Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Dobel malu


__ADS_3

Bismillah.


Masih di ruang yang sama mereka semua sibuk mengobrol sejenak tengah menanyakan kabar satu sama lain. Tidak disadari oleh siapapun bahwa sedari tadi abi Gilang terus menatap intens Revan.


Saat mereka tengah asik berbincang dokter Ali masuk bersama seorang polisi yang membuat mereka semua sedikit kaget. Karena tiba-tiba ada polisi datang, tentu saja mereka takut ditangkap padahal mereka merasa tidak melakukan apapun.


Berbeda dengan Revan yang masih bersikap begitu santai kala ada seorang polisi masuk ke dalam ruang rawat Faqih. Ada dua kemungkinan kenapa polisi bisa berada di ruang yang sama dengan mereka semua. pertama polisi itu ingin menanyakan kerenologi perihal kecelakaan Faqih, kedua kemungkinan besar ada yang akan ditangkap oleh polisi.


Gibran dan ketiga teman Revan yang lainnya menatap Revan intens, mereka tahu pasti polisi akan menemui Revan. Kalau tidak mungkin Revan sedang dalam masa beruntung.


"Ayah abis buat salah apa?" bisik bunda Erna yang masih bisa di dengar oleh semua orang.


"Salah apa bun? Perasaan ayah nggak ngelangar aturan apa-apa, anak bunda kali yang buat salah."


Bunda Erna dan ayah


Polisi itu tersenyum ramah pada semua orang, kecuali pada Revan, Gibran, Faqih, Digo dan Irfan. Pak polisi itu sudah paham sekali muka kelima berandal di hadapannya ini. Apalagi Revan setiap hari selalu berurusan dengan yang namanya polisi, polisi saja capek melihat dan menangkap Revan. Tapi bagaimana dengan Revan sendiri? Si biang pembuat onar apakah dia tak lelah? Entahlah.


"Mohon maaf sudah mengganggu kalian semua, saya kesini ingin mencari saudara Revan."


Ketika mendengar nama yang disebut oleh polisi semua teman Revan hanya cengo tak percaya, baru kemarin pagi Revan selesai berurusan dengan polisi. Pagi ini dia kembali berurusan pada polisi sungguh luar biasa.


"Lagi?" ucap Gibran, Faqih, Bagus dan Irfan kompak sampai membuat mereka yang tidak tahu apa-apa mengerutkan dahi heran.


Revan hanya bisa nyengir saja sekarang mau ngeles juga percumah tidak akan bisa, "Kali ini apa lagi yang jadi sasaran lo Rev?" tanya Faqih.


Faqih memincangkan matanya menatap Revan menuntut jawaban, bukan Revan yang menjawab pertanyaan Faqih melainkan polisi yang datang menemui Revan.


"Kami mendapat laporan dari para pedagang kaki lima bahwa saudara Revan sudah mengahcurkan semua dagangan mereka. Para pedangan sudah menunggu kedatangan Revan." ujar pak polisi.


Sakira yang juga berada di dalam ruangan itu menatap Revan tak percaya. Laki-laki yang sering iya temui secara tidak sengaja ini ternyata biang pembuat onar.


'Dia ternyata dalangnya.' batin Sakira tak habis pikir.

__ADS_1


"Bawa saja dia pak, kalau bisa sekalian aja penjarin 1 tahun biar kapok." ucap Irfan tanpa memikirkan apa yang baru saja dia katakan membahayakan dirinya sendiri.


Mendengar perkataan Irfan Revan menatap temannya itu tajam. Berbeda dengan pak polisi yang hanya mampu tersenyum.


"Hati-hati kalau ngomong Irfan bisa membahayakan diri lo sendiri kalau tidak hati-hati." peringat Faqih.


"Astaga gue salah ngomong, maaf Rev nggak bermaksud."


"Lo tunggu aja gue pulang dari kantor polisi. Ayo pak kita pergi." ajak Revan yang membuat mereka semua tak habis pikir.


Jika boleh jujur Revan sebenarnya begitu malu, pagi ini dia harus menganggu malu dua kali di hadapan orang tua Faqih, Sakira dan orang tua Sakira. Baru kali ini rasanya Revan begitu malu bahkan sangat malu.


'Dia bukan anak Riko.' batin abi Gilang.


"Gib susul gue ke rumah sakit, eh, maksudnya ke kantor polisi. Heheh, Bunda, ayah, om tante Revan permisi dulu ya. Maaf pertemuan pertama saya dengan om dan tante meninggalkan kesan yang kurang baik."


Sepertinya Revan sedang kesurupan bicara santun sekali pada orang lain. Padalah biasanya mau tua atau muda Revan akan selalu ngegas kalau bicara.


"Eh, terima kasih umi." sahut Revan kaku.


"Wah si Revan benar kesambet kayaknya." ucap Digo sambil menatap kepergian Revan bersama pak polisi tadi.


"Mungkin efek bangun tidur Di." sahut Irfan.


Umi Intan dan abi Gilang, juga kedua orang tua Faqih masih heran kenapa mereka begitu santai melihat Revan ditangkap polisi. Sakira juga sebenarnya bingung.


"Itu si Revan nggak papa ditankep polisi Qih?" tanya bunda Erna khawatir.


"Iya orang tuanya gimana?" sambung umi Intan.


"Nggak papa bun, umi. Paling juga itu anak entar siang geh udah ada di kampus. Kalau orang tua Revan mungkin nggak akan peduli." sahut Faqih jujur.


Sakira baru sadar dia tak bisa lama-lama berada di rumah sakit, karena dirinya ada kuliah pagi.

__ADS_1


"Umi, abi, bunda, ayah maaf Sakira duluan ya. Hari ini Sakira ada kelas pagi." ucap Sakira.


"Biar ayah antar atau mau abi yang antar." ujar ayah Banu.


"Tidak usah ayah, biar ayah sama abi disini aja Kira berangkat sendiri nggak papa kok." sahutnya. "Bang Kira pergi dulu ya cepet sembuh."


Sebelum pergi Sakira menyalami mereka semua satu persatu kecuali, Gibran, Irfan dan Digo. Sakira hanya menyapa mereka sejenak.


"Kira ikut!" teriak Gia.


"Mau apa dek? Pasti kamu mau rusuhkan sama Sakira." cegah Faqih.


Sudah hafal sekali Faqih seperti apa Gia pada Sakira. Pasti Gia akan selalu rusuh pada kakaknya yang hanya berjarak umur 1 tahun 7 bulan.


Gibran dan yang lainnya masih bingung siapa sebenarnya Sakira untuk Faqih. Selama ini merka hanya tahu adik Faqih Gia tidak ada yang lain. Lagipula kalau Faqih dan Sakira sepupu bukankah mereka bukan mahram.


Tapi kenapa Sakira berani memeluk Faqih, seperti yang Gia lakukan. Umi dan Abi Sakira juga tidak marah aneh. Sayangnya saat ini semua pertanyaan membingunkan itu hanya bisa tertahan di kepala mereka.


"Bang lepas! Gia mau ikut Kira!"


Sakira sudah jauh dia tak mendengar teriakan Gia. Karena saat Gia teriak Sakira sudah berada di luar ruang rawat Faqih.


"Nggak! Disini aja temeni abang." tegas Faqih.


Gia tak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa pasarah mengikuti kemauan abangnya. Digo tersenyum melihat Gia yang menurutnya begitu lucu.


"Banu mas mau pergi dulu, umi disini sama Erna ya abi ada perlu nanti abi jemput umi lagi." ucap abi Gilang.


"Memangnya abi mau kemana?"


"Ada hal yang harus abi selesaikan sebantar umi."


Abi Gilang sebenarnya ingin memastikan apakah Revan anak dari Riko atau bukan. Abi Gilang tak marah jika benar Revan akan dari Riko, karena sebelum mereka memutuskan perjodahan untuk anak mereka. Riko sudah mengatakan semuanya tentang Revan dengan jujur.

__ADS_1


__ADS_2