Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Tidak sia-sia


__ADS_3

Bismillah.


Faqih akhirnya sudah diizikan pulang, hari ini hanya ayah Banu dan abi Gilang yang menjemput Faqih di rumah sakit.


Gia, Sakira, bunda Erna dan umi Intan sedang membuat makan di rumah orang tua Faqih untuk menyambut kepulangan Faqih dari rumah sakit. Tidak hanya itu saja bunda Erna dan ayah Banu sudah berniat melakukan syukuran nanti malam atas keselamatan Faqih.


Sejak 3 hari yang lalu Revan diam-diam menumbuhkan dingin pembatas pada Faqih, karena kata-kata yang keluar dari mulut Faqih hari itu. Gibran, Irfan dan Digo tidak menyadari jika Revan dan Faqih sedang perang dingin, lebih tepatnya Revan sendiri yang memasang dinding pembatas pada Faqih.


Faqih juga menyadari apa yang Revan lakukan, dia hanya berpura-pura diam saja dan tidak tahu apa yang Revan lakukan.


Revan itu terlalu keras kepala, kalau sudah batu memang sudah dibilanginnya kecuali kalau sabar seperti air hujan yang terus menerus membasahi batu kerasa, sampai batu yang amat keras itu tadi akhirnya menjadi lunak oleh air hujan bahkan sampai hancur setelah berpuluh-puluh tahun terkena air hujan.


"Om boleh kita ikut." ucap Irfan tidak tahu malu.


Irfan paling paham sekali, kalau di rumah Faqih pasti akan ada makan banyak. Lumayan lah ya makan gratis tanpa memerlukan uang sepeser pun.


"Boleh, kebetulan nanti malam di rumah mau ada pengajian siapa tahu kalian semua mau ikut."


"Faqih setuju usulan ayah, biar mereka semua ikut." Faqih lebih dulu berkata sebelum Gibran ataupun Revan mengeluarkan kata-kata penolakan.


Kalau sudah seperti ini mereka berempat tidak dapat menolak lagi, apalagi si Revan kan ada abinya si Sakira juga.


Selesai beres-beres semuanya mereka semua segera meninggalkan rumah sakit menuju rumah Faqih.


Revan dan yang lainnya mengendarai motor mereka masing-masing menuju rumah orang tua Faqih. Sedangkan Faqih bersama ayah Banu dan abi Gilang berada di dalam mobil.


Revan, Gibran, Digo dan Irfan mengikuti perlahan-lahan mobil orang tua Faqih, sebenarnya tangan mereka sudah gatal ingin ngebut tapi harus jage imang masing-masing.


Apalagi di depan Digo dia berhadapan dengan ayah Faqih yang artinya ayah Gia juga. Tentu Digo harus jadi anak baik. Begitu pula pada Revan, dia ingin terlihat baik di depan abi Gilang.


Walaupun sudah berapa kali saja, Revan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan abi Gilang, umi Intan dan Sakira. Sejujunya malu yang Revan rasakan masih sampai saat ini.


Tadi itu sebenarnya Revan ingin ikut naik mobil saja, dia urungkan karena mengingat harus berada satu mobil dengan Faqih.

__ADS_1


Revan masih sangat malas bertegur dengan Faqih. Dia masih kesal apa lagi mengingat Faqih mengatakan dengan terang-terangan Sakira milik Faqih.


Ditambah lagi Sakira terlihat sangat menyayangi Faqih, lalu yang Revan tahu juga Sakira dan Faqih hanya sekedar sepupu yang artinya mereka bisa menjalani hubungan.


Huh! Revan menghela nafas kasar, kalau mengingat tentang Sakira dan Faqih rasanya otak Revan seperti ingin pecah. Dia juga sangat ingin marah besar.


Entah apa sebabnya Revan tidak terima Sakira jadi milik Faqih. Terlihat jelas sekali disetiap Faqih menatap Sakira itu seperti Faqib menatap Gia.


Mereka akhirnya sampai di rumah Faqih. Rumah kedua orang tua Faqih memang tidak semewah rumah milik orang tua Revan.


Bagaimana rumah orang tua Revan tidak begitu indah, mereka saja orang terkaya nomor satu di pula jawa, walaupun tidak se Indonesia.


"Assalamualaikum." ucap salam abi Gilan dan ayah Banu diikut oleh semuanya.


Para laki-laki itu sudah turun dari kendaraan mereka masing-masing, sekarang mereka sudah berada di depan pintu masuk rumah orang tua Faqih.


"Waalaikumsalam." jawab orang dari dalam.


Sakira membuka pintu rumah orang tua Faqih, dia tidak tahu kalau teman-teman Faqih akan ikut juga ke rumah untung saja Sakira yang tadinya tidak menggunakan hijab saat di rumah sekarang rambutnya dan seluruh tubuhnya sudah tertutup hijab sempurna.


Revan yang melihat Sakira begitu senang saat Faqih sudah sembuh rasanya tak terima, sayangnya Revan tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa menahan amarahnya.


Lagipula Revan tidak ada hak untuk Sakira, jadi Revan hanya bisa diam sambil pura-pura tersenyum yang aslinya hati Revan begitu kesal.


Sakira mengajak mereka semua masuk, bunda dan yang lainnya sudah menunggu ke pulangan Faqih.


"Bang Faqih." Gia berlari memeluk tubuh abangnya.


Dia begitu rindu berdebat dengan Faqih, selama Faqih berada di rumah sakit Gia lebih sering minap di rumah Sakira dan menjadikan gadis itu sebagai sasaran kenalan Gia.


"Bang Faqih sudah pulang jadi Gia jangan ganggu Kira lagi." ujar Sakira.


Buru-buru Gia melepas pelukannya pada Faqih lalu berakhir menatap tajam Sakira, mana mungkin Gia tidak menjahli Sakira.

__ADS_1


"Gia tidak janji, kalau ada dua kenapa harus satu."


Digo merasa gemas sekali melihat tingkah Gia, ingin sekali dia mencubit pipi gadis itu. Sementara Revan malah fokusnya pada Sakira sendiri tadi.


"Mumpung sudah pada disini ayo kita makan, bunda dan umi ditolong Sakira sama Gia udah masak banyak." ajak bunda Erna.


"Gaslah bun kalau masalah makan, kita nebeng bolehkan." ucap Digo tampa malu.


"Gue yang malu Digo!" kesel Gibran.


"Gue lebih malu lagi." sahut Revan.


"Sudah tidak apa kebetulan hari ini masak banyak."


Digo dan Irfan bersorak gembira dalam hati mereka yang membuat Revan, Gibran dan Faqih menggelengkan kepala mereka.


Di dalam otak Digo dan Irfan hanya makan yang paling mereka prioritaskan. Siapa yang tidak senang dapat makan gratis bukan.


"Inget ya kagak gratis buat lo berdua, cuci piring setelah makan." ancam Faqih.


"Kagak asik bener lo Qih, masa cuman gue sama Digo doang yang suruh cuci piring, si Revan sama Gibran kagak?"


"Mana benari gue." sahut Faqih.


Setelah perdebatan yang diciptakan Faqih dan teman-temannya mereka akhirnya berakhir di meja makan dulu.


Entah apa yang terjadi sepertinya keberuntungan memang berpihak pada Revan, karena dia duduk tepat di hadapan Sakira yang diapit oleh Faqih dan Gia.


'Nggak sia-sia gue ke rumah si Faqih ngeseli.' batin Revan sambil menatap Sakira sekilas dengan senyum yang terukir jelas disudut bibirnya.


Sebelum ada yang melihat dirinya sedang menatap Sakira, Revan berpura-pura tidak menyadari jika Sakira duduk di hadapan dirinya.


"Ayo makan." ajak bunda Erna.

__ADS_1


Sebelum bunda Erna menawarkan mereka semua sudah menciduk makan masing-masing. Bunda Erna bahagia melihat Faqih bisa mendapatkan teman seperti Revan dan yang lainnya, walaupun beliau tidak tahu seperti apa aslinya para pemuda di depan bunda Erna dan umi Intan saat ini.


__ADS_2