Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Bingung


__ADS_3

Bismillah.


Revan terus menatap keluar jendela mobil, rintik air turun dari langit padahal cuaca masih bisa dikatakan cerah, tak tau apa sebabnya gerimis bisa turun.


Pikiran Revan kali ini sangat berkecamuk, rasanya Revan tidak ingin menerima perjodohan ini, dia sudah memiliki orang yang Revan sukai. Disisi lain juga orang itu mampu membuat Revan melupakan cinta pertamanya.


'Sakira, Kira!' panggil hati Revan tanpa dia sadari.


"Sakira." ucapnya pelan kali ini, nama itu lolos begitu saja dari mulut gengster paling terkenal di kota Surabaya ini.


Sayang sekali kedua orang tua Revan tidak dapat mendengar apa yang Revan katakan barusan. Rasanya laki-laki tampan yang sedang bersama orang tuanya ini merasa sangat frustrasi sekarang.


"Maaf, gue belum sempat memiliki lo. Tapi udah gue khianatin duluan." gumun Revan tak jelas.


Saking sibuknya dengan pikirannya sendiri, Revan tidak sadar kalau sang papa sudah memberhentikan laju mobilnya. Mereka sudah sampai di depan pekarangan rumah abi Gilang.


Mendengar ada suara mobil dari luar abi Gilang dan umi Intan bersiap untuk menyambut tamu mereka, sudah tahu pasti yang datang calon besan. Hari ini mereka tidak ada janji pada siapapun, kecuali calon besan.


"Revan ayo turun." ajak mama Diana.


"Sudah sampai?" bukanya menuruti perintah mamanya Revan malah bertanya, padahal papa susahnya tinggal turun saja, tidak perlu bertanya sudah sampai atau belum, nanti juga kalau sudah pasti tau sendiri.


Walaupun begitu mama Diana tetap menjawab pertanyaan putrnya hanya menggunakan anggukan kelapa. Melihat kedua orang tuanya turun dari mobil Revan tak langsung ikut turun, dia masih sangat malas sekali.


"Cek! Jaman sekarang masih aja ada jodoh-jodohan." ucap Revan tak habis pikir.


Di dalam mobil Revan memperhatikan gerak-gerik kedua orang tuanya, dia melihat mama dan papanya seperti mengatakan sesuatu, tak lama setelahnya sepasang suami istri keluar untuk menyambut orang tua Revan.


Deg!


"Kayak kenal." ucap Revan. Revan mempertajam penglihatannya, dia rasa dirinya tak salah lihat. Sepasang suami istri yang sedang berbincang dengan orang tuanya pernah menolong Revan.


"Umi, abi."


Setelah sadar buru-buru Revan turun dari mobilnya, rasa tak semangat tadi lenyap saat itu juga kala Revan menembak orang yang akan dijodohkan dengan dirinya Sakira. Perempuan yang beberapa minggu ini sudah mengganggu otak dan hatinya.


Papa dan mama Revan pun tidak sadar, kalau anak mereka belum ikut turun. Tidak butuh waktu lama Revan sudah ada didekat kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Assalamualaikum." sapa Revan dengan senyum ramahnya.


"Waalaikusalam." jawab umi Intan dan abi Gilang serentak.


Melihat putra mereka mengucapkan salam papa Riko dan mama Diana saling melempar tatapan keduanya sejenak, lalu mereka menatap Revan bersama.


"Nak Revan sama siapa kesini?"


Lagi-lagi pertanyaan abi Gilang membuat sepasang suami istri yang ada di depan abi Gilang dan istri saling melempar pandangan mereka, seperti mengisyaratkan tanda tanya.


"Sama papa, mama. Abi, umi." jawab Revan tidak ada canggung-canggungnya.


Deg!


"Abi, umi." ucap mama Diana tanpa sadar.


Umi Intan tersenyum pada calon besannya, sedangkan mama Diana dan papa Riko menahan takut melihat orang tua Sakira, takut tidak menerima Revan untuk menjadi menantu mereka.


"Sudah kita masuk dulu ngobrol di dalam, tidak baik ngobrol disini." ajak umi Intan.


Mereka semua akhirnya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu, sudah banyak makanan yang disediakan di atas meja untuk tamu mereka.


Sakira masih berada di kamarnya, dia belum tau kalau tamu mereka sudah datang, setelah membantu uminya tadi Sakira pamit ke kamar lagi, tapi dia tak kunjung keluar dari kamae sampai saat ini.


Diam-diam Revan sedari tadi mencari keberadaan pujaan hatinya, setelah tau mereka berada di rumah Sakira, Revan jadi sangat ingin dijodohkan. Perjodohan yang tadinya sangat ingin Revan tolak kini sangat dia harapakan.


"Saya panggil putri saya dulu." pamit umi Intan merasa tidak enak pada tamunya.


Padahal papa Riko dan keluarga sebagai tamu tidak mempermasalahkan hal itu. Umi Intan sudah berjalan menuju kamar putrinya untuk memanggil Sakira.


Tok, tok, tok.


"Assalamualaikum Kira, ayo keluar nak. Tamunya sudah datang." panggil umi Intan.


"Waalaikusalam, iya umi." jawab Sakira sambil membuka pintu kamarnya.


Sakira langsung bisa melihat senyum uminya, gadis itu langsung saja membalas senyum umi Intan. Sakira senang di depannya umi dan sang abi selalu tersenyum.

__ADS_1


"Ayo sudah ditunggu sama calon suami." aja umi Intan.


Dalam ucapan umi Intan, beliau sama sekali tidak ada niatan untuk menggoda putrinya, tapi tidak tahu kenapa Sakira jadi merasa deg, degan sendiri.


Deg!


"Ya Allah, kok kira deg, degan." batin gadis itu.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Sakira, dia hanya melangkah mengikuti sang umi yang sudah berjalan lebih dulu.


"Kira ambil minum di dapur untuk tamunya, tadi umi lupa."


Umi Intan memberhentikan langkahnya sejenak, sambil berbalik menatap putrinya yang masih berada di belakang beliau.


"Baik umi." patuh Sakira.


Jadilah dia dan umi Intan pisah jalan, umi langsung kembali menemui tamunya lagi. Sementara Sakira pergi ke dapur untuk membutakan minum.


Revan yang tadi fokus dengan hp miliknya langsung menatap umi Intan, kalau perempuan paruh baya itu tidak keluar bersama Sakira. Pupus sudah harapan Revan yang ingin segera menatap Sakira.


'Kemana pergian gadis itu? Apa dia menolak perjodohan ini.' batin Revan merasa gusar.


Umi Intan yang merasa semua orang sedang menatap dirinya hanya bisa tersenyum hera, sampai beliau paham kenapa mereka semua mentapa dirinya.


"Sakira masih buat minum." ujar umi Intan, sambil mendaratkan bokongnya di tempat sebelumnya.


Mereka kembali mengobrol lagi, sampai tidak sadar kalau Sakira sudah berada didekat mereka dan meletkan secangkir teh di hadapan mereka masing-masing.


"Sakira." kaget mama Diana.


Sakira tersenyum pada mama Diana. Revan yang mendengar nama Sakira disebut langsung saja menatap gadis itu.


"Assalamualaikum ma, pa." sapa Sakira, sambil mencium punggung tangan mama Diana.


Revan menyerit bingung kala Sakira memanggil orang tuanya dengan sebutan mama, papa. Bukan tidak suka. Revan malah sangat suka, hanya saja dia bingung kapan kedua orang tuanya mengenal Sakira.


"Ma, pa?" ucap Revan tanpa sadar.

__ADS_1


Semua orang menoleh pada Revan, Sakira pun melakukan hal yang sama. Dia baru sadar kalau ada kakak tingkatnya yang menyeramkan di ruang tamu rumah orang tuannya.


Ketika sadar cepat-cepat Sakira mengalihkan pandangannya, paling Revan tadi menatapnya aneh membuat Sakira merasa risih ditatap oleh Revan.


__ADS_2