Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Jangan sentuh Sakira!


__ADS_3

Bismillah.


Riko sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Revan memang sudah menjadi kebaisan buruk Revan kalau sedang bertengkar dengan orang tuanya dia tidak akan pulang ke rumah selama berhari-hari.


Banyak orang yang ingin memperbaiki hubungan renggang mereka dengan kedua orang tua yang sudah merawat sejak kecil. Tidak dengan Revan bagi dia papanya sudah tiada bersama kepergian kakaknya.


Mamanya walaupun sudah ada bagi Revan tidak ada gunanya, dia lebih baik melihat sang mama diam dari pada angkat bicara.


Kedua orang tua Revan tidak akan tahu kalau Revan berada di rumah sakit. Sejak kepergian Ega kakak Revan. Kedua orang tuanya selalu menyibukkan diri dengan bekerja. Lupa kalau masih ada dirinya diantara kedua orang tua Revan.


Sebenci apapun Revan pada kedua orang tuanya, di dalam hati laki-laki itu masih berharap mama dan papanya kembali seperti dulu menyayangi Revan dengan begitu sayang. Sejak dulu Revan dan kakaknya tidak pernah dibedakan.


Dia tak akan pernah melupakan kenangan pahit yang begitu menyakitkan hati Revan. Hari itu tepat saat sang kakak meninggal dunia papa Riko juga sudah menganggap Revan tiada.


Terkadang orang tidak bisa mengontrol emosi mereka sendiri, hawa nafsu yang berhasil menguasai diri telah membuat sang pemilik tubuh lupa tujuan mereka dalam hal baik, disaat itulah sentan tertawa jahat karena telah menang dari manusia.


Hawa nafus milik kita, milik manusia itu sendiri, seharusnya kita bisa mengontrol hawa nafsu kita bukan hawa nafsu yang mengontrol atau malah setan yang mengontrolnya sungguh tidak benar. Manusia lebih hebat dari hawa nafsu mereka sendiri.


Di kediaman keluarga Faren, mama Diana mengahwatirkan keadaan putrnya. Bagaimanapun Revan tetaplah buah hati mama Diana.


Ikatan batin antara ibu dan anak masih terikat pada mama Diana. Karena sejatinya tidak akan pernah ada yang namanya mantan ibu ataupun mantan ayah. Sekalipun mantan anak.


Kata-kata mantan tidak akan pernah ada untuk orang yang memiliki darah daging sama mengalir di tubuh mereka.


"Pa Revan belum pulang juga?" tanya mama Diana pada suaminya.


"Sudahlah ma, biasanya juga anak itu 10 baru akan pulang. Papa baru dapet laporan dari anak buah papa Revan kemarin dipanggil ke kantor polisi lagi."


Wajah papa Riko terlihat begitu kusut mengingat ulah putranya yang setiap hari selalu membuat onar. Beliau terlihat menghela nafa berkali-kali.


Tidak papa Riko dan mama Diana sadar, Revan menjadi berandal seperti sekarang ini karena kurangnya kasih sayang dari mereka. Revan yang selalu disalahkan atas kepergian anak sulung mereka. Sampai mereka lupa anak bungsu mereka juga hanya seorang manusia bukan Malaikat ataupun dewa.

__ADS_1


"Kali ini apa lagi yang Revan perbuat?"


"Dia menghancurkan dagangan para pedagang kaki lima."


"Astagfirullah." kaget mama Diana.


"Anak itu benar-benar sudah keterlaluan, mama ingin Revan segera menikah dengan Sakira. Mama tidak mau tahu setelah pertemuan kita nanti mama ingin pernikahan Sakira dan Revan dipercepat." tukas mama Diana.


Bukan tanpa alasa mengapa mama Diana dan papa Riko memilih Sakira sebagai calon mantu mereka, karena kedua orang tua Revan yakin Sakira pasti bisa merbuah Revan menjadi lebih baik perlahan-lahan.


"Kita lihat nanti saja ma, tunggu Revan pulang dulu setelah itu kita tidak akan menunda lagi pertemuan dengan keluarga Gilang."


Mama Diana dan papa Riko sebenarnya sedang bersiap berangkat ke kantor setelah tadi mereka sarapan. Harusnya saat ini Ega yang sudah menggantikan posisi papa Riko di kantor mereka. Hanya saja Ega sudah pergi mendahului mereka semua.


Di rumah sakit, Rena yang mendengar kabar pacarnya masuk rumah sakit segera menjenguk Revan, kala Rena menjenguk Revan Gia juga melakukan hal yang sama.


Gia tahu Revan masuk rumah sakit dari abangnya, maka dari itu Gia sudah membawakan makanan kesukaan Revan.


Melihat Gia tidak mampir ke kamar Faqih, Sakira hanya menatap heran gadis yang sudah seperti adik bungsunya. Sakira masuk ke dalam ruang rawat Faqih.


Faqih sedang bersantai saja di ruang rawatnya, keadaan Faqih juga sudah berangsur-angsur pulih. Sebelum menemui Revan, Gibran, Digo dan Irfan sudah sempat mampir menemui Faqih mereka termasuk lama juga berada di dalam ruang rawat Faqih.


"Assalamualaikum bang." sapa Sakira ramah.


Dia berjalan mendekati Faqih, sementara Faqih masih menjawab salam Sakira dan menatap bingung belakang Sakira, karena tidak ada orang yang mengikuti Sakira.


"Pasti abang cari Gia kan?"


"Bener dek, Gia kagak itu emang? Bunda cuman nyuruh kamu kesini."


Sakira menggeleng, "Gia ikut bang, tadi juga Sakira kira Gia mau ke ruang rawat abang taunya dia malah masuk ke ruang rawat temen abang itu loh." jelas Sakira.

__ADS_1


"Bawa abang kesana dong dek."


"Emang boleh?"


Tentu Sakira tidak akan setuju begitu saja atas permintaan Faqih, dia takut dokter belum memperbolehkan Faqih untuk pergi kemana-mana.


"Boleh dek tenang aja, abang juga udah sehat kok bosen kali di sini terus."


Sakira tak lagi menjawab dia membantu Faqih duduk di kursi roda, lalu Sakira mendorong perlahan kursi roda Faqih menuju ruang rawat Revan yang posisinya tidak terlalu jauh dari ruang rawat Faqih.


Sampai di depan ruang rawat Revan, perlahan Sakira memutar kenop pintu ruangan itu, merasa ada yang datang semua orang menoleh pada ambang pintu lalu tak lama muncullah Sakira dan Faqih.


Revan sedari tadi menatap malas orang-orang yang berada di dalam ruangan saat melihat Sakira datang wajah laki-laki itu terlihat lebih berseri dari sebelumnya. Padahal ada Rena yang masih berstatu pacar Revan, Revan malah tidak senang dengan kehadiran Rena.


Gia tak sengaja melihat perubahan wajah Revan, dia menatap sebal kakak sepupunya. Sakira mendorong kursi roda Faqih agar lebih dekat dengan brankar Revan.


"Sakira lo ngapin sih kesini?" kesal Gia.


Lah! Sakira menatap bingung Gia, jelas-jelas dia membantu abang mereka mau bertemu Revan, kenapa Gia jadi sewot pada dirinya.


Rena yang kembali bertemu Sakira, benar-benar menatap tak suka pada Sakira.


"Perempuan gatel ngapain lo ada disini." Rena menatap tajam Sakira, tapi Sakira tepat tenang dan santai.


Merasa diabaikan oleh Sakira, Rena henda melakukan kekerasan pada Sakira, tangan kanan Rena yang terangkat ingin menampar Sakira melayang diudara.


Faqih dan Gia ternyata yang menghentikan pergerakan tangan Rena.


"Jangan sentuh dia." ucap Faqih dingin.


Gia menghempaskan tangan Rena kasar. "Nggak ada yang boleh nyakiti Sakira! Sakira cuman boleh gue yang yakitin dia bukan orang lain."

__ADS_1


Gia gadis yang memang berani menatap tajam Rena. Sementara Sakira tersenyum melihat Gia. Walaupun Gia sering mencari gara-gara pada dirinya, Sakira tahu Gia menyayangi dia sebagai kakak perempuan.


__ADS_2