Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Putus


__ADS_3

Bismillah.


Gia dan Rena saling melempar tatapan tajam satu sama lain, Gia tidak ada takut-takutnya sama sekali pada Rena. Kesal sekali dia karena perempuan yang tidak Gia kenali sudah berani kasar pada Sakira.


"Lo siapa sih bocah." kesal Rena.


"Mbak dia buka bocah, mbak sama Gia sama loh tingginya." ujar Sakira memang benar faktanya.


Cek! "Menyebalkan sekali."


Lalu Rena mentap Revan berharap saat ini laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya itu mau membela dirinya, sayangnya harapan Rena seakan pupus begitu saja. Karena Revan tak peduli, Revan malah seperti menikmati pertengkaran dia dan Gia.


Lalu ketiga teman Revan yang lainnya pun hanya menonton saja tanpa berniat membantu Rena, mereka enggan membuka suara sama sekali malah.


"Yang kok kamu nggak belain aku sih." kesel Rena.


"Astaga mau muntah gue." ucap Irfan reflek.


Mereka semua mengira kalau Irfan pura-pura mau muntah mendengar perkataan Rena yang memanggil Revan dengan embel-embel sebutan 'Yang' artinya sayang mungkin pada kalimat yang Rena ucapkan.


"Sama gue juga mau muntah Ir." sahut Digo.


Yang membuat mereka semua tercengang rupanya Irfan benar-benar mau muntah, dia bahkan berlari ke kamar mandi yang kebetulan ada di ruang rawat Revan.


"Lah dia beneran muntah dong." cengo Faqih dan yang lainnya.


Sampai-sampai Sakira pun menatap tak percaya Irfan, disaat momen seperti ini orang-orang sedang tidak memperhatikan dirinya. Revan mencuri-curi pandangan melihat wajah Sakira.


Baru kali ini Revan melihat gadis pesek begitu cantik, biasanya orang cantik akan identik pada perempuan yang memiliki hidung mancung. Sakira berbeda dia justru cantik karena hidunganya pesek.


"Cantik." ucap Revan pelan sekali.


Dia sendiri entah sadar atau tidak jika telah memuji Sakira. Mungkin hati Revan sudah terganti dengan Sakira. Bukan lagi gadis yang dulu begitu Revan cintai, tapi tidak bisa mendapatkan gadis itu. Sampai hari ini mungkin rasa cinta itu hilang setelah bertemu Sakira. Gadi yang menurut Revan berbeda dari gadis kebanyakan.


Irfan sudah kembali dari kamar mandi, dia menatap heran semua orang. Yah, sekaan Irfan sudah lupa apa yang baru saja terjadi.


"Kalian semua pada ngapa dah?" bingung Irfan.

__ADS_1


Gibran menoyor pala Irfan sedikit kuat, "Seharusnya kita semua yang nanya sama lo kenapa?"


"Eh, hehehe kagak gue cuman pengeng muntah aja."


Mendengar penjelasan Irfan mereka semua menggeleng tak percaya. Sakira melihat jam ditanganya sudah pukul 7:30 dia harus pergi.


"Bang balik sama Gia ke kamar ya, Sakira buru-buru ada kesal pagi. Sakira pamit." ucap Sakira sambil menyalami punggung tangan Faqih tak lupa Sakira juga menyodorkan tanganya pada Gia.


Gia gadis plinplan itu mencium begitu saja punggung tanga Sakira. Sebelum dia sadar kelakuannya sendiri.


"Semuanya Sakira duluan ya, Assalamualaikum." pamit Sakira.


"Waalaikumsalam." jawab mereka semua kecuali Rena.


Nyatanya bukan hanya Revan yang terpesona pada Sakira, Gibran dan Irfan pun terpesona pada Sakira.


"Nggak usah ditatap terus orangnya juga udah pergi." sindir Faqih.


Sejujurnya Faqih bukan menyendiri Irfan dan Gibran. Lebih tepatnya Faqih sedang menyindir Revan, sedari tadi Faqih sadar kalau Revan terus mencuri pandangan pada Revan.


Faqih tak akan memberikan adiknya jatuh pada tangan laki-laki yanh salah, apalagi Faqih sangat mengenal seperti apa Revan. Laki-laki yang selalu ganti pacar setiap bulannya.


Gia saja kalau bukan adik Faqih mungkin sudah menjadi target Revan sejak lama. Karena Revan tidak mau pertemanan mereka hancur maka dari itu Revan tak perah mempedulikan Gia.


Revan juga tau ada Digo yang akan selalu menjaga Gia. Sakit memang pasti untuk Digo mencinta tapi tidak dicintai.


Mereka lupa kalau kita tidak dapat membaca isi hati manusia, Gia suka sungguh atau tidak dengan Revan hanya Gia yang tahu perasaannya.


Gibran, Irfan dan Revan jadi salah tingkah sendiri mendengar perkataan Faqih. Mereka bertiga seperti sudah tertangkap bahasa oleh Faqih.


"Jangan macem-macem itu punya gue." ucap Faqih terdengar begitu sungguh-sungguh di telinga Revan.


'Hahahaha, mampus lo Revan kena gue kerjain. Lihat aja kalau Revan belum tahu kebenarannya dia akan terus mengira gue dan Sakira buka saudara mahrom. Seru juga ngerjai bos.' Faqih tertawa puasa dalam hatinya.


Apalagi Faqih melihat jelas perubahan raut wajah Revan. Bukan hanya Faqih yang menyadari perubahan wajah Revan tapi Rena juga.


"Sayang kamu kok kayak nggak seneng gitu kalau cewek anak itu punya Faqih." ucap Rena manja.

__ADS_1


Sedari tadi Rena berusaha menyentuh Revan, Revan malah terus menghindar.


"Pengen muntah gue." mendengar suara Irfan mereka semua waspada, siapa tahu Irfan akan benar-benar kembali muntah lagi.


"Jangan sentuh gue!" kesel Revan.


Untung Irfan tidak jadi muntah sungguh seperti tadi. Mereka semua merasa lega melihat Irfan tak jadi muntah.


"Tapi kenapa Rev? aku pacar kamu!" kesal Rena.


Gadis yang sedari tadi selalu bersikap manja pada Revan, akhirnya emosi juga Rena. Hilang sudah sikap lemah lembutnya pada Revan. Gia yang menyaksikan pertengkaran Rena dan Revan begitu senang.


"Nggak lama lagi sih ini." celetuk Digo yang membuat Gibran mengangguk setuju.


"Denger gue baik-baik Rena, mulai hari ini lo bukan siapa-siapa gue lagi. Lo udah taukan gimana resiko pacaran sama gue. Hari ini tepat satu bulan kita jadian gue Revan Farenza memutuskan untuk kita P U T U S hari ini juga." tegas Revan tak dapat dibantah.


Dia bahkan menekankan kata-kata putus pada Rena, Rena yang tadi marah jadi berkaca-kaca mendengar perkataan Revan memutuskan hubungan mereka.


"Nggak Revan! Aku...nggak...mau putus dari kamu." ucap Rena sudah menjatuhkan air matanya.


Gia semapat menatap iba Rena, dia sebagai perempuan tak tega melihat Rena dipermalukan oleh Revan. Mau bagaimana lagi Gia terlanjur kesal pada Rena karena mau kasar pada Sakira.


"Kasihan juga."


Yah, Gia memang sudah terbiasa melihat cewek diputuskan secara kasar dan tidak berperasaan oleh Revan.


"Keluar!" usir Revan pada Rena.


Teman-teman Revan juga tidak bisa berbuat apa-apa. Yang pertama membuat keributan juga si Rena mereka tidak bisa juga menyalahkan Revan sepihak.


"Apa gue bilang waktunya sudah tiba, lagian hari ini pas bener satu bulan si duo R ini jadian."


"Hafal bener lo Di."


"Jelas dong Qih, gue penghitungan hari jadian orang berharap gue juga bisa jadian, tapi sampai hari ini ceweknya nggak peka juga. Padahal gue udah kasih kode terus."


"Kasihan." ucap Gibran dan Irfan kompak.

__ADS_1


Siapa lagi perempuan yang dimaksud Digo kalau bukan Gia, sudah menjadi rahasia umum geng Revandra kalau Digo suka pada Gia adik Faqih yang terus mengejar Revan.


__ADS_2