
Bismillah.
Brak!
"Masih tau pulang kamu!" bentak papa Riko.
Tempat jam 11:30 Revan sampai di rumah orang tuanya, entah dia pergi kemana dulu sedari pulang dari rumah orang tua Sakira. Padahal abi Gilang sudah mengatakan agar Revan cepat kembali ke rumah.
Sampai di rumahnya kebahagiaan yang dia dapat dari rumah Sakira, hilang saat itu juga kala melihat sang papa mengebrak meja dengan begitu kuat. Tatapan tajam sang papa sampai menusuk ulu hati Revan.
Tatapan itu, tatapan saat dulu papanya mendengar sang kakak telah menghadapi Ilahi saat sedang bersama Revan. Jelas pak Riko menuduh Revan yang telah membuat kakaknya kecelakan, tanpa mencari bukti kebenaran terlebih dahulu.
"Revan pulang salah, tidak pulang pun salah!" keselnya.
"Masih berani ngelawan kamu!" papa Riko menantap nyalang anak laki-lakinya itu, tak habis pikir dengan kelakuan Revan. Semakin dewasa bukannya semakin baik malah semakin bejat.
"Salah Revan apa pa! Revan di rumah juga percuman. Ada mama, papa ataupun tidak ada di rumah ini bukan Revan memang tidak pernah dianggap." Teriak Revan. Selama ini dia selalu menahan semua unek-unek di dalam dirinya agar tidak keluar di hadapan sang papa.
Sekarang Revan sudah tak bisa menahan semua itu lagi, Revan sudah capek, leleh dan semuanya Revan sudah tak sanggup lagi.
"Jaga ucapan kamu Revan!" papa Riko ikut berteriak kencang.
Perdebatan bapak dan anak tengah malam itu membuat mama Diana terbangun dan segera menghampiri tempat keributan yang terjadi.
"Terus papa maunya gimana hah? Bukan Revan tidak pernah dianggap." Revan semakin menyulut emosi papanya.
Heningnya malam seketika menjadi gaduh mendengar suara anak dan ayah yang saling beradu argumen itu. Sama-sama keras kepala membuat Revan dan papa Riko tidak ada yang ingin mengalah.
"Kalian tengah malam bukanya tidur malah ribut!" mama Diana mentapa anak dan papanya tak percaya.
"Revan juga kenapa kamu bikir ribut?"
Brak!
__ADS_1
Belum selesai urusannya dengan sang papa yang selalu memojokan dirinya. Lalu sekarang mamanya datang dan tiba-tiba menyalahkan dirinya, apakah dia memang sudah tidak dianggap dikeluarga ini. Atau memang dia bukan bagian dari Farenza.
"Revan memang selalu salah dimata mama dan papa! Memang cuman bang Ega anak kalian! Revan hanya orang asing yang masuk kekeluarga ini." Makinya.
Deg!
Papa Riko dan mama Diana merasa tersentil atas perkatan yang baru saja terucap dari mulut Revan anak kedua mereka, apakah benar mereka keterlaluan dengan Revan.
Sayangnya papa Riko dan mama Diana terlalu egois mereka berfikir cara keras yang mereka lakukan untuk menyadarkan Revan. Hal itu justru bukan menyadarkan Revan melainkan membuat Revan lebih bergajul lagi.
Setelah perdebatan Revan dan kedua orang tuanya, Revan kembali pergi meninggalkan rumah itu. Sekarang dia tidak tau tujuannya harus kemana.
Pikiran Revan begitu kacau, ingin kembali ke markas. Tapi Revan sedang malas bertemu dengan sahabatnya Gibran. Revan masih marah karena saat di rumah Faqih, Gibran mengatakan perasaanya untuk Sakira.
"Argh!" teriak Revan sekencang mungkin.
Tengah malam dibawah langit yang sudah tamaram, tiba-tiba saja hujan turun membasahi bumi. Padahal tidak ada tanda-tanda kalau hujan aku turun dengan begitu deras.
Tin...tin...tin....
Saking asyiknya dengan dunianya sendiri, Revan tidak mendengar suara tlakson mobil. Mungkin derasanya hujan membuat Revan tak mendengar suara tlakson mobil, lalu dia juga masih mengenakan helm.
Brak!
Sudah berkali-kali mobil itu menlakson Revan, tapi tak terdengar sedikitpun oleh Revan. Rem mobil berwarna putih itu ternyata blong sehingga membuat pengendara mobil tak bisa berbuat apa-apa. Dibawah derasnya hujan mobil tersebut kembali tak terkendali apalagi melihat ada sebuah motor yang berhenti di tengah jalan.
Jadilah dimalam yang sudah sepi, dibawah derasnya hujan terjadi sebuah kecelakaan yang sangat mengerikan. Padahal pengemudi mobil putih itu sudah berusaha membanting stir kearah kanan namun usahanya terlambat.
...----------------...
"Do bagaimana keadaanya?" tanya Gibran terlihat begitu khawatir.
Dokter Davin menghela nafas berat. "Dia koma." Ucap dokter Davin sedikit ragu.
__ADS_1
Deg!
Apakah Gibran tidak salah dengar, seorang Revan koma? Gibran sangat paham seperti apa Revan, tak mungkin dia koma begitu saja. Kalau masalahnya tidak berat. Pasti kali ini masalah Revan tak main-mian, dia sudah tidak sanggup menahan semuanya sendiri.
Tepat jam 4 pagi saat hujan deras sudah lagi menguyur kota Gibran menemukan Revan kecelaan bersama seorang pengemudi mobil.
Gibran bisa menebak kejadian kecelakaan itu terjadi setengah jam yang lalu saat hujan sedang deras-derasnya menguyur kota.
Gibran tak hanya membantu Revan, tapi juga pengemudi mobil yang tidak Gibran kenali. Yang Gibran tau orang itu seorang bapak-bapak. Jalanan itu memang sangat sepi sehingga jarang orang yang lewat. Apalagi tengah malam hujan lebat pula.
Kembali pada Gibran dan dokter Davin yang masih berdiri di depan pintu pemeriksa Revan. Kedua orang itu tidak menyadari kedatangan Sakira dan keluarganya dan juga kedua orang tua Revan.
"Nggak!" teriak mama Diana yang membuat Gibran dan dokter Davin menoleh pada sumber suara.
"Nggak, nggak mungkin dokter bohongkan? Jawab dok, Revan anak saya pasti tidak apa-apa bukan." Pecah sudah tangis mama Diana.
Rasa bersalah dan penyesalan dirasakan oleh kedua orang tua Revan. Andai saja tadi malam mereka tidak bertengkar hebat, pasti kecelakaan ini tidak akan pernah menimpa Revan.
Mereka sudah pernah kehilangan seorang anak dan hal itu kembali terjadi pada anak kedua mereka. Kali ini karena keegoisan orang tua Revan sendiri.
Pak Riko merasakan sesak di dadanya, kenangan demi kenangaan setiap kali beliau menyakiti Revan terus saja berputar di kepalanya.
"Maaf, maafkan papa. Semua ini karena papa." Ucap pak Riko lirih, hanya Sakira yang dapat mendengar suara itu.
Mama Diana walaupun berada disebelah sang suami, tapi beliau tak memedulikan apapun yang mama Diana ingin hanya satu saat ini Revan kembali bersama mereka. Sudah cukup kehilangan Ega. Tidak untuk Revan.
Merasa tak tega akhirnya Sakira mendekati calon mertuanya itu. "Mama jangan seperti ini, kita harus memberi dukungan untuk kak Revan. Kalau mama seperti ini siapa yang akan membantu kak Revan." Ucap Sakira lembut.
"Kira." Wanita paruh baya itu mentapa Sakira dengan tatapan sayunya.
"Semua salah mama Kira! Ini salah mama." Sakira langsung memeluk mama Diana sungguh dia tak tega melihat orang lain menangis.
"Jangan menyalahkan diri sendiri ma, semua sudah takdir. Sekarang kita berdoa untuk kesembuhan kak Revan." Di dalam pelukan Sakira, mama Diana mengangguk lemah.
__ADS_1