
Bismillah.
Pulang dari kampus Revan dan teman-temannya terpaksa ke rumah Faqih. Adik Faqih sudah mengadukan pada Sakira apa yang terjadi semalam pada abangnya, sampai Sakira memutuskan agar Faqih pulang ke rumah bunda Erna.
"Lo nurut banget sama si Sakira sih Qih, sama Gia aja lo bisa nolak. Secarkan Sakira sama lo sepupuan. Apa jangan-jangan lo suka sama sepupu lo sendiri." Tuding Digo.
Mereka sedang berada di kamar Faqih, setelah ceramah panjang lebar dari bunda Erna, Faqih memutuskan untuk menenangkan diri di kamarnya. Sayang sekali dia tidak bisa tenang karena ada si penganggu dirinya. Siapa lagi kalau bukan Digo dan Irfan yang sibuk mengorek informasi tentang Sakira.
"Berisik lo pada!" Dengus Faqih sudah lelah dia tidak dapat beristirahat dengan tenang. Faqih melempar bantal pada Digo dan Irfan.
"Jawab aja kali, kagak usah pake esmosi."
"Emosi!" teriak Gibran, Digo, Revan dan Faqih bersama.
Irfan hanya menyengir tidak jelas, "Santai bang, jangan main keroyok juga kali."
"Tapi bener kata Irfan, tinggal jawab apa susahnya sih Qih. Lo suka atau kagak sama Sakira?" Gibran juga turut penasaran.
"Nggak!" satu katak yang melumcur dari mulut Faqih membuat mereka semua menatap Faqih tak percaya, kecuali Revan.
Calon sumi Sakira itu sedari tadi sudah berusaha menahan emosinya agar tidak meledak saat itu juga, mendengar Faqih terus dipaksa untuk jujur apakah suka atau tidak pada Sakira. Revan sudah tau kebenarannya tapi dia tetap juga cemburu.
Baru kali ini Revan bisa cemburu oleh seorang perempuan yang belum lama dia kenal. Ya, Revan cemburu maka dari itu dia tak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Waktu di kanti pas ada Sakira lo bilang dia calon istri lo, sepupu bukan mahram kali." Sambung Digo yang semakin menyulut emosi Revan.
"Tapi gue sama Sakira mahrom bego! Lagipula adik gue udah ada calon."
"Hah? Gimana ceritanya sepupu mahram?" cengo Irfan. Gibran pun turut penasaran.
"Satu ibu susu, kalau nggak tau maksud gue cari tau sendiri apa itu satu ibu susu. Lagian gue males jelasin. Asal kalian semua tau gue sayang sama Sakira sama kaya gue sayang sama Gia, Paham lo pada!"
Gibran mengangguk paham, tidak dengan Digo dan Irfan mereka berdua semakin dibuat penasaran.
Faqih dan Gia sudah tau kalau Sakira dijodohkan dengan Revan. Apakah Gia marah saat mengetahui orang yang dia suka dijodohkan dengan mbaknya? Tentu tidak karena sebenarnya Gia hanya mengusik Revan saja. Gia sama sekali tidak memilik rasa sedikitpun pada Revan.
"Terus calon Sakira?" tanya Gibran tiba-tiba.
"Ada!" jawab Faqih datar.
__ADS_1
"Padahal gue suka sama Sakira."
Brak!
Tersulut sudah emosi Revan mendengar sahabatnya mengaku kalau dia menyuki Sakira.
"Kok marah." Bingung Digo. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Revan pergi meninggalkan kamar Faqih dengan emosi yang masih menguasai dirinya.
Di lantai bawah Revan melihat Sakira akan pulang, cepat dia mendekati gadis itu. Melihat Sakira seketika emosi Revan langsung mereda.
"Kira pulang sama aku." Ucap Revan lembut penuh akan penekan.
Sakira tak langsung menjawab, dia merasa tidak enak pada Gia. Apalagi Sakira tau Gia menyukai Revan.
"Benar pulang sama curut ini aja Kira, lagian juga udah sore." Gia tau maksud tatapan mbaknya itu.
"Nggak ada tapi-tapian, pulang sama Revan!"
Gia sedikit mendorong tubuh Sakira agar gadis sebagai mbaknya itu menuruti keinginan dirinya. Semua pemandangan itu dilihat oleh keempat pemuda yang berdiri di lantai atas.
"Bunda, Gia, Kira pulang dulu. Assalamualaikum." Ucap Sakira lembut.
Sejujurnya Sakira takut pulang bersama Revan, sayangnya dia tidak tahu harus bagimana menolak Revan. Apalagi melihat bunda Erna menyuruhnya agar pulang dengan Revan saja.
"Jangan bilang calon suami Sakira Revan." Tebak Digo.
Dia paling peka mungkin saat ini, Gibran juga sudah tau kalau sahabatnya itu menyuki Sakira, dia tak menyangka Revan akan bergerak cepat. Tak pernah suka dengan perempuan sekali suka dia dan Revan harus menyukai orang yang sama.
Faqih hanya mengangguk untuk merespon perkataan Digo. Sementara Gibran hanya mampu terdiam.
'Mungkin kita memang bukan jodoh.' Batin Gibran.
"Jadi lo bener suka sama Sakira, Gib?"
"Hah?" Gibran tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan Irfan.
"Kagaklah gue cuman becanda aja kali." Sahut Gibran tak mungkin dia mengatakan yang sejujurnya, tadi saja Revan sudah sangat marah. Belum sempat bersaing Gibran harus terpaksa mudur.
Gia baru saja naik ke lantai atas menatap kakaknya dan ketiga teman sang kakak curiga, ngapai coba mereka.
__ADS_1
"Ngapain?"
"Eh, ada ayang Gia. Mas Digo temenin untuk menengakan hati mau?"
"Heh aneh, memang hati gue kenapa bege." Dengus Gia.
Di mobil Revan.
Tidak ada pembicaraan antara kedua anak manusia di dalam mobil sport merah milik Faqih yang berhasil Revan sita. Sakira sibuk dengan berbagai pertanyaan di kepalanya dan rasa takut lebih mendominasi dalam diri Sakira saat bersama Revan. Kedua tangan gadis itu dia genggam erat saling bertatuan.
Sesekali Revan melirik Sakira yang tak terbaca akan eksperesinya. Apalagi Sakira lebih banyak menunduk, ingin rasanya Revan memulai pembicara tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Sebenarnya Sakira tadi ingin duduk di belakang, tapi Revan tak memperbolehkan. Revan ingin Sakira duduk disebelahnya.
"Kira, kamu kenapa?"
"Aku nggak papa kak." Jawab Sakira apa adanya, sesekali Revan melirik pada gadis di sebelahnya ini.
"Tapi kok kamu diem aja? Ada masalah, siapa tau aku bisa bantu?"
"Nggak kak, cuman Sakira mau tanya sama kak Revan." Ucapnya ragu.
Senyum terbit di bibir Revan, dia penasaran Sakira ingin menanyakan hal apa. Berharap Sakira membahas tentang pernikahan mereka.
"Kira cuman mau tanya tadi di kampus kak Revan pucet banget kenapa? Kak Revan juga sama kayak bang Faqih ikut tauran sama balapan." Dicecer banyak pertanyaan oleh Sakira hanya mampu membuat Revan mengaruk hidungnya yang terasa gatal.
Tapi dia juga senang Sakira perhatian pada dirinya. Sebuah senyum jahil ikut terbit di bibir indah Revan.
"Kamu perhatian aku Kira?"
"Nggak kak, tadi di kantin nggak sengaja lihat muka kak Revan pucat." Nyatanya Sakira bukanlah gadis yang mudah digombali. Dia mengatakan yang sejujurnya pada Revan. Sakira bukan tipe perempuan yang mudah baper, seperti kebanyakan perempuan pada umumnya.
"Hehe, kiran kamu perhatian sama aku." Tak ada jawaban dari Sakira, mereka juga sudah sampai di depan rumah abi Gilang yang tak lain dan tak bukan orang tua Sakira sendiri.
"Kita sampai." Ujar Revan membuat Sakira langsung menatap rumah orang tuanya.
"Kak Revan mau mampir?"
"Boleh." Tentu saja Revan senang disuruh mampir, di rumah calon mertua.
__ADS_1