Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Sindiran


__ADS_3

Bismillah. 


Para anggota Revandra yang mendengar kabar Revan sudah bangun dari koma mereka dengan kompak segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Revan saat ini.


"Ayo buru woi!" heboh Irfan.


"Sabar napa sih, kayak mau ketemu artis aja lo."Kesel Digo.


Digo adalah salah satu orang yang tidak suka di cepat-cepat, dia orang yang paling santai di Revandra.


Mereka baru saja selesai kelas dan sekarang mereka akan segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan Revan. Sakira yang memberitahu Faqih kalau Revan sudah sadar.


Semua orang sudah berada diatas motor mereka masing-masing, saat akan melajukan mesin motor masing-masing. Mereka semua mendengar suara perempuan yang memanggil nama Faqih, sudah paham sekali anak Revandra suara milik siapa yang baru saja memanggil Faqih.


"Bang Faqih." Teriak Gia, gadis itu terlihat jalan begitu buru-buru untuk menghampiri Faqih, sedangkan Faqih tak bisa pergi begitu saja meninggalkan adiknya.


"Apa?" tanya Faqih saat Gia sudah berada di hadapan mereka.


"Mau kemana?" Gia seakan sedang memata-matai sang abang, bukan apa hanya saja dia mendapatkan pesan dari kedua orang tuanya untuk mengawasi Faqih agar tidak bolos saat jam kuliah.


"Rumah sakit." Jawab Faqih singkat, yang lain malah memperhatikan obrolan Faqih dan Gia.


'Rumah sakit? Berarti mereka pasti mau ngeliat keadaan Revan dan gue yakin disana ada Kira, mending ikut aja kali ya. Udah lama banget nggak bareng Kira semenjak kecelakaan yang menimpa Revan.' Ujar Gia dalam benaknya.


Setelah mempertimbangkan cukup lama akhirnya Gia memutuskan untuk ikut bersama Faqih dan teman-temannya ke rumah sakit.


"Ikut!" tanpa persetujuan Faqih, Gia sudah naik ke atas motor Faqih.


"Apa sih dek, turun!" titah Faqih, tapi seakan tak digubris oleh Gia. Dia masa bodo amat mau Faqih marah atau tidak.


"Neng Gia, dari pada sama Faqih. Mending mas Digo bonceng aja, gimana." Tawar Digo berharap Gia mau naik motor dengnya.


Bukannya mendapatkan jawaban dari Gia, Digo malah mendapatkan tatapan tajam dari Faqih, sedangkan Gia seakan tak mendengar perkataan Digo.


"Sabar ya Digo." Ucap Irfan sungguhan kali ini bukan sebuah ejekan untuk temannya itu.

__ADS_1


"Kalau lo suka sama Gia, harus hadapin dulu abangnya." Bisik Gibran.


Dia tersenyum simpul pada Digo, Digo sekaan menerima nasihat dari Gibran.


"Cabut." Ajak Gibran yang sudah lebih dulu melajukan motor sport berwarna hitam kesayangannya.


Mau tak mau akhirnya Faqih membawa Gia ke rumah sakit. 4 orang itu membawa motor mereka masing-masing dengan melaju begitu kencang sampai membuat Gia tak habis pikir atas kelakuan abangnya dan teman-teman abangnya ini.


"Pelan-pelan bisa nggak sih bang bawa motor!" protes Gia.


Gia bahkan dengan begitu berani memukul kepala Faqih yang tertutup helm sedikit kuat. ya karena Gia kesal abangnya tidak bisa slow bawa motor.


"Stop Gia! sakit pala gue." Teriak Faqih.


Jadilah kedua kakak adik itu berantem diatas motor suara sahut-sahutan keduanya sampai membuat Irfan, Digo dan Gibran memberhentikan motor mereka.


Melihat temannya berhenti Faqih juga ikut menepikan motornya di sebelah motor Gibran.


"Lo berdua kenapa dah berantem mulu." Kesel Irfan, dia memang sedikit terganggu dengan perdebatan Faqih dan Gia.


"Kagak!" jawab keduanya cuek.


"Udah sono lo sama Digo." Faqih masih sedikit kesal dengan adiknya, karena telah memukul kepalanya dengan keras. Kalau dia tetap memberikan Gia bersamanya yang ada adiknya itu akan terus memukul dirinya, mungkin Gia tak akan berhenti memukuli kepala Faqih kalau belum puas.


"Nah, dari tadi gitu kan enak." Ucap Digo.


Dia begitu senang bisa berboncengan dengan sang pujaan hati, Gia tak membantah dia mau saja dibonceng Digo.


"Go!" seru Gibran.


Sampai di rumah sakit mereka segera menuju kamar rawat Revan, untung hari ini mereka tak membuat ulah di rumah sakit.


Beberapa hari yang lalu di rumah sakit, 4 orang itu membuat kekacauan. Sampai ditegur oleh keamanan rumah sakit, bukannya takut mereka malah tertawa bahagia, karena sudah membuat ketenangan orang lain terganggu.


Gibran membuka pintu rawat Revan sampai menimbulkan suara sedikit kuat, sehingga membuat orang-orang yang berada di dalam menoleh pada pintu keluar masuk ruang rawat Revan.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu terbuka dengan sempurna memperlihatkan Gibran dan yang lainnya baru saja tiba.


Revan menatap malas teman-temannya, aneh memang bukannya senang sakit ada yang nengokin Revan malah mengerut sebal.


'Cek! kenapa mereka harus datang sekarang sih, gue masih pengen disini sama Sakira. Kalau mereka datang udah pasti Sakira bakal pulang.' Revan mengerut sebal di dalam hatinya, dia mengutuk mereka semua datang diwaktu yang kurang tempat.


"Syukurlah lo udah sadar Rev." Ucap Irfan paling heboh sendiri.


"Ya!" jawab Revan singkat, dia menatap sengit satu persatu temannya itu. Sedari tadi sudah jengkel, karena umi Intan dan mama Diana tidak pergi-pergi. Sekarang malah kang suruh datang juga.


Gleg!


Irfan sampai menelan ludahnya kasar kala mendapatkan tatapan tajam dari Revan. Irfan merasa bukan dirinya saja yang mendapat tatapan tajam dari Revan, akhirnya menoleh kebelakang. Karena dia yang berdiri paling depan.


"Gue salah apa?" bingung Irfan meminta penjelasan.


"Datang diwaktu yang tidak tepat!" jawab Gibran datar.


Memang Gibran paling peka sekali bisa membaca situasi saat ini, Gibran tau Revan ingin lama-lama dengan Sakira. Walaupun Gibran yakin Sakira tak mau berada di dalam ruangan berdua saja dengan orang yang bukan mahramnya.


Sakira dan Gia saling menghampiri, keduanya seakan tidak peduli dengan yang lain. Tapi sebelum itu Gia menyalami umi Intan dan mama Diana lebih dulu, barulah dia mendekati mbaknya.


"Dek, kamu udah nggak ada kelas lagi?" tanya Sakira memastikan.


Gia menggeleng. "Udah nggak kok mbak."


"Bagus jangan suka bolos, kayak nggak punya aturan." Ucap Sakira sedikit keras, dia sengaja sedang menyendiri Faqih.


Kini Gia dan Sakira sudah duduk di sofa, di sebelah mama Diana dan umi Intan. Sakira memberikan ruang untuk teman-teman Revan, dia juga melakukan hal itu untuk menghindari tatapan Revan yang sedari tadi terus menatap dirinya.


"Kira tenang aja, aku nggak akan kayak gitu." Balas Gia.


Kedua orang itu memang plin plan, kadang memanggil dengan embel-embel mbak kadang juga hanya dengan nama saja. 

__ADS_1


Faqih yang berdiri didekat Revan, menajamkan pendengarannya. Dia tau kedua adiknya itu sedang membicarakan dirinya saat ini.


"Susah ya kalau kuliah ada pengawasnya, pantesan selama ini lo selalu rajin masuk kuliha." Ucap Digo sambil menepuk pundak Faqih. 


__ADS_2