
Bismillah.
Gibran, Digo dan Irfan kaget melihat muka Revan lembab, apalagi Revan di bawa ke rumah sakit oleh abi Sakira bersama gadis itu.
Digo dan kedua teman Revan yang lainnya memang tidak pulang sampai sore, sore hari mereka masih berada di rumah sakit. Sampai Irfan mendapat telefon dari orang tuanya menyuruh Irfan pulang.
Lalu Gibran dan Digo ada keperluan mendesak kata mereka, baru mereka keluar dari kamar rawat Faqih. Mereka melihat Revan tengah dipapah oleh abi Gilang.
"Nap tuh si Revan, kita samperin yuk." ajak Digo.
Irfan dan Gibran mengikuti langkah Digo saja, ketiga orang itu sudah lupa tujuan awal mereka setelah melihat sang bos babak belur sampai di bawa ke rumah sakit.
Saat bertarung tadi Revan memang sengaja beberapa kali membuat dirinya agar terkena pukulan oleh lawan.
"Rev, are you oke?" tanya Gibran bingung.
Mereka sudah berada didekat Revan, abi Gilang dan Sakira yang akan menemui dokter untuk mengobati luka Revan lebih dulu.
Revan menatap tajam sekilas para anggota gengnya, dia kesal kenapa pula Gibra dan para antek-anteknya ini harus menemui dirinya, kalau begini rencana Revan yang ada akan gagal oleh tamu tak diundang seperti mereka.
'Ada yang kagak beser nih sama Revan, gue kerjainlah.' Irfan menyeringai penuh kemenangan.
"Kayaknya bau-bau ada yang modus ni." sindiri Irfan.
Digo dan Gibran yang belum ngeh akan situasi bingung atas perkataan Irfan, sementara Revan menatap tajam laki-laki mulut cerawat itu, rasanya ingin sekali Revan memasukan Irfan kesarang buaya agar Irfan jadi para santapan buaya-buaya yang kelaparan.
"Dok tolong periksa dulu ya." ucap abi Gilang saat menjumpai seorang dokter.
"Baik pak."
Dokter itu membawa Revan agara ikut denganya masuk ke dalam ruang pemeriksaan, luka lembab yang Revan dapatkan harus segera diobati.
Hanya Revan dan dokter tadi yang masuk ke dalam ruangan pemeriksaan sementara mereka menunggu diluar.
"Maksud lo tadi apa sih Ir?" tanya Digo masih penasaran.
Irfan berdecak kesal melihat temannya tidak peka sama sekali, mereka sepertinya lupa kalau Revan tak akan pernah kalah dalam bertarung, lah ini Revan malah babak belur tapi luka yang Revan dapat tidak terlalu parah.
"Lo pada nggak peka amat sih, coba lo perhatian si Revan. Dia mana pernah mau disentuh sedikitpun oleh lawan yang ada pasti lawan bakal babak belur sama dia." jelas Irfan.
__ADS_1
"Lo bener juga." sahut Digo.
Sakira dan abi Gilang hanya duduk diam sambil mendengarkan pembicaraan teman-teman Revan. Bukan mau menguping walaupun pura-pura tak mendengarkan tetap saja apa yang Irfan, Digo dan Gibran katakan terdengar oleh Sakira dan sang abi.
"Jadi?"
"Cek! Masa lo kagak peka juga sih Gibran."
Irfan berkatan sambil mengkode kearah Sakira, entah apa yang ada di otak ketiga teman Revan.
"Yah, gue paham sekarang. Tapi kenapa?"
"Mungkin otak itu anak sedang bergeser."
Disaat Irfan, Gibran dan Digo sedang mengobrol serius saat itu pula dokter yang tadi memeriksa Revan muncul tapi tidak dengan Revan.
"Loh dok temen saya mana?" tanya Digo.
"Ada di dalam dia harus dirawat selama dua hari di rumah sakit."
"Apa!" kaget ketiga orang yang sibuk ngoceh tadi.
"Boleh kami melihat Revan?" tanya abi Gilang ramah.
"Silakan pak."
Dokter memebikan ruang untuk abi Gilang dam Sakira masuk menemui Revan yang masih berada di dalam.
Tidak dengan Gibran, Digo dan Irfan. Ketiga orang itu menatap curiga sang dokter yang mereka yakin kalau dokter di depan mereka ini sedang berbohong.
"Wah, wah, dokter disuap berapa sama teman saya?"
"Kayaknya kita emang harus interogasi ini dokter Ir."
Melihat tiga pemuda yang menatapnya curiga, dokter tadi buru-buru pergi dari hadapan ketiga orang itu.
"Nggak beres memang si Revan."
"Geser otaknya."
__ADS_1
Mereka bertiga juga ikut menjenguk Revan yang masih pura-pura terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.
"Awas gue kerjain lo Revan!"
"Jangan Di, kita lihat sampai mana si Revan itu mau berpura-pura."
"Baiklah aku setuju Gib."
Malam hari tiba, Sakira sudah berada di rumahnya setelah tadi berada di rumah sakit bersama kedua orang tuanya.
Seharian ini Sakira berada di rumah sakit full, bukan sekadar menjenguk Faqih. Tapi juga menemani Revan bersama sang abi, karena sebelum Gibran, Digo dan Irfan pulang. Ketiga orang itu menitipkan Revan pada abi Gilang sebelum mereka kembali lagi.
Sakira teremung sambil menatap keluar jendela kamarnya, hujan baru saja turun membasahi bumi di kota Surabaya yang sudah beberapa hari panas menerpa.
Gadis itu sekaan sedang menghitung hujan yang turun, dalam hatinya dia terus melantukan dzikir sambil memikirkan perjdohan tentang dirinya.
"Ya Allah, laki-laki mana yang akan menjadi suami hamba." ucap Sakira.
Dia sekana sedang bertanya pada Sang Maha Kuasa, beberapa hari lagi Sakira akan bertemu dengan calon suami dan juga calon mertuanya.
Disisi lain Gibran, Digo dan Irfan sedang mengutuk bos mereka yang memang pura-pura harus dirawat.
"Geser kali otak lo Rev."
Revan tak peduli mendengar ocehan Irfan, dia kali ini fokus menatap tiga temannya satu persatu. Ada hal penting yang harus segera Revan sampaikan. Sebelum salah satu dari mereka kembali menjadi sasaran geng musuh.
"Kita harus terus waspada pada geng Atum, mereka ternyata yang sudah memfitnah geng Jenlot. Bisa jadi kita sekarang sedang diadu domba, gue rasa kecelakaan Faqih juga akibat geng Atum."
Brak!
Gibran mengeberk meja yang berada disebelahnya membuat ketiga orang itu kaget, kalau sudah berurusan dengan geng Atum emosi Gibran sudah tak bisa terkontrol lagi.
"Mereka nggak kapok-kapok juga ya!" maki Gibran.
Revan menatap wakil ketua dari geng Revandra bangga, dia senang melihat Gibran terbakar emosi seperti ini. Rasanya Revan ingin segera menghancurkan geng motor yang sudah berani bermain-main dengan mereka.
"Mereka lupa siapa lawanya." Digo tersenyum sinis.
"Semua tenang aja, gue udah ambil keputusan yang pasti buat lo semua seneng. Setelah Faqih sembuh total kita hancurkan geng Atum tanpa tersisa. Kita sudah memberi kesempatan sama mereka tapi mereka kagak kapok-kapok juga."
__ADS_1
Netra Revan menatap tajam ke depan, sekaan musunya berada di depanya saat ini. Mata elang itu seakan tak akan pernah melepaskan mangsanya lagi setelah dia berhasil mengakap masang kecil yang sudah berani bermain-main dengan mereka.