
Bismillah.
Acara hari ini terasa sangat melelahkan bagi Sakira, karena acara akad dan resepsi digabung jadi satu. Hal tersebut membuat Sakira tidak bisa beristirahat dengan baik karena harus meladeni banyak tamu undangan yang datang.
"Kamu, lelah?" tanya Revan khawatir kedua bola matanya terus menatap istrinya.
"Insha Allah, Sakira masih kuat kak," balas Sakira, berusaha tersenyum pada Revan walaupun sebenarnya malu.
"Baiklah, kalau kamu sudah tidak kuat katakan." Revan mengelus pucuk kepala Sakira yang tertutup hijab.
Perlakuan manis yang ditunjukkan oleh Revan membuat Sakira tersipu malu. Selama ini tidak ada laki-laki yang melakukannya secara spesial. Itu karena Sakira memang senantiasa menghindar dari laki-laki yang bukan mahramnya.
Banyak orang merasa iri karena Sakira yang menjadi istri Revan terutama para mahasiswi yang mengidolakan ketua Revandra itu.
"Huh! Untung si Revan yang nikah bukan Gibran, kalau Gibran sih aku pasti patah hati banget."
"Heh! Siapa lo buat Gibran, tapi benar juga kalau Faqih yang nikah bakal patah hati."
"Hus! Kalian semua diam, aku lagi patah hati ini, Revan, ku sudah menikah."
"Tidak disangka-sangka, selera Revan modelan kayak gitu."
"Memangnya kenapa? Jelas Sakira lebih cantik daripada, lo. Kemana-mana juga Revan sama Sakira cocok, daripada sama lo tidak nggak cocok banget."
Komunitas orang yang tahu bahwa Revan dan Sakira sudah menikah memberikan komentar yang beragam. Ada yang mendukung, ada juga yang julid.dan ada pula yang menyayangkan Sakira gadis baik harus menikah dengan Revan yang berpenampilan seperti gengster.
Waktu terus berlalu, hingga akhirnya sore hari tiba. Revan dan Sakira pun beristirahat di kamar Revan yang juga kini sudah sah menjadi milik Sakira pula.
"Bunda, ingin ketemu dengan mbak Sakira boleh? Dari tadi sibuk dengan tamu aja dia," keluh Gia karena sejak tadi dia terus mencarinya dan tidak menemukannya padahal Sakira sudah selesai menyambut tamu.
"Gia, ikut saja dengan kita, Dek. Jangan ganggu mbak Kira, dia pasti lelah ingin istirahat," Faqih mengajak adiknya bergabung dengannya dan anggota Revandra setelah mendengar keluhan Gia pada bunda.
__ADS_1
Tentu saja, saat ini Sakira sedang bersama suaminya di kamar. Mereka mungkin sedang beristirahat atau melakukan kegiatan lainnya.
"Apa sih, Bang?" tanya Gia ketika sampai di ruangan dimana Gibran, Digo dan Irfan sedang menikmati banyak makanan di acara pernikahan Revan dan Sakira.
"Ikut aja sih, dek! Nggak usah banyak protes."
"Hmmm," Jawab Gia singkat. Malas meladeni abangnya.
"Jutek sekali, tapi kalau seperti itu kamu menjadi semakin cantik, saja Gia." Goda Digo, sayangnya Gia sedang malas bicara, sehingga dia tidak merespon Digo dan malah ikut makan seperti yang sedang dilakukan Irfan, Gibran dan Digo.
"Ada apa dengan, adikmu, Qih? Dia terlihat kesal," tanya Digo yang penasaran.
"Mau ketemu Sakira, dia. jadi aku mengajaknya kesini. Kalau dia bertemu dengan Sakira, pasti Revan akan marah padaku."
"Iya, kamu harus makan yang banyak, agar tidak merasa stress," ujar Gibran memberi saran yang baik pada Gia.
Tidak memperdulikan Digo dan Faqih.
"Thanks," akhirnya Gia dan Faqih juga ikut menikmati banyak makanan yang tersedia di acara pernikahan Sakira dan Revan.
Mungkin Sakira mengira Revan yang membereskan kamar tersebut. Padahal, Revan jarang menempati kamar itu, tetapi kamar tersebut selalu tertata rapi
"Kamu ingin mandi dulu, atau langsung istirahat?" tanya Revan lembut pada Sakira.
Deg!
'Ya Allah, kenapa Sakira jadi takut gini sih satu ruangan cuman berdua sama kak Revan, padahalkan dia suami, Sakira.' Ucap Sakira dalam hatinya.
"Sakira, ada apa denganmu?" tanya Revan khawatir karena tak mendapatkan jawaban dari Sakira.
"Eh, heheheh. Sakira tidak apa-apa, Kak. Sakira ingin mandi dulu ya," ucap Sakira canggung.
__ADS_1
Apalagi saat ini jarak Sakira dan Revan begitu dekat. Jujur saja, Sakira merasa malu, dia yakin pipinya saat ini sudah memerah karena malu.
"Iya, tapi pipimu kenapa memerah? Kamu sakit," ujar Revan yang merasa prihatin.
Sakira bisa merasakan bahwa Revan sedang khawatir dengan kondisinya. Hal itu membuat Sakira tertawa geli.
"Tidak, Kak. Kira tidak sakit kok. Sudahlah, Sakira ingin mandi dulu ya," kata Sakira tanpa rasa canggung seperti saat dia baru sampai di dalam kamar Revan.
"Oke."
Segera Sakira masuk ke kamar mandi, tetapi dia lupa membawa handuk dan pakaian ganti miliknya. Tambah malang nasib Sakira resleting baju penggantinya juga belum di buka.
"Gimana ini, aku tidak bisa membuka bajuku," keluh Sakira.
"Kamu harus meminta tolong pada Kak Revan," putus Sakira pada akhirnya, dia tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.
"Loh, kamu tidak jadi mandi?"
Sakira tidak menanggapi ucapan Revan. Malah, dia mendekat dan menuju ke tempat Revan berdiri dengan kepalanya menunduk. Revan hanya memperhatikan istrinya.
"Kak," ucap Sakira ragu.
Revan lalu mendongak, tepat saat itu mata Sakira dan matanya bertemu, Revan seakan mengunci tatapan mereka, membuat Sakira merasa lebih canggung saja.
"Kalau begini, gimana cara Sakira ngomongnya dengan kakak Revan?" akhirnya Sakira mencoba mengedipkan kedua matanya sebagai usaha untuk meredakan ketegangan dalam hatinya.
"Ada apa?" tanya Revan dengan suara lembut miliknya yang tidak pernah Sakira dengar sebelumnya, suara Revan yang terdengar lembut membuat jantung Sakira berdebar lebih kencang.
"Bismillah," gumam Sakira pelan, ia merasa perlu berani meminta bantuan kepada Revan untuk membuka resleting gaun yang ia kenakan.
"Kak, bisa tolong membukakan resleting baju, Kira?" kata Sakira canggung, merasa tak enak hati meminta tolong pada Revan.
__ADS_1
Revan berdiri dari duduknya, "Sini, kamu berdiri menghadap ke sana," Ujar Revan. Sakira pun memposisikan dirinya membelakangi Revan.
"Terima kasih, kak."