Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Bangun dari koma


__ADS_3

Bismillah.


2 Bulan berlalu seakan tidak ada tanda-tanda untuk Revan akan bangun dari masa komanya. Selama Revan koma semua orang selalu bergantian menjaga dirinya.


Mulai dari kedua orang tuanya, para sahabatnya dan Sakira. Kadang Sakira menemani mama Diana untuk menjaga Revan. Setiap malam pasti ada yang menginap di kamar rawat Revan.


Mereka semua berharap Revan cepat sadar, entahlah 2 bulan ini sekaan Revan begitu betah untuk terus lama-lama tertidur diatas brankar. Padahal dokter mengatakan Revan berangsur-angsur konidisnya membaik.


"Sakira umi tinggal sebentar ya." Pamit umi Intan sambil memegang pundak putrinya begitu lembut.


"Tapi Mi-"


"Sebentar sayang, umi ingin pergi ke toilet juga, tapi mama Diana masih ada di dalam, beliaukan baru masuk. Sementara umi sudah tidak tahan."


"Baiklah, Sakira mohon umi segera kembali."


"Tentu sayang, umi pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikusalam."


Benar, hari ini Sakira dan umi Intan menemani mama Diana untuk menjaga Revan. Biasanya pagi dan malam jadwal Revandra yang menjaga Revan. Hanya saja hari ini mereka sedang ada kelas pagi jadi tidak bisa ditunda mereka harus pergi. Maka dari itu mama Diana yang menjaga Revan.


Setelah umi Intan keluar dari ruangan Sakira tidak tahu harus melakukan apa. Untuk menatap Revan yang sedang berbaring saja Sakira rasa dia tidak sanggup. 2 Bulan ini selalu menjaga Revan, Sakira merasa ada yang aneh pada dirinya. Setiap kali tak sengaja menatap Revan jantungnya seakan berdekat dua kali lebih cepat dari biasanya.


Sakira tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu, sebelum-belumnya, dia tak pernah merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba saja tidak normal saat melihat Revan. Padahal laki-laki itu sedang memejamkan matanya, lalu bagimana saat Revan membuka mata.


Sakira tidak bisa membayangkan, mungkin dia benar-benar tidak akan pernah berani manatap Revan.


Huh! Sakira mengehebuskan nafas pelan, dia rasa umi Intan dan mama Diana begitu lama pergi ke toilet sampai sekarang belum datang juga. Padahal kedua wanita baruh baya itu belum ada 5 menit meninggalkan Sakira.


"Kenapa mereka lama sekali." Ucap Sakira.


Dia terus menatap kearah pintu kamar rawat Revan dan juga pintu toliet yang berada di kamar Revan.


Sakira yang takut terlihat begitu mengemaskan, sampai dia tak sadar ada seorang yang sedang menikmati raut cemas di wajahnya. Orang itu bahkan terseyum kecil.

__ADS_1


Setelah puas memandang kedua pintu itu, Sakira mengangkat kepalanya untuk melihat Revan sejenak.


Deg!


Baru Sakira ingin memastikan sesuatu, tapi dia malah dibuat kaget atas apa yang baru saja Sakira lihat.


"K...a...k Re....va...n...." Ucap Sakira terbata-bata saking syoknya dia melihat Revan sudah membuka matanya. Lebih syoknya lagi Sakira melihat laki-laki itu tersenyum pada dirinya.


Ya, Revan sudah sadarkan diri saat mendengar percakapan umi Intan dengan Sakira, hanya saja Revan tidak tahu miliki siapa kedua suara perempuan itu, dia bingung kenapa ada suara perempuan di dalam kamarnya. Jelas Revan begitu paham akan suara sang mama, sampai akhirnya setelah umi Intan keluar dari kamar rawat Revan, saat itulah Revan berhasil membuka matanya.


Dia merasakan sakit di kepalanya saat memaksa untuk membuak matanya, sampai mata Revan sudah terbuka semua rasa sakit yang menghampiri dirinya seakan hilang begitu saja setelah Revan melihat wajah Sakira yang pertama kali dia lihat.


Melihat Sakira yang cemas Revan bukanya berusara, dia malah menikmati wajah Sakira yang terlihat khawatir dan was-was. Revan juga mendengar perkataan Sakira kalau mama Diana dan umi Intan tak kujung datag juga.


Sampai pada akhirnya Sakira melihat dia sudah terbangun, Karena asik memandangi wajah Sakira, Revan tidak menyadari kalau gadis itu sudah melihatnya tersadar.


"Kakak Revan sudah sadar." Ucap Sakira sambil terus menunduk.


Dia benar-benar tidak punya sedikit keberanian untuk menatap Revan. Sakira juga dilatih agar tidak menatap lawan jenis sembarang begitu saja.


"Tidak! Bukan begitu maksudku. Aku bersyukur kak Revan sudah sadar, hanya saja sejak kapan kak Revan tersadar." Cicit Sakira dengan isyarat sebuah pertanyaan.


Sekarang Sakira tidak tahu harus berbuat apa, sampai Sakira dan Revan mendengar pintu kamar mandi dibukan.


Kelk!


Kedua orang itupun menoleh pada pintu toilet, Tak berselang lama muncul mama Diana. Beliau masih diambang pintu melihat Revan sudah sadar, sampai membuat mama Diana seakan lupa untuk bergerak.


"Ini sungguh nyata? Revan sudah siuman, Revan sudah sadar." Ucap mama Diana lirih, masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.


Revan menatap sang mama lekat, sedangkan Sakira beranfas lega sekali melihat mama Diana keluar dari toilet.


"Huh, syukurlah." Tanpa mama Diana sadar, beliau mengelus dadanya sendiri.


"Revan." Ucap mama Diana tertahan.

__ADS_1


"Alhamdulillah Ya Raab. Terima kasih sudah memberikan kesembuhan pada putra kami." Ucap mama Diana.


Beliau bahkan segera mendekati Revan dan Sakira. "Revan kapan kamu sadar, Nak?" tanya mama Diana lembuat.


Dan saat itu Sakira sadar bukankah sekarang mereka harus memanggil dokter terlebih dahulu. Tapi melihat mama Diana ingi berbincang pada putranya membuat Sakira mengurangkan niatnya.


"Belum lama, Ma." Jawab Revan singkat.


Mama Diana ingin sekali memeluk putranya, tapi semua itu tidak langsung beliau lakukan mengingat kondisi Revan yang baru saja sadar dari komanya.


"Mama panggil dokter dulu." Ujar mama Diana, sambil menekan tombol yang ada disampaing brankar Revan.


Ting, Ting, Ting!


Tak lama setelah mama Diana menekan tombol tersebut seorang dokter dan seorang suster datang menghampiri ruang rawat Revan.


'Cek! Padahal aku masih ingin menikmati wajah Sakira.' Revan sedikit kesal lantaran mamanya memanggil dokter.


Jadi sekarang dia tak bisa leluasa untuk melihat Sakira, "sepertinya kak Revan sudah tidak melihat aku lagi." Gumun Sakira percaya diri.


Sayang apa yang dia harapakan tidak sesuai yang Sakira inginkan saat dia ingin melihat dokter yang sedang memeriksa Revan, saat itu juga Revan terus menatap kearah dirinya.


Deg!


"Astagfirullah, kenapa kak Revan terus menatapku." Batin Sakira terus saja beristigfar dalam hatinya.


"Pasien sudah baik-baik saja, hanya tinggal menunggu masa pemulihan, mungkin butuh waktu satu minggu baru pasien boleh pulang, agar kami bisa memastikan pasien sudah baik-baik saja." Jelas dokter setelah selesai memeriksa keadaan Revan.


"Terima kasih banyak dok."


"Sama-sama bu, baiklah biar saya tinggal dulu, Mari." Pamit dokter.


Kala dokter keluar dari ruang rawat Revan, saat itu juga umi Intan baru kembali dari toilet, tidak tahu kenapa beliau begitu lama pergi ke toilet.


"Alhamdulillah, Nak Revan sudah siuman." Ucap umi Intan.

__ADS_1


__ADS_2