
Bismillah.
Setelah ditentukan dengan pasti akhirnya hari pernikahan Sakira dan Revan tiba juga. Seperti yang Revan inginkan jika pernikahan mereka akan digelar secara umum tidak dirahasiakan.
1000 lebih undang sudah disebara untuk acara pernikahan Revan dan Sakira. Gibran, Faqih, Irfan dan Digo ikut sibuk untuk acara pernikahan bos mereka. Gia tak kalah sibuk dengan keempat laki-laki yang akan membantu Revan, Gia juga sibuk membantu Sakira.
Saat ini Sakira dan Gia berada di dalam kamae Sakira. Calon penggantinya sedang dirias oleh periasa profesional yang dicarikan oleh mama Diana sendiri.
"Sudah beres, saya permisi sebntara ya mbak." Pamit perias itu pada Sakira dan Gia.
"Iya mbak." Jawab keduanya kompak.
Tidak tahu si periasa mau kemana, mungkin ada hal yang harus diselesaikan. Kepergian tukang riasa barusan membuat Gia dan Sakira jadi asyik mengobrol.
"Mbak deg degan nggak sih?" tanya Gia penasaran. Tak lupa dia terus menatap Sakira karena gadis yang sebentar lagi akan menajdi seorang istri itu begitu cantik menurut Gia.
Gia saja begitu terpesona pada mbaknya sendiri padahal dia perempuan. Lalu bagimana dengan Revan dan para laki-laki yang nanti melihat kecantikan mbaknya, pasti mereka akan begitu takjub.
"Pasti mbak deg degan lah Gia. Masih nggak nyangka kalau hari ini mbak akan jadi istri orang." Jawab Sakira tatapanya lurus kedepan seperti sedang menerawang.
Tidak mudah bagi Sakira akan berpisah denga kedua orang tuanya. Dulu dia tak pernah berpisah pada abi dan uminya. Sekarang dirinya sudah dewasa sebentar lagi akan menjadi istri orang mau tak mau Sakira harus ikut dengan suaminya.
"Mbak Kira cantik banget." Gia masih setia menatap Sakira kedua bola matanya bahkan terlihat berbinar.
"Kamu bisa aja Gia, namanya juga perempuan ya pasti cantik lah." Sahut Sakira tersenyum.
Sedari tadi dia tetap mempertahankan senyumnya, di dalam diri Sakira ada perasaan takut pada Revan. Tapi dia segera menepis pikirannya yang tidak-tidak itu. Apalagi kalau mengingat tampilan Revan bak permana tempo harinya.
__ADS_1
'Ya Allah permudahkan segelanya.' Bati Sakira.
Dia sudah siap menajdi seorang istri, apapun resiko yang nantinya akan dia hadapai. Karena sekarang dia sudah benar-benar siap menikah bukan ingin menikah.
"Mbak Kira, kenapa orang-orang yang sudah berumah tangga ada yang suka berantem ada juga yang terlihat bahagia?" tidak tahu kenapa tiba-tiba saja Gia bertanya seperti itu.
"Karena sejatinya orang yang sudah siap menikah pasti akan siap pada segala resiko yang ditanggungnya nanti. Siap menikah artinya dia bukan hanya siap menikah saja, akan tetapi siap akan segalanya yang terkait dengan pernikahan. Siap punya anak, siap ada saja cobaan yang menjumpai. Kalau dulu sebelum menikah kit selalu menghadapi segala hal sendiri, maka saat menikah kita dua insan yang harus memecahkan 1 masalah bersama. Orang yang selalu terbuka pada pasangnya pasti akan menyelesaikan masalah secara bijak dan minim akan pertengkaran rumah tangga."
"Mungkin orang bilang pernikahan itu bukan hanya menyatukan satu dan dua orang antara pria dan wanita yang tadinya tidak halal menjadi halal. Tapi pernikahan itu menyatukan dua pihak keluarga yang tadinya bukan siapa-siapa menjadi saudara. Memang benar adanya seperti itu. Tapi jangan lupakan bahwa pernikahan itu adalah janji suci yang diucapkan langsung disaksikan Allah Ta'ala. Saat seorang laki-laki mengucapkan ijab qabul berguncanglah Arsy-Nya. Jadi pernikahan itu adalah sebuah janji yang diucapkan langsung di hadapan Allah."
"Lalu untuk suatu orang yang berumah tangga mereka sering sekali ribut, mungki mereka belum paham tentang definisi nikah itu sendiri dan masih mementingkan ego."
Mendengar penjelasan Sakira, Gia mengangguk mengerti sambil merasa takjub pada mbaknya bukan hanya cantik tapi juga pintar.
Begitu asik Sakira dan Gia mengobrol sampai-sampai mereka berdua tidak sadar kalau Revan baru saja menyelesaikan ijab qabulnya. Di bawah Revan mengehela nafas lega karena sudah selesai mengucapkan ijab qabul.
Ditempat ijab semua orang sedang berdoa untuk kebaikan kedua mempelai sampai akhir hayat mereka. Tak lama setelah berdoa mereka semua menunggu mempelai wanita untuk menghampiri mempelai prianya.
Kembali ke kamar.
"Gia kamu dengar ijabnya nggak sih?" bingung Sakira sedari tadi dia tak mendengar Revan ijab. Padahal saat dia cerita dengan Gia tadi saat itu juga Revan selesai mengucapkan ijab.
"Iya juga ya mbak, perasaan kalau orang mau ijab itu nggak terlalu lama." Sambung Gia, tadi dia hanya fokus pada penjelasan Sakira dan wajah Sakira saja.
"Kita tunggu saja." Putus Sakira akhirnya.
5 menit berlalu karena Sakira tak kunjung turun umi Intan memutuskan untuk menyusul putrinya, kasihan Revan yang sudah menunggu istrinya juga para tamu. Umi Intan yakin Sakira tidak mungkin akan kabur.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu tempat kamar dimana Sakira diriasa, pintu itu terbuka dengan sempurna. Memperlihatkan sosok umi Intan yang terlihat buru-buru.
"Syukurlah." Benar dugaan beliau Sakira tidak mungkin kabur, dia malah enak-enakan ngobrol dengan Gia.
"Ya Allah, Gia kok mbak Kira nya nggak segera diajak turun." Bingung umi Intan.
"Kan Ijabnya belum umi." Sahut Sakira enteng.
"Kata siapa? Kamu sudah sah menjadi istri Revan di mata agama maupun negara." Jelas umi Intan.
"Apa!" pekik kedua orang itu bersama, bukan mereka tidak mendengar ijabnya.
"Sudah sekarang ayo turun." Tak mau membuat yang lain semakin menunggu lama mrmbuat umi Intan segera mengajak Sakira dab Gia turun.
Acara pernikahan Sakira memang dilaksanakan di rumah Revan, mengingat tamu yang mereka undang begitu banyak. Karena acara ijab dan resepsi disatukan secara langsung.
Ketiga wanita itu akhirnya menuju lantai bawah, Sakira diapit umi Intan dan Gia. Gadis bergaun indah itu diapit oleh adik dan uminya.
Saat sosok Sakira sudah berada ditangga semua orang menatap takjub pada Sakira. Bahkan Revan tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Sakira. Dia begitu sayang untuk melewatkan sedikitpun wajah istirnya.
"Cantik sekali istri gue." Ucap Revan pelan, dia tidak mau ada orang yang mendengar perkataannya.
Tak butuh waktu lama Sakira kini sudah duduk disebelah Revan dengan perasaan canggung, dia tak pernah sedekat ini pada laki-laki selain abi, ayah Gia dan Faqih.
"Nak Sakira sihlakan cium tangan suamimu." Instruksi penghulu..
__ADS_1
Walaupun canggung Sakira tetap melakukan apa yang diintruksikan oleh penghulu. Saat menyentuh tangan Revan rasanya jantung Sakira tidak beraturan begitu juga dengan Revan. Tapi kedua orang itu bisa mengatasi dirinya mereka sendiri.