
Bismillah.
Sepulang dari rumah Sakira hati Revan terasa begitu berbunga, dia merasa seperti tanaman yang sudah layu akibat kemarau panjang, kini sudah mekar kembali disiram air hujan yang turun setelah sekian lama tak sedikitpun terkena air.
Sejak pulang dari rumah orang tua Sakira, wajah Revan terlihat lebih segar dari sebelumnya. Tapi dia akan tetap memperlihatkan wajah datarnya pada kedua orang tua sendiri. Mungkin saat ini Revan hanya bisa berubah dan bersikap baik di hadapan Sakira dan kedua orang tua gadis itu. Acara pernikahan Revan dan Sakira akan dilaksankan satu bulan lagi, semua sudah sepakat untuk melaksanakan acara pernikahan Sakira dan Revan satu bulan lagi. Acaranya juga akan digelar secara publik tanpa disembunyi-sembunyikan.
Sakira tidak dapat menolak keinginan Revan, agar acara mereka digelar secara tidak publik. Tidak bisa menolak kemauan Revan, laki-laki itu terlalu memaksa Sakira hanya bisa pasrah saja.
"Bahagia banget kayaknya yang mau nikah, sebelumnya aja nolak-nolak perjodohan." sindir pak Riko.
Sayangnya putra pak Riko yang hanya tinggal sematawayang itu pura-pura tidak mendengar perkataan papanya, dia seakan tuli menutup kupingnya rapat-rapat agar tidak mendengar perkataan sang papa. Tak lupa Revan juga menutup kedua matanya malas berdebat dengan pak Riko, papanya.
Melihat Revan pura-pura tidur, pak Riko jadi geram sendiri. Apalagi perkataannya seperti dianggap angi lalu oleh Revan.
"Dasar anak kurang ajar!" Maki papa Riko.
"Sabar pa, biarkan saja dulu Revan." Mama Intan berusaha menenangkan suaminya.
"Anak ini kalau terus dibela bakal ngelunjak ma."
"Papa tau mama tidak pernah membela Revan."
Perdebatan suami istri itu akhirnya usai juga, setelah keduanya saling diam satu sama lain untuk meredakan emosi. Untuk papa Riko dan sang istri saling mengerti, beda urusan jika laki-laki paruh baya itu berhadapan dengan putra keduanya. Pasti akan berada argumen satu sama lain, saling melempar tatapan tajam satu sama malin juga, tidak ada yang mau mengalah ditantara keduanya.
"Papa jadi merasa tidak enak pada pak Gilanga ma, putri mereka begitu solehah bagimana jadinya jika bersanding dengan Revan." Ucap papa Riko sambil melirik putranya dari kaca mobil.
Mama Intan terdiam, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh papa Riko, Revan dan Sakira bagikan emas dan batu kerikil paling kecil yang tidak ada artinya. Jika batu kerikil masih bisa untuk membuat pondasi dan mendirikan rumah, maka beda cerita untu batu kerikil yang diibaratkan pada Revan. Mungkin hanya sebuah batu kerikil yang tak berarti sedikitpun.
Revan masih bisa mendengar jelas obrolan orang tuanya, kali ini dia setuju dengan sang papa. Apakah dia pantas untuk Sakira yang hampir bisa dikatakan sempurna. Walaupun sesungguhnya tak ada manusia yang sempurna.
"Papa benar, apa aku pantas untuk Sakira?" Revan bertanya dalam benaknya pada diri sendiri.
Laki-laki 23 tahun itu memang sedikit egois, mau bagaimana lagi dia terlanjur menaru hati pada Sakira, Revan bisa menyembunyikan jati diri yang sebenarnya pada Sakira. Revan mungkin lupa sebuah pesan yang disampaikan oleh pepatah.
__ADS_1
Sebaik-baiknya kamu menyimpan bangkai pasti baunya akan tercium pula, begitu juga hal buruk. Sebaik-baiknya kamu menyembunyikan keburukanmu pasti akan terungkap pula. Allah itu Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Allah tidak akan tertipu oleh manusia. Yang ada manusia tertipu oleh tipu daya syaiton.
Tak terasa akhirnya Revan dan kedua orang tuanya sudah sampai kembali di rumah mereka. Revan langsung turu dari dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia begitu fokus pada hpnya.
Revandra grup.
"Kumpul di markas sekarang!" Gibran.
"Ada apa Gib? Kalau nggak ada hal penting gue ogah dateng capek." Ifran.
"Kumpul aja Irfan!" Faqih.
"Terjadi sesuatu?" Revan.
"Ada yang nantangi bos." Digo.
Setelah membaca pesan yang dikirim oleh Digo Revan tak lagi membuka hpnya, cepat dia kembali memasukan benda ajaib itu di dalam saku celananya. Revan segera masuk ke dalam rumah lalu dia menyambar kunci motornya yang tadi Revan letakan sembarang di atas meja. Setelah itu Revan kembali keluar rumahnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun pada kedua orang tuanya.
"Revan mau kemana kamu!" ucap papa Riko penuh penekan.
"Anak itu sepertinya harus diberi pelajaran!"
"Kita masuk dulu pa."
Tak butuh waktu lama bagi Revan untuk sampai di markas gengnya, dia sudah sampai di depan markas. Lamgsung saja Revan menerobos masuk ke dalam tanpa babibu, mata Revan sudah memerah. Dia sedari tadi menahan amarahnya.
Ya, Revan paling tidak suka kalau ada yang menantang gengnya. Revan menganggap mereka yang menantang Revandra sendang meremehkan orang-orang di dalam kelompok Revandra.
Brak!
Tendangan keras yang Revan lakukan pada pintu markas untung tidak menghancurkan pintu tersebut. Orang yang ada di dalamnya juga terlonjak kaget.
Hanya ada Faqih dan Gibran di dalam tidak ada orang lain, Irfan dan Digo belum sampai entah kemana perginya dua orang itu.
__ADS_1
"Siapa yang nantang?"
"Atras Rev!"
"Sial!" sentak Revan.
"Mereka nantangi apa? cari mati memang orang-orang!" Maki Revan.
"Mereka nantang balapan Revan, tapi yang kalah harus mau mundur dari dunia gengster." jelas Faqih.
Revan tersenyum licik, dia sudah paham siasat dari geng Atras, mereka menyerahkan diri pada orang yang salah.
"Mau bermain-main dengan Revandra rupanya, sepertinya berita kehancuran geng Atma tidak sampai ketelinga orang-orang Atras." gumun Revan.
Senyum licik yang terbit dikedua sudut bibir Revan sudah membuat merinding Faqih dan Gibran yang berada didekat Revan. orang-orang Revan saja takut melihat senyum licik nan mematikan yang terbit dari bibir Revan.
"Gibran terima tawaran mereka." Titah Revan.
"Tapi Rev, apakah tidak akan merugikan anggota kita?"
"Benaer Rev, apalagi kalau mereka punya rencana lain." Sambung Faqih meneruskan perkataan Gibran.
"Kalian tenang saja, kalau mereka punya 100 cara maka gue punya 1000 cara maka bersiaplah dan terima tawaran mereka sekarang."
"Baik."
Gibran sebagai wakil hanya bisa mengiakan keputusan dari ketua mereka. Selama ini Revandra emang selalu ada diatas dan tidak pernah mengecewakan.
"Nanti malah balapaan akan dimulai."
"Sip, ingatkan anak-anak agar tetap waspada banyak kemungkinan yang akan terjadi nanti malam, musuh pasti akan memanfaatkan waktu nanti malam."
Setelah perbincangan serius Revan, Gibran dan Faqih. Barulah Digo dan Irfan sampai. Ketiga orang yang berada di dalam markas menatap tajam Irfan dan Digo.
__ADS_1
Sedangkan kedua orang itu sama sekali merasa tidak bersalah atau membuta salah apapun di hadapan ketiga teman mereka.