
Bismillah.
Hening.
Itulah yang Sakira rasakan saat ini, tidak ada satupun orang yang berani berbicara di ruang rawat Revan. Tangis mama Diana juga sudah mulai sedikit mereda.
Revan sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP atas permintaan pak Riko pada pihak rumah sakit.
Sampai saat ini pak Riko belum berani bersuara sedikitpun. Rasa bersalah pada Revan terus menghantui dirinya.
"Mama, Sakira izin ke mushola dulu ya." Pamit Sakira.
Biasanya jam 8:30 dia sedang melaksanakan shalat duha. Shalat duha merupakan rutinitas Sakira yang tidak pernah dia tinggalkan.
Mama Diana yang sedari tadi menudukkan diri dan memegang tangan Sakira, kini beraslih menatap calon mantunya. Mungkin mereka semua melupakan satu hal, Sakira juga terpukul pasti akan kecelakaan yang menimpa Revan.
"Mama ikut, Nak." Ucap mama Diana paruh matanya sudah bengkak akibat terus saja menangis.
Sakira tentu saja setuju dengan mengangguk, tidak ada yang mengobrol diantara orang-orang di dalam ruang rawat Revan, kecuali mama Diana dan Sakira. Yang lain masih terdiam dengan isi kepala mereka yang entah memikirkan apa.
"Umi, abi, papa. Sakira sama mama ke mushola dulu ya." Pamit Sakira
"Iya, Nak." Umi Intan tersenyum pada putrinya sedangkan abi Gilang dan papa Riko mengangguk.
Sakira berjalan menuntun mama Intan berjalan seiringan dengan dirinya menuju musola. Tidak ada percakapan antara keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Sampai di mushola mama Diana dan Sakira langsung mengambil wudhu dan segera melaksanakan shalat duha. Sakira biasanya selalu melakukan shalat duha 4 raakata dan sekarang dia melaksankan dhua 4 rakaat pula.
Selesai shalat mama Diana dan Sakira saling memanjatkan doa untuk kesembuhan Revan.
"Ya Allah, Ya Raab. Ampuni hamba Mu ini, mungkin aku belum benar menjadi seorang ibu. Sejak Engaku manggil Ega untuk pergi mendahuli kami. Aku dan suamiku seakan lupa bahwa kami masih memilik satu orang anak lagi. Kami melupakan Revan sebagai anak kami, maafkan hamab Ya Rabb telah lali menjaga amanah Engaku. Sekarang Revan sedang berbaring di atas brankar rumah sakit dengan kondisi koma. Hamba mohon sembuhkanlah Revan Ya Rabb, jangan ambil dia lebih dulu. Aku sebagai orang tua ingin memperbaiki semuanya dengan Revan."
__ADS_1
Tak terasa air mata mama Diana sudah mengalir deras sedari tadi membasahi mukena yang dia kenakan untuk shalat tadi. Saking khusyuknya mama Diana berdoa sampai dia sudah tidak merasakan mukennya yang telah basah.
Tak jauh dari mama Diana berdoa, Sakira juga melakukan hal yang sama, gadis cantik berbalut untuk muken putih itu sangat khusyuk sekali.
"Ya Rabb, hamba dan kak Revan memang belum sah menjadi suami istri, hamba tidak tahu bolehkan aku mendokan kak Revan. Tapi sebagai sesama muslim, aku mendoakan kesembuhan untuk saudaraku kak Revan Farenza." Doa Sakira.
Selesai shalat mama Diana merasa lebih baik dan plong rasanya. Dia sungguh beruntung memiliki calon mantu seperti Sakira yang selalu menguatkan dirinya, disaat yang seperti ini.
Keduanya sudah selesai melaksanakan ibadah shalat dhua, segera kembali ke ruang rawat Revan.
"Semoga kak Revan cepet sembuh ya, Ma." Ucap Sakira akhirnya.
"Aamiin, Sakira." Jawab mama Diana, kini beliau sudah bisa sedikit tersenyum. Sakira yang melihat hal itu merasa lega.
Sampai di ruang rawat Revan, Sakira dan mama Diana masuk begitu saja.
Di dalam ruang rawat bernuansa putih itu, dengan Revan yang masih terbaring di atas brankar dengan ukuran lebih besar dari pada brankar biasa. Semua orang masih sama saat Sakira dan mama Diana meninggalkan mereka. Mereka masih terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Maaf pak Riko, ibu Diana. Kami harus pulang dulu." Pamit abi Gilang merasa tidak enak.
"Maaf boleh Sakira tetap disini?" bukan pak Riko yang menjawab melaikan mama Diana.
Beliau masih butuh seorang yang bisa menguatkan dirinya, menunggu suaminya tak mungkin. Karena sedari saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di rumah sakit papa Riko sudah tak bersaura lagi sedikitpun.
Beliau benar-benar larut dalam kesedihan dan rasa bersalah pada Revan, terus saja kenangan buruk papa Riko dan Revan berputar di kepala pak Riko.
Kembali pada abi Gilang, beliau tak langsung mengiakan permintaan mama Diana, abi Gilang meninta persetujuan istrinya dan sang anak lebih dulu. Beliau menatap umi Intan dan Sakira secara bergantian, Sakira tidak berani memutuskan.
"Tidak papa Bi, biar Sakira menemani mama Diana disini." Ucap umi Intan akhirnya.
"Terima kasih umi." Sahut mama Diana, umi Intan mengangguk sambil tersenyum pada calon besannya.
__ADS_1
Untunynya hari ini Sakira tidak ada kelas, jadi dia bisa menemani mama Diana sampai sore mungkin. Walaupun Revan berbaring di atas brankar sedari tadi dia tak berani melihat Revan.
Sementara Gibran masih berada di ruang rawat Revan, dia duduk disebelah papa Riko. Tapi Gibran tak punya keberanian untuk memulai pembicaraan pada papa Riko.
Padahal biasanya bertegur sapa dengan ramah. Kali ini melihat papa Riko tak bersuara membuat Gibran juga tak berani untuk memulai pembicaraan mereka.
"Oma, tante. Gibran beli makan dulu." Pamit Gibran.
Dia tau pasti semua orang belum makan, karena mereka datang pagi-pagi sekali tadi. Tapi pikiran Gibran benar semua orang memang belum sarapan untuk mengisi perut mereka.
Saat Gibran keluar dari kamar rawat Revan, tepat saat itu juga 3 teman mereka yang lain datang. Mereka ada kelas pagi, jadi baru bisa datang sekarang.
"Gimana keadaan Revan?" Faqih, Irfan dan Digo mentapa Gibran untuk menunggu jawaban yang keluar dari mulut Gibran.
Gibran tak langsung bersuara, dia menatap tiga orang di hadapannya secara bergantian dengan tatapan datar, Gibran menghembuskan nafas pelan. Dia yang sedari awal melihat Revan tak berdaya sudah tak sanggup untuk mengatakan apapun.
"Revan koma." Ucapnya lemah.
Deg!
Mereka bertiga tak dapat berkata apa-apa setelah mendengar penjelasan dari Gibran. Padahal geng Revandra belum lama ini Faqih baru sembuh dari kecelakaan yang menimpa dirinya dan sekarang Revan terbaring di rumah sakit.
Dulu Faqih mengalami kritis, sekarang Revan koma. Sungguh mereka benar-benar tidak tau mau berbicara apa.
"Gue cari makan dulu." Pamit Gibran setelahnya.
Akhirnya mereka tersadar dari lamunan mereka masing-masing.
"Jangan sampai geng lain tau kalau Revan berada di rumah sakit. Kalau mereka tau pasti hal ini akan mereka manfaatkan untuk mencelakai Revan dan memusnahkan Revandra." Tutur Faqih.
"Lo bener Qih, kita harus tutup rapat-rapat berita ini." Sahut Digo.
__ADS_1
"Irfan beritahu anak-anak."
"Siap Qih."