Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Revandra


__ADS_3

Bismillah.


Revan sudah kembali menjalankan hari-harinya normal seperti biasanya, walupun sebenarnya setiap hari yang Revan jalani tidak seperti pada orang pada umumnya.


Yang ada Revan selalu membuat rusuh bikin ulah, hidup Revan terasa kurang kalau belum membuat ulah.


Hari ini Revan dan teman-temannya sudah kembali kuliah seperti biasanya. Entah kebetulan atau tidak Revan, Gibran, Faqih, Digo dan Irfan satu kelas, satu jurusan dalam satu Universitas.


"Akhirnya gue ngampus lagi, bisa cuci mata lah ya."


"Otak lo Ir udah kagak berfungsi apa? Kita ke kampus ini mau belajar biar pintar agar bisa menata masa depan yang baik sama dia."


"Sayang dianya nggak peka-peka ya Di." sambung Gibran.


"Tahu aja lo Gi, padahalkan mak gue bikin lauk tempe."


Faqih menoyor kepala Digo, masih pagi tapi anak dugo sudah drama mulu kerajaannya. Mau bagimana si Digo hidup dengan orang-orang yang penuh drama.


Revan sedari tadi hanya diam saja, mungkin dia seriawan atau bahkan lebih parahnya sakit gigi. Tapi sepertinya tidak juga Revan baik-baik saja.


"Kelas." satu kata yang keluar dari mulut Revan sudah membuat keempat temannya paham dengan kata isyarat Revan.


Sekalian saja si Revan ngomongnya bukan lagi pake bahasa isyarat, gerakan isyarat lebih bagus kayaknya. Biar dikira aneh, bisa saling ngomong malah pake gerakan isyarat.


Revan dan teman-temannya menuju kelas, seperti biasa mereka akan menjadi pusat perhatian oleh para ciwi-ciwi di kampus.


Bedanya kalau biasanya yang paling menjadi pusat perhatian di dalam sebuah geng pasti itu ketuanyakan. Tidak berlaku untuk geng Revandra, bukan Revan yang menjadi pusat perhatian para ciwi-ciwi melainkan Faqih dan Gibran.


Walaupun begitu tetap ada saja yang mendekati Revan, sampai mereka Revan jadikan pacar selama sebulan, hanya untuk kesenangan Revan sendiri.


Selama Revan berpacaran dengan berbagai gadis, dia hanya akan memaanfatakan gadis itu untuk Revan jadikan babu, seperti mengerjakan tugas sekolah, mentraktir Revan makan atau bahkan mengerjakan apapun yang Revan suruh.


"Kagak ada satu-satu acan cewek yang nempel gue." dengus Irfan.


Keempat teman anehnya itu menahan tawa mereka mendengar perkataan Irfan, selalu saja ngeluh kerjaian si Irfan. Kayak tidak ada kegiatan lain saja dia selain ngeluh.


Mereka sudah berada di dalam kelas, hari ini sebuah keajaiban geng Revandra masuk kelas semua dan tidak ada satu orang pun yang terlambat.

__ADS_1


Biasanya Revan dan Gibran yang akan selalu mencari masalah pada dosen, entah salah satu dari mereka tidak masuk maupun terlambat.


"Astaga pantesan langit cerah banget." ucap seorang cewek yang sekelas dengan geng Revandra.


"Kenapa emang Yen?" tanya Irfan kepo


"Revandra masuk kelas semua nggak ada yang telat!" jawab Yeni terang-terangan.


"Iya dong gue kan raji."


"Dih, anak dugo ngaku rajin absen terus lah iya."


Sudah menjadi rahasia umum kalau Digo sering dipanggil anak dugo, semua itu bermulai saat Revan dulu begitu kesal dengan Digo. Sampai kata-kata anak dugo keluar begitu saja dari mulut Revan. Nama anak dugo akhirnya diabadikan sampai sekarang.


"Ya Allah, si autor malah diperjelas." kesel Digo.


Tak lama setelah itu dosen yang mengisi kelas pagi masuk, Revan dan keempat anak Revandra lainnya memang sedang kesembet sepertinya. Mereka mengikuti matakuliah dengan baik, sampai membuat dosen dan teman sekelas mereka semua tercengang oleh Revan beserta kawan-kawan.


"Huh, baru kali ini gue ngerasa tenang kalau ada kelas. Besok-besok kalem kayak gini aja terus lo pada." ujar Yeni setelah perakuliah usai.


"Nggak janji!" jawab mereka serentak.


Setelah itu Yeni berlalu pegi dari kelas, karena prakuliah juga sudah usai. Kalau si Yeni kelamaan di kelas dia bakal ribu sama anak Revandra, apalagi kalau sama Irfan. Berasa perang dunia ketiga sudah dimulai.


"Si Yeni cantik juga ya kalau lagi marah." celetuk Irfan.


"Beneran geser otak ini anak, tadi aja dia ngajak si Yeni berantem."


"Biasalah Qih, kayak kagak tau aja lo kalau si Irfan caper, sayang ceweknya kagak peka." Digo sengaja mengejek Irfan.


"Kantin." ajak Revan.


Revan sedang malas berbicara, dia juga sedang enggan mendengarkan ocehan para teman-temannya.


Tentu kalau Revan yang sudah kanti mereka tidak akan menolak, karena Revan akan mentraktir mereka makan gratis sepuasnya.


Memang geng Revan punya kebiasan aneh, siapa yang duluan ngajak ke kanti dia yang akan membayar. Revan membuat atuaran seperti itu untuk menjebak kedua temannya yang sukanya makan gratis. Siapa lagi kalau bukan Digo dan Irfan.

__ADS_1


Strategi yang Revan buat juga berhasil menjebak Digo dan Irfan. Kedua orang itu sering sekali mengajak ke kantin lebih dulu.


Sampai di kanti Revan tak sengaja menangkap sosok seorang yang sudah mengganggu otaknya selama ini.


'Jodoh pasti nggak kemana.' batin Revan.


Revan yang melihat Sakira sedang makan bersama kedua temannya, tapi disitu juga ada Gia. Sebenarnya Revan malas menghampiri Sakira karena ada Gia disana. Demi Sakira Revan tetap berjalan menuju meja tepat Sakira dan teman-temannya duduk.


Kebetulan sekali masih ada tempat kosong dibangku yang Sakira dan teman kampusnya duduki.


"Boleh duduk" ucap Revan yang sebenarnya ditujukan untuk Sakira.


Namun, teman-teman Sakira malah heboh duluan saat Revan dan anak Revandra menghampiri mereka.


"Revan duduk aja nggak ada yang ngelarang." Gia mempersilakan Revan antusias.


Sakira tetap diam, dia hanya tersenyum untuk menyapa mereka semua. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Sakira.


"Bang Digo kagak disuruh duduk dek Gia."


"Week! adek pala lo, gue bukan adek lo tapi adek bang Faqih. Lagian kalau mau duduk, duduk aja kagak ada yang larang." ketus Gia.


"Kok kasar sih, tadi aja sama Revan lembut. Sama abang Digo kok marah-marah."


"Udah Di, gue mau muntah denger lo ngomong." ujar Irfan.


"Sama." sahut Gibran.


Faqih sudah duduk disebelah Gia, sedangkan Revan mendapat tempat duduk tepat disebelah Sakira yang berhadapan langsung dengan Digo.


Faqih menatap kedua adiknya secara bergantian, dia curiga pada Gia yang kembali mengganggu Sakira. Apalagikan Gia itu anak semester 2 harusnya kumpul dengan angkatannya sendiri ini malah selalu gangguin Sakira.


"Kira, si Gia ganggu kamu lagi?" tanya Faqih sungguh-sungguh.


Gia menatap tajam Faqih, sedangkan Sakira tanpa sadar tertawa renyah melihat tingkah Gia yang kesal pada abang sendiri sudah menuduhnya yang tidak-tidak.


"Nggak bang." jawab Sakira.

__ADS_1


Tanpa Sakira sadari tawa renyahnya membuat semua orang terpesona kecuali Faqih dan Gia. Kedua orang itu sudah terbiasa mendengar tawa Sakira.


'Candu banget sih tawa dan suaranya.' ucap Revan dalam hatinya, dia tanap sadar memandang Sakira yang duduk disebelahnya.


__ADS_2