Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Terpesona


__ADS_3

Bismillah.


Srek!


Resleting gaun pengganti Sakira terbuka sempurna, Revan masih terpaku di tempatnya berdiri tepat di belakang Sakira. Revan menelan ludahnya kasar melihat punggung mulus sang istri, tanpa Revan sadari, jakunnya naik turun sendiri. Melihat punggung mulus Sakira, "Kak, udah belum?" tanya Sakira dengan begitu santainya.


Gleg!


Setelah kembali menelan air liurnya kasar, Revan segera menjawab pertanyaan sang istri. Dia yakin dirinya sudah gila melihat punggung Sakira yang amat mulus. Kedua kata yang patut Revan lontarkan saat melihat punggung Sakira, Putih bersih dan mulus.


"Udah," jawab Revan berusaha bersikap biasa saja.


"Makasih, kak," ujar Sakira segera masuk ke dalam kamar mandi lagi.


Sialnya, Sakira kembali melupakan baju ganti dan juga handuknya. Mungkin Sakira ingat kamarnya sendiri, kalau handuk pasti sudah ada di kamar mandi. Sementara Revan langsung terduduk lemas di atas kasurnya.


"Sial, kenapa putih banget sih, sungguh menggoda," rutuk Revan.


Beberapa kali dia menghela nafas berat. Setiap mencoba memejamkan kedua matanya, Revan kembali terbayang punggung mulus istrinya. "Gimana dia kalau nggak pake kerudung pasti cantik banget," ucap Revan tanpa sadar. Dia ingin segera melihat Sakira yang tidak berhijab di hadapan dirinya. Tiba-tiba Revan bangkit dari tempat duduknya lalu mengunci pintu kamar mereka. Revan sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan hal tersebut.


Setelah itu, Revan kembali duduk di kasurnya, sambil menunggu Sakira selesai mandi. Revan membuka ponselnya untuk melihat berita apa hari ini di kantor sang ayah juga tempat usahanya. "Tidak ada masalah, semua baik-baik saja," ucap Revan pada dirinya sendiri.


Sampai dia teringat ada hal penting yang harus dia tanyakan pada para anggota inti Revandra. "Musuh gue tau nggak ya kalau sekarang Sakira sudah jadi istri, gue." Bingung Revan.


Dia sendiri yang meminta pernikahan mereka dipublikasikan, tapi Revan tidak memikirkan konsekuensinya. Kalau sampai musuhnya tahu dia sudah menikah dengan Sakira, bisa jadi Sakira akan dalam bahaya. Dari pada Sakira yang dalam bahaya, lebih baik dirinya saja. Revan tidak mungkin memberikan istrinya terluka sedikitpun.


"Kalian semua, apakah musuh kita tahu gue udah nikah?" Revan mengirim pesan itu pada grup WhatsApp anggota intin Revandra.


"Beres bos, semua sudah diatur. Musuh tidak akan tahu," balas Digo.


(Ngomong-ngomong, kok bisa WA-an? Emang nggak lagi begitu sama bu bos?) Digo kembali mengirim pesan ambigu.

__ADS_1


(Bener juga kata Digo, bos.), sahut Irfan yang ikut muncul dalam percakapan WA.


(Wih, apa nih rame-rame?) Faqih.


(Baca sendiri! Masih SD lo?) Gibran.


(Santai bang!), sahut Faqih sedikit ngeri pada Gibran.


Revan tak lagi membuka grupnya. Dia jadi teringat Sakira yang sedari tadi belum keluar juga dari kamar mandi. "Kenapa dia lama banget," Revan mulai mencemaskan sang istri. Dia tidak bisa membiarkan Sakira berada di dalam kamar mandi begitu lama. Revan segera mengetuk pintu kamar mandi.


Tok!


Tok!


"Sakira, kamu di dalam?" suara Revan membuat Sakira yang sedari tadi hanya mondar-mandir di dalam, membuat Sakira langsung menghentika kegiatannya.


"Gimana ini? Masa cuman pake handuk dong, aku juga nggak tau handuk siapa pula ini," keluh Sakira.


Tok!


"Sakira, kamu masih di dalam, kan? Kamu nggak apa-apa?" tanya Revan khawatir.


"Iya, kak," jawab Sakira akhirnya, membuat Revan bernafas lega.


"Cepet keluar, aku hitung sampai 3. Kalau kamu nggak keluar juga, aku dobrak pintunya," ancam Revan. Dia sudah terlalu khawatir pada Sakira. Hanya itu cara satu-satunya agar Sakira segera keluar.


"Aduh, gimana ini, Kak Revan kenapa pula harus pake ngancem segala," keluh Sakira.


"Iya, Kak, Sakira keluar sekarang," jawab Sakira sedikit berteriak dari dalam.


"Bismillah."

__ADS_1


Sakira tidak langsung keluar begitu saja. Dia mempertimbangkan segala halnya lebih dulu sebelum keluar dari kamar mandi. Merasa sudah tidak ada suara Revan lagi, Sakira segera membuka pintu kamar mandi.


Ceklek!


Deg!


Sakira salah besar. Nyatanya saat ini, Revan tegah berdiri di depan pintu kamar mandi. Melihat Revan yang terus menatapnya begitu intens membuat Sakira tidak berani menatap laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.


Sakira memegang erat handuk yang dia kenakan hanya sebatas dada, rambut panjangnya tergerai indah walaupun acak-acakan. Paha dan dada Sakira terlihat begitu jelas di mata Revan. Bahkan laki-laki itu mengamati pemandangan langka di depannya ini dengan begitu serius. Ini lebih dari punggung Sakira yang sempat Revan lihat tadi.


Sumpah, Sakira begitu malu saat ini. Rasanya dia ingin menghilang saja dari hadapan Revan. "Kak, Kira mau ganti baju," cicit Sakira. Dia harus bicara lebih dulu kalau tidak, Revan akan terus menatapnya. Tatapan yang membuat Sakira amat risih.


"Ya, ganti saja," ucap Revan canggung. Dia memberikan ruang untuk Sakira mengambil bajunya di lemari. Sayangnya, Sakira tidak ingat kalau dia tidak membawa bajunya.


"Astagfirullah," ucap Sakira kala tersadar. Buru-buru, Revan menghampiri istrinya, "Ada apa?" tanya Revan hati-hati.


"Aku lupa bawa baju, Kak," Sakira mengatakan yang sebenarnya pada Revan.


"Pakai baju aku saja dulu mau?" Revan dan Sakira berdiri begitu dekat, sampai-sampai Sakira bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang tercium begitu segar.


"Tapi nanti kalau keluar, masa tetap pake baju Kak Revan, terus juga nggak ada kerudungnya."


"Jangan keluar dulu, nanti aku suruh siapa yang buat ambil baju kamu. Sekarang di kamar saja dulu, oke. Nanti makan di kamar juga, biar Kakak yang ambil. Gimana, setuju?"


Sakira hanya mengangguk. Hanya itu jalan satu-satunya saat ini. "Gadis pintar, kamu boleh pake baju aku yang mana saja. Sekarang, kakak mau mandi dulu," Revan mengelus sayang pucuk kepala istrinya yang kini sudah tidak tertutup hijab lagi.


"Airnya sudah, Kira siapkan, Kak," ucap Sakira sedikit berteriak sebelum Revan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah Revan masuk ke dalam kamar mandi, dia merasa lega dan Sakira meredakan detak jantung yang tadi tak terkendali. Namun, Revan sendiri juga deg-degan. Beberapa kali ia harus menghela nafas lega di kamar mandi. "Huh! Ujian tadi sungguh menantang. Seharusnya aku langsung jadi pemberani tapi kenapa malah jadi malu," gerutu Revan kesal pada dirinya sendiri.


Sementara itu, Sakira telah menyiapkan baju yang akan dikenakannya setelah Revan usai mandi. Ia terburu-buru mengenakan baju yang tadi diambilnya tanpa melihat-lihat biasanya seperti apa. Entah sejak kapan, Sakira menjadi begitu ceroboh.

__ADS_1


__ADS_2