
Bismillah.
Sejak hari itu hidup Revan benar-benar hancur, dia sendirian. Jika watu bisa diputar kembali Revan ingin dialah yang pergi untuk selama-lamanya bukan sang kakak.
Sampai akhirnya Revan mengajak Gibaran, sahabatnya sejak lama untuk membentuk sebuah geng. Sampai saat ini nama Revandra begitu dikenal dikalangan gengster.
Kenangan-kenangan sejak Revan berubah seakan tak berhenti dari kepala Riko. Dia sadar semua ini salah dirinya.
"Om, makan dulu." Buyar semua yang dipikirkan oleh Riko saat mendengar ada seorang yang mengajaknya berbicara.
Sejak tadi pagi kedatangan mereka di rumah sakit, belum ada satupun orang yang mengajak Riko mengobrol, istrinya? Mama Diana bahkan tak sempat menenangkan diri kalau tidak ada Sakira disisinya.
Riko membuka matanya yang sedari tadi terpejam, dia tidak tidur hanya sedang mengingat seberapa jahatnya dia pada Revan.
Melihat Gibran dan ketiga temannya yang lain berdiri di hadapannya papa Riko berusaha untuk memberikan sebuah senyum.
"Terima kasih Gibran." Ucap Riko masih berusaha menahan senyumnya.
Mendengar suara sang suami mama Diana seakan baru tersadar, kalau suaminya juga sedang terpukul. Tak jauh beda dengan papa Riko, mama Diana juga mengingat semua kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya untuk dia tujukan pada Revan.
"Kamu pembunuh Revan." Ya, kata-kata yang amat menyakitkan hati itu seharusnya tidak terlontar dari mulut seorang ibu dan ditujukan untuk anaknya.
Menyesal? Tentu saja menyesal karena kata yang begitu menyakitkan hati bisa keluar dari mulutnya sendiri.
"Aku memang bukan ibu yang baik untuk Revan." Gumun mama Diana yang masih terdengar jelas di kuping Sakira.
Mama Diana bangkit mendekati suaminya, semua orang dapat melihat jelas tatapan kosong papa Riko yang mengarah pada putranya masih terbaring tak berdaya diatas brankar sana.
"Papa." Ucap mama Diana lirih.
Papa Riko mendongak untuk melihat istri yang begitu dia cintai. Gibran, Faqih, Digo dan Irfan seakan tau apa yang akan terjadi keempat orang itu memberi ruang untuk kedua orang tua Revan.
Tanpa basa-basi lagi kedua orang tua itu saling memeluk dengan erat untuk menguatkan satu sama lainnya.
"Mama Jahat pa, mama Jahat dengan Revan." Ucap mama Diana paruh.
"Papa.... Juga... Ma-." Papa Riko seakan tak sanggup berbicara suaranya tertahan ditengorkan.
Sakira gadis satu-satunya di dalam ruang rawat itu, hanya menatap sejenak kedua orang tua Revan, setelah itu dia fokus pada kegiatannya sendiri untuk berdzikir. Sebenarnya Sakira kurang nyaman berada di tempat itu, Revan bukanlah mahramnya disisi lain ada teman-teman Revan pula.
Lagi dia tidak punya keberanian untuk mengatakan pada mama Diana bahwa dirinya ingin pulang sebentar, Faqih juga sebagai abang seakan melupakan adiknya itu.
__ADS_1
"Om, tante. Maaf bila saya lancang. Om dan tante pergi beristirahatlah dulu, saya dan yang lainnya akan menjaga Revan." Ucap Faqih penuh keberanian.
Mama Diana dan papa Riko seakan baru sadar satulah, mereka belum mengucapkan terima kasih pada Gibran.
"Terima kasih." Jawab keduanya.
"Gibran om dan tante mau mengucapkan terima kasih banyak." Ucap papa Riko tulus.
"Sama-sama om. Om dan tante istrihatlah. Revan juga pasti tidak ingin melihat om dan tante terpukul seperti ini. Benar kata Faqih biar kami yang menjaga Revan disini."
Lalu mama Diana menoleh pada Sakira, beliau ingin membawa Sakira ke rumahnya, tapi dia juga merasa tidak enak.
"Tapi Sa-"
"Saya akan mengatar adik saya pulang tan." Ucap Faqih sebelum mama Diana meneruskan perkataannya.
"Kamu?" mama Diana sedikit ragu, beliau memang belum tau hubungan Faqih dan Sakira.
"Iya ma, biar bang Faqih yang antar Sakira."
"Baiklah, Gibran, Irfan, Digo om titip Revan. Dan kamu Faqih om titip Sakira." Mama Diana tak bersuara lagi jadilah papa Riko yang mengambil inisiatif.
"Siap om." Jawab mereka serentak.
"Kami pergi dulu, Assalamualaikum." Pamit Mama Diana dan papa Riko.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka semua kompak.
Setelah kepergian mama Diana dan papa Riko, kini hanya Sakira perempuannya yang berada di kamar rawat Revan. Sakira ingin sekali mengajak Faqih untuk segera mengantarnya pulang. Namun, Sakira tidak punya keberanian untuk menoleh ke arah abangnya, dimana yang lain juga ada disana.
Sakira juga tak berani menatap pada Revan yang masih berbaring di atas hospital bad, jadilah dia hanya bisa menunduk saja.
"Ya Allah, bang Faqih kenapa tidak mengajak Kira pulang juga." Keluh Sakira dalam benaknya.
Sakira bukanlah Gia, kalau Gia pasti dia sudah berdebat kasar pada Irfan dan Digo di dalam ruang rawat Revan.
"Astagfirullah." Ceplos Faqih yang membuat semua orang menatap dirinya.
"Tumben amat lo nyebut."
Faqih mendengus kesal mendengar perkataan Irfan, tapi dia tak menyalahkan Irfan. Memang benar adanya dia jarang menyebut kalimat-kalimat Allah.
__ADS_1
"Gue tobat, iya sampai lupa. Gue mau anter adek gue pulang dulu ya." Ucap Faqih.
Sontak semua orang menoleh pada Sakira, Sakira tau dia saat ini sedang menjadi pusat perhatian teman-teman abangnya. Maka dari itu dia berusaha terus menuduk, tidak pernah dalam keadaan seperti ini rasanya Sakira ingin menghilang saja.
"Huf! Astagfirullah." Batin Sakira.
"Tapi lo balik lagi ya Qih, awas aja kalau kagak." Sembur Irfan.
Faqih menatap datar temannya yang satu ini. "Iya." Jawab Faqih malas.
Lalu dia mendekati Sakira yang sedari tadi duduk di kursi dekat tempat Revan berbaring namun jaraknya tidak terlalu dekat juga.
"Dek ayo pulang." Ajak Faqih.
Sakira hanya mengangguk saja, ingin sekali rasanya dia menimpuk Faqih dengan bantal, karena sudah membuatnya terjebak terlalu lama di dalam ruang rawat Revan.
Sakira mengikuti Faqih yang sudah berjalan mendahului dirinya. Dia diam tanpa suara sehingga membuat Faqih merasa heran.
"Kamu sedih Revan kecelakaan?" tanya Faqih tiba-tiba yang membuat Sakira kaget atas pertanyaan Faqih.
Sakira belum tau kalau semua keluarga Faqih sudah tau kalau dia dan Revan dijodohkan.
"Kita sesama saudara yang sedilah bang lihat saudaranya mengalami musibah." Sahut Sakira enteng.
"Bukan sebagai saudara."
"Lalu?" bingung Sakira.
Faqih memberhentikan langkahnya lalu dia mentapa sang adik dengan sayang.
"Tidak mau jujur hmmm?"
"Apa sih bang, yang jelas dong." Sahut Sakira karena dia memang tidak paham arah pembicaraan abangnya kemana.
"Kamu sama Revan."
Deg!
Sakira tersentak kaget, kalau Faqih tau dia dan Revan dijodohkan lalu bagimana dengan Gia. Sakira memang begitu selalu mememikirkan perasaan orang lain lebih dulu ketimbang perasaannya.
"Abang tau kalau aku sama Revan dijodohin?"
__ADS_1
"Abang bahkan tau kalian akan segera menikah." Jawab Revan santai.
Deg!