Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Kira


__ADS_3

Bismillah.


Hmmmm.


"Inget bukan mahrom." sindir Digo.


Digo yang berada ditepat di hadapan Revan melihat jelas, kalau bosnya itu sedang terpesona dengan gadis muslimah yang duduk di sampingnya.


Revan merasa kalau Digo sedang menyindir dirinya segera menuju ibu kantin untuk memesan makanan.


"Bu biasa ya." ucap Revan setelahnya dia kembali ke tempat duduknya semula.


Tak lama setelah Revan kembali, ibu kanti membawa pesanan Revan. Revan hanya memesan untuk dirinya sendiri.


"Makasih bu." ucap Revan.


Ibu kantin tersenyum ramah pada Revan, lalu kembali ke kantinya untuk melayani mahasiswa lain.


Di hadapan Sakira, Revan harus terlihat seperti laki-laki baik dan santun. Dia tak mau kembali terlihat kasar di depan Sakira, cukup saat di restoran waktu itu saja Revan menjadi orang kasar di depan Sakira. Karean sebelumnya Revan juga belum mengenal Sakira.


"Punya kita mana Rev?" tanya Faqih.


"Pesen sendiri!"


"Asem lo ya Revan! Kagak setia kawan amat." kesel Irfan.


"Oke gue pesenin tapi lo yang bayar gimana?" tanya Revan sambil menaikkan kedua alisnya.


"Kagak jadi gue pesen sendiri!"


Segera Irfan beranjak dari tempat duduknya, punya temen modelan seperti Revan memang syulit.


Dua gadis merupakan temen Sakira masih duduk bersama mereka penasaran kenapa Sakira bisa dekat dengan geng Revandra, apalagi Sakira terlihat dekat dengan Faqih.


"Sakira lo siapanya Faqih?" tanya Bella teman Sakira.


"Aku.." belum sepat Sakira menjawab Faqih sudah menjawab lebih dulu.


"Calon suaminya." jawab Faqih mantap.


Revan saja sampai tersedak makannya sendiri mendengar ucapan yang keluar dari mulut Faqih. Gia dan Sakira pun melotot tak percaya pada Faqih, tapi cepat Faqih memberi kode pada kedua adiknya untung saja Sakira dan Gia peka.


"Uhukk...uhuk...uhuk...." batuk Revan.


Cepat Gibran menyodorkan air pada Revan, Gibran sayangnya kalah cepat dengan tangan Revan yang sudah meraih air minum milik Sakira. Revan memang tidak sengaja karena tengorkannya sudah terlanjur sakit.


Semua orang menatap tak percaya Revan, karena sudah meminum milik Sakira dan membuat mereka berdua secara tidak langsung meminum dari gelas yang sama.


"Leganya." ucap Revan tanpa dosa.

__ADS_1


Padahal air minum Revan yang akan disodorkan oleh Gibran tadi. Revan mengira dia mengambil minum milikinya.


"Revan!"


"Apa sih Gib." ujar Revan tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Lo minum air Sakira beo!" sinis Digo.


"Hah!" kaget Revan.


Lalu dia menatap Sakira merasa bersalah, Irfan saja yang baru kembali sampai kaget mendengar perkataan Gibran.


"Maaf."


Revan benar-benar tidak sengaja sama sekali, kata maaf yang keluar dari mulut Revan membuat semua orang tercengang.


"Oh good, apa tadi gue nggak salah dengarkan seorang Revan Farenza meminta maaf sama cewek lagi." heboh Irfan.


Duk!


"Berisik!" kesel Faqih sambil melempar Digo dengan kulit kacang bekas Gia.


Revan masih menatap Sakira berharap gadis itu mau memaafkan dirinya, Revan benar-benar merasa tidak enak hati pada Sakira.


"Nggak papa kok kak." jawab Sakira.


Dan suara Sakira hampir membuat jantung Revan ingin keluar dari tempatnya, suara lembut Sakira benar-benar seperti sudah menghipnotis Revan.


Panggilan 'kak' yang Sakira tunjukan untuk Revan kembali membuat Revan seakan berada di atas awan. Sejak pertemuan pertama mereka baru kali ini Sakira berbicara pada Revan.


"Manis kagak Rev?" celetuk Faqih.


"Manis." jawab Revan tanpa sadar.


"Nggak sengaja dapet bonus pula ya Rev." sindir Gibran.


"Astaga apa sih kalian ini!" akhirnya Revan kembali pada mode Revan yang sesungguhnya.


'Tapi emang manis, bener kata Gibran dapat bonus padahal tadi nggak sengaja.' Revan tersenyum tipis sekali tanpa ada yang menyadari.


Hanya Digo yang tidak bersuara, dia malah memperhatikan Gia. Ingin melihat gadis itu cemburu atau tidak saat Revan meminum air milik Sakira. Digo tak menangkap kecemburuan dari wajah Gia, dia malah melihat Gia tersenyum. Gia sadar kalau Digo sedang memperhatikan dirinya segera saja Gia membuat ulah.


"Rev minum punya Gia juga ya." ujar Gia sambil menyodorkan air minum miliknya.


Sontak hal itu membuat Digo melotot tak percaya, Gia juga sudah tau kalau Revan pasti akan menolak untuk meminum airnya.


"Nggak, lagian gue nggak sengaja minum punya Kira."


Deg!

__ADS_1


Tentu saja Sakira kaget, kenapa Revan bisa memanggilnya dengan sebutan Kira, karena hanya keluarga Sakira saja yang menyebut Kira orang lain tidak.


"Tapi lo senang kan." cetus Digo.


Disaat suasana yang sedikit canggung itu seorang datang membuat suasana menjadi kacau tepat saat telepon Sakira juga berdering.


"Assalamualaikum umi." sapa Sakira setelah dia mengangkat telepon dari uminya.


"Iya Kira pulang sekarang umi, Waalaikusalam." jawab Sakira lalu sambung telepon terputus.


Perempuan yang baru saja dateng itu menatap remeh Sakira, siapa lagi kalau bukan Rena yang datang mantan kekasih Revan.


"Hai sayang." sapa Rena sambil berusaha memegang tangan Revan, tapi Revan segera menepisnya.


"Jangan sentuh gue!" ucap Revan marah dan mengidimitasi sampai membuat nyali Rena menciut.


Beberapa detik kemudian Sakira merasa suasana sudah lebih baik dari sebelumnya, walaupun Rena masih ada di tempat itu.


"Gia pulang sama bang Faqih ya."


"Kok buru-buru Kira, apa terjadi sesuatu?" belum sempat Gia menjawab ucapan Sakira Faqih lebih dulu bertanya.


"Nggak bang cuman disuruh pulang aja sama umi, katanya ada hal penti kebetulan Kira juga udah nggak ada kelas." Faqih mengangguk paham.


"Aku duluan semua, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab mereka kompak.


"Kira ikut." teriak Gia.


Sakira memberhentikan langkahnya lalu menoleh pada Gia yang sedikit berlari menuju arahnya.


"Jangan lari Gia." peringat Sakira.


Faqih membiarkan saja kedua adiknya pergi, lagipula dia lebih tenang kalau Sakira dan Gia di rumah, biar mata si Digo dan Revan tidak terus-terusan menatap kedua adiknya.


Melihat kepergian Sakira, Revan seakan sudah tak semangat makan lagi. Sakira pergi kedua temannya juga sudah pergi lebih dulu tadinya.


Gibran memperhatikan wajah lesu Sakira melihat gadis itu pergi, Dia bingung dengan semua ini. Gibran bingung dengan perasaannya sendiri baru kali ini dia menyukai seorang tapi sahabatnya juga menyukai orang yang sama.


Disisi lain Sakira sudah mengendarai motornya bersama Gia. Sakira kini ganti menjahili Gia, dia menarik-narik baju Gia pelan membuat siempuhnya merasa risih sendiri.


Sakira tertawa puas melihat Gia bisa merasakan apa yang dia rasakan tadi pagi. Baru kali ini Sakira membalas kejahilan Gia.


"Seru juga ternyata jahil sama orang."


"Jangan jahil sama Gia, Kira nggak asyik."


Sakira bukannya menjawab dia tertawa renyah. Begitulah Sakira dan Gia walaupun terlihat tidak aku keduanya saling menyayangi satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2