Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Bertamu


__ADS_3

Bismillah.


Menjelang siang Sakira dan kedua orang tuanya juga Gia sudah berada di rumah kedua orang tua Revan. Ternyata disana Gibran dan yang lainnya belum pulang, mereka masih berada di kamar Revan mungkin sedang bermain games.


"Assalamualaikum." Sapa umi Intan dan yang lain.


"Waalaikusalam." Mama Diana menjawab salam sambil membuka pintu rumah mereka.


"Masya Allah, umi kalian semua." Ucap mama Diana mempersihalkan semua tamunya untuk masuk.


Tak lupa mereka saling berjabat tangan, kecuali abi Gilang tentunya. Sampai di ruang tamu ternyata papa Riko duduk disana sambil fokus pada sebuah buku yang dia pegang.


"Pa ada tamu." Intrukasi mama Diana.


Langsung saja papa Riko menyambut tamunya dengan senang, apalagi tak lama lagi mereka akan menjadi besan.


"Nak Revan mana?" tanya abi Gilang setelah menyapa papa Riko.


"Biasa di kamar sama kawan-kawannya." Jawab papa Riko.


Saat mereka tengah berbincang-bincang di ruang tamu, munculah Faqih yang sedang mengambil air minum di dapur karena haus. Air minum di kamar Revan ternyata sedang tidak ada isinya. Kamar itu baru di tempati lagi setelah 2 bulan lamanya ditinggal oleh pemilik.


"Umi, abi kalian disini juga." Faqih menghampiri mereka semua dan menyapa sopan, sudah faham sekali Faqih kalau adik bungsung selalu menjadi buntut Sakira.


Untung saja Sakira tidak pernah risih diikuti oleh Gia. Mereka malah akrba walaupun sering bertengkar.


"Faqih juga disini rupanya." Sahut umi Intan.


"Iya umi, tadi sama yang lain langsung nyusul Revan di rumah sakit setelah Gibran dapat kabar dari om Riko kalau Revan udah sadar, terus kita bablas ikut ke rumah." Jelas Faqih, setelah berbincang sebentar pada orang-orang yang ada di ruang tamu Faqih izin untuk kembali ke kamar Revan.


Setelah kepergian Faqih mereka semua kembali mengobrol dengan serius. Lebih tepatnya Sakira dan Gia hanya menjadi pendengar setia para orang tua bicara saja.


Sedangkan Faqih sudah berada di depan pintu kamar Revan. Dia membuka pintu tersebut kasar sampai-sampai menimbulkan bunyi yang membuat semua orang di dalam menoleh kearah sumber suara.


Krek!

__ADS_1


"Astaga!" Teriak Revan dan Gibran bersama, jangan lupakan wajah dingin keduanya seperti ini segera menerkam orang yang sudau membuat mereka jadi kagat seperti saat ini


Begitu juga dengan Irfan dan Diga. Keduanya kaget sampai-sampai mengeluarkan kata mutiara kedunya. "Kodok lompat."


"Hehe, sorry." Faqih tak merasa bersalah dia masuk lebih dalam di kamar Revan tanpa peduli orang-orang menatap dirinya tajam.


"Kenapa lo?"


"Ya, kagak kenapa-napa Irfan." Sahut Faqih cuek.


"Ada siapa dibawah?" pertanyaan yang keluar dari mulur Revan membuat mereka semua heran, gimana bisa dia dengar kalau dibawah ada tamu. Padahal mereka berada di ruang atas.


"Abi sama yang lain." Jawab Faqih sambil memposisikan dirinya untuk tidur dia sangat mengantuk sekarang.


Kebisaan tidur siang membuat Faqih setiap hari harus tidur siang kalau tidak dia pasti akan sakit kepala dibuatnya, hanya gara-gara tidak tidur siang saja.


Revandra sudah tak heran lagi pada Faqih yang setiap hari selalu ada jadwal untuk dia tidur siang. Seperti sudah menjadi kebiasaan Faqih.


Revan jelas tau siapa abi yang dimaksud, mendengar nama abi saja sudah membuat moodnya jadi baik. Dia tau pasti ada Sakira juga.


"Sakira ada?"


"Hmm." Jawab Faqih diambang kesadarannya. Dia sudah memjemput alam mimpinya sendiri.


"Gue keluar dulu, ingat kalian disini aja jangan keluar." Pesan Revan.


Buru-buru dia menemui tamu kedua orang tuanya, dari lantai atas Revan bisa melihat dengan jelas wajah Sakira yang sedang tersenyum.


Akhirnya Revan tidak langsung turun ke bawa, dia memutuskan untuk menatap Sakira lebih lama dari atas, kalau sudah dibawah nanti. Revan yakin dia tak bisa memandang wajah Sakira leluasa seperti saat ini.


"Pengen cepat nikahin Sakira gue." Ucap Revan sadar-sesadarnya dia berkata seperti itu.


Puas memandangi Sakira dari atas Revan perlahan turun untuk menemui mereka sacarang langsung. Tadi saat melihat Sakira mata Revan sama sekali tak berpidah kesiapapun.


Dia begitu senang bisa melihat Sakira tersenyum secara langsung. Walaupun Revan menyaksikannya dari kejauhan.

__ADS_1


"Assalamualaikum, abi, umi, Sakira, Gia." Sapa Revan ramah pada tamu di rumah orang tuannya.


Saking ramahnya Revan sampai membuat papa dan mamanya begitu heran. Bisa Revan di hadapan calon mertua jadi orang yang sopan santunya oke sekali.


Sungguh momen yang langka bagi papa dan mama Revan hal seperti ini jarang sekali terjadi.


"Nak Revan sudah enakan badannya?" tanya umi Intan ramah sekali pada calon mantu.


"Alhamdulillah umi." Sahut Revan duduk di sebelah mamanya yang berhadapan langsung dengan Sakira.


Benar kata Revan, Sakira tidak seceria tadi rupanya. Dia bahkan langsung menunduk saat melihat Revan datang, berbeda dengan Gia yang biasa saja.


Mereka mengobrol-ngobrol santai di ruang tamu, sampai pembicaraan yang begitu dihindari Sakira dan juga yang ditunggu-tunggu oleh Revan menjadi topik obrolan mereka saat ini. Papa Riko dan abi Gilang akan segera memperjepasa hubungan kedua anak mereka yang memang sudah pantas untuk membina rumah tangga.


"Jadi bagaimana pak Gilang untuk acara pernikah Revan dan Sakira. Apakah kita akan menunda lagi, atau mempercepat akdanya?" Papa Riko meminta persetujuan dari calon besannya.


"Kalau saya bagaimana Sakira dan nak Revan nya saja. Kalau keduanya sudah sama-sama siapa, lebih baik niat baik kita ini segera dilaksanakan saja." Sahut abi Gilang.


"Jadi bagaimana Sakira, Nak Revan?" kini umi Intan yang ikut berbicara untuk menanyakan kesanggupan dan keseriusan kedua mempelai.


"Revan siap kapan saja umi." Sahut Revan mantap.


Sedangkan Sakira yang tidak tahu kalau Gia sudah tau tentang dirinya dan Revan..merasa begitu tidak enak pada Gia. Bahkan Sakira tidak benari menatap Gia lagi.


'Maafkan Sakira, Gia. Sakira tidak bermaksud untuk mengambil cowok yang Gia suka." Sesal Sakira.


Gia yang duduk di sampaing Sakira merasa ada yang aney pada mbaknya itu. Apakah Sakira sudah lupa kalau Gia tidak menyukai Revan.


Sakira seharusnya sudah tau sejak awal tentang hal ini, tapi kenapa dia bisa melupakan hal yang sangat-sangat penting sekarang.


"Mbak Gia, jawab pertanyaan umi. Semua sedang menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Sakira." Bisik Gia.


Sontak Sakira langsung tersadar dari lamunannya. Dia menatap Gia sejenak sebelum memutuskan, melihat Gia mengangguk yakin pada dirinya membuat Sakira yakin juga.


"Sakira ikut saja apa kata kak Revan umi." Jawab Sakira akhirnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah." Sahut semuanya kompak.


__ADS_2