sang kakak. Dari pada memikirkan dirinya kedua orang tuanya lebih suka mengurus pekerjaan mereka.
"Abi terima kasih untuk makan malamnya." Ucap Revan terdengar begitu tulus di telinga abi Gilang.
"Tak perlu sungkan Revan. Pulanglah malam ini, jangan mampir kemana-mana. Langsung pulang ke rumah." Pesan abi Gilang.
"Iya abi." Walaupun bingung atas pesan abi Gilang tentu saja dia tetap mengatakan iya. Walau ujungnya nanti entah bagimana.
Umi Intan dan Sakira memang tak mengatar Revan sampai luar, sudah malam. Tidak enak dengan tetangga pula, nanti berfikir yang tidak-tidak. Setelah makan malam juga abi Gilang mengajak Revan untuk melaksanakan shalat isya terlebih dahulu. Barulah Revan pulang.
"Revan pamit abi, Assalamualaikum."
"Waaikumsalam, hati-hati di jalan, jangan ngebut." Pesen abi Gilang.
"Hehe, iya bi."
__ADS_1
Motor Revan telah melaju meninggalkan kawasan perumahan tempat Sakira dan orang tuanya tinggal. Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan bagi Revan, setelah malam itu. Malam yang membuat awal mula kehancuran dalam hidupnya.
Tidak ada yang tau dulu Revan adalah sosok orang baik dan ramah. Gibran lah saksi semua itu, sebelum abang Egi nya tiada.