Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Satu meja


__ADS_3

Bismillah.


"Adik tidak apa-apa?" tanya Sakira lembut pada anak laki-laki yang sedang dia tolong saat ini.


Anak laki-laki berwajah imut itu menggeleng, tanda dia tidak apa-apa. Hanya saja anak laki-laki itu belum berani menatap Revan.


Sakira sudah tak mempedulikan Revan lagi, bersama seorang gadis yang hanya diam mematung di sebelah Revan, sambil menatap anak kecil yang bersama Sakira kesal. Bahkan Rena menatap Sakira curiga.


Seakan Sakira sedang mencari perhatian di depan Revan. Padahal tidak sama sekali! Sakira saja tak mengenal siapa Revan? Bagaimana dia mau cari perhatian pada Revan, kalau orang dan namanya saja tidak tahu yang mana?


"Dih, pahlawan kesiangan." ucap Revan sambil menatap kesal Sakira.


Sedangkan Revan masih menatap Sakira, dia belum mengalihkan pandangan matanya dari Sakira. Sepertinya Revan tidak sadar, kalau saat ini dia sedang menatap Sakira. Tatapan yang tak bisa diartikan.


Sakira tahu gadis yang bersama laki-laki kasar di hadapannya ini sedang menyindir dirinya. Namun Sakira tak mengubris dia abai saja. Lagipula Sakira tidak mengenal dua orang yang berdiri di depannya saat ini.


"Adik ayo kakak antar ke mamanya ya." ucap Sakira lembut.


Dia sekaan lupa kalau masih ada Revan dan Rena disisinya.


Bocah laki-laki itu menyetujui usulan Sakira. Walaupun masih keci. Tapi dia bisa menilai jika Sakira orang baik.


Sambil menggandeng tangan bocah laki-laki tadi, Sakira masuk ke dalam resturan untuk membantu bocah sekitar 5 tahun ini bertemu orang tuanya.


"Adik namanya siapa?" tanya Sakira lembut.


"Arfan kak cantik."


"Masya Allah, nama adik bagus sekali." puji Sakira.


"Terima kasih banyak kakak cantik." balasnya, Sakira tersenyum pada bocah tadi.


Dia dapat melihat tidak ada lagi rasa takut yang terpancar dari muka Arfan, seperti sebelumnya saat bertemu Revan tadi.


"Arfan, mama Arfan dimana?"


"Tidak tahu kakak, tadi mama bilang mau ke toilet sebentar, tapi sampai sekarang belum kembali."


"Kita tunggu saja disini lebih dulu." usul Sakira, Arfan mengangguk setuju.

__ADS_1


Di depan restoran mewah itu, Revan masih belum melangkahkan kakinya kembali setelah kepergian Sakira.


Aneh, tidak tahu apa yang terjadi pada Revan, tapi saat Sakira pergi dari hadapannya, Revan terus saja memandang Sakira sampai tubuh gadis itu tidak terlihat lagi.


"Re, ayo makan, sampai kapan kita mau berdiri disini aja? Aku udah laper." ucap Rena.


Revan sama sekali tak mengubris ucapan Rena, dia malah melangkah masuk ke dalam restoran tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Rena.


"Revan kok aku ditinggal." Revan sedikit berteriak manja pada Revan.


Lagi dan lagi Revan tak merespon Rena. Rasanya hari ini mood Revan benar-benar hancur. Banyak hal tak terduga terjadi pada dirinya.


Dalam satu hari sudah dua kali juga Revan bertemu dengan Sakira, dengan cara tak disengaja.


Rena rasanya marah besar, karena Revan mengacuhkannya saja, laki-laki itu sekaan datang sendiri ke restoran, padahal dia datang bersama Rena yang berstatus pacar Revan.


Sudah masuk ke dalam restoran Revan tak melihat tempat kosong lagi, saking ramainya semua meja sudah penuh. Tapi Revan tak menyerah begitu saja.


Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat kosong, tak butuh waktu lama bagi Revan untuk mencari tempat duduk menggukan indar penglihatannya, Revan berhasil mendapatkan bangku kosong yang baru diisi satu orang. Sementara setiap meja berisi 4 atau 5 orang lebih.


"Revan mau kemana? Semua kursi disini sudah penuh."


Rena hanya bisa pasarah, dia tak bisa berbuat apa-apa yang dia bisa lakukan hanyalah membuntuti Revan.


Sampai di meja yang Revan lihat tadi, dia menyadari kalau perempuan yang duduk di meja sendirian ini, perempuan yang sama di depan restoran tadi.


Jadi tanpa berkata apapun Revan langsung duduk saja tepat di hadapan Sakira, gadis itu tak terusik akan kedatangan Revan dan Rena.


Sebelumnya Sakira sudah menemukan ibu dari Arfan. Setelah mempertemukan kembali ibu dan anak yang sempat Sakira bantu tadi, baru dia segera memesan makanan, rasanya pertu Sakira sudah sangat lapar.


Saat Sakira sudah selesai memesan makanannya, dia hanya melihat satu meja yang tersisa. Tanpa pikir panjang lagi Sakira langsung duduk di kursi kosong itu.


Siapa sangka dia akan kembali bertemu dengan Revan, laki-laki yang amat menyebalkan bagi Sakira.


Baru dua kali Sakira bertemu Revan, gadis itu sudah harus bersabar. Bagaimana kalau Sakira tahu nanti jika calon suaminya Revan.


Hmmm.


Sengaja sekali Revan berdehem, agar Sakira mengangkat kepala untuk melihat kehadiran dirinya. Sakira tak pengaruh sama sekali atas trik yang dilakukan oleh Revan.

__ADS_1


'Gadis ini menarik, beda dari gadis kebanyakan.' batin Revan.


"Yang ayo pesan." ajak Rena. Sedari tadi dia menahan kesalnya, karena Revan terus saja menatap Sakira.


"Oke, Mbak." panggil Revan pada salah satu karyawan yang sedang bertugas.


"Menunya." ucap Revan.


Karyawan itu segera memberikan menu pada Revan. Lalu setelahnya Revan maupun Rena segera memesan makan mereka.


"Yang saya dan pacar sebutkan barusan saja mbak." ucap Rena.


"Baik mohon ditunggu."


"Jangan pake lama." Revan sedikit berteriak, karena karyawan tadi sudah sedikit jauh.


Sejenak setelah teriak Revan barusan, kini dia jadi pusat perhatian di dalam restoran.


"Kenapa lo semua ngeliatin gue kayak gitu!" bentak Revan pada seluruh pengunjung restoran.


Sakira yang sedari tadi tak menggubris Revan. Kini mengangkat kepalanya mendengar suara Revan yang sedang memarahi para pengunjung. Sebelum bersuara Sakira menatap sekeliling. Ternyata para pengunjung restoran sedang menatap Revan.


"Kalau kamu tidak mau dilihat semua orang makan jangan bikin gaduh, jangan bikin onar." ujar Sakira.


Setelah mengatakan hal itu pada Revan, dia kembali fokus pada kegiatannya.


"Heh mbak! Jangan ikut campur ya, ini urusan pacar saya." kesal Rena.


Lagi-lagi Sakira tak menggubris ucapanya, membuat Rena semakin kesal pada Sakira.


"Woi gadis aneh, lo dengarkan apa yang gue bilang!" marah Rena.


"Mbak bicara sama saya?" tanya Sakira menjunuk dirinya sendiri.


"Lo!" Marah Rena tertahan.


Sementara Sakira hanya mengangkat bahunya acuh saja. Revan tak berusara dia malah memperhatikan gerak-gerik Sakira dan Revan.


Merasa aneh Revan melihat Sakir. Menurut Revan, Sakira gadis yang begitu pandai menghadapi suatau ancama. Sakira begitu tenang berhadapan dengan orang yang sedang mencari gara-gara padanya.

__ADS_1


Para pengunjung restoran juga sudah tidak memperhatikan Revan lagi. Mereka semua sudah kembali fokus pada makaan mereka masing-masing. Sempat terjadi kegaduhan sejenak di restoran, alhamdulilah suasana sudah kembali normal seperti semula. Seakan tidak ada hal yang terjadi.


__ADS_2