Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Revan, Sakira


__ADS_3

Bismillah.


"Revan kenalin, Sakira gadis yang mau papa sama mama jodohi sama kamu." ucap mama Diana.


Sakira telah duduk didekat uminya, gadis itu sama sekali tidak mengangkat pandangannya. Dia terus menatap kebawa untuk mencari kesibukannya sendiri, Sakira jelas masih bisa mendengar perkataan yang diucapkan oleh mama Diana pada Revan.


'Astagfirullah, sepertinya Kira sudah salah berdoa. Waktu itu kenapa Kira doanya nggak mau ketemu cowok ini lagi. Eh, malah setiap hari ketemu, sekarang dia calon suami Kira.' bati Sakira.


Dia sampai meremas kedua tangannya kuat, Sakira sendiri tidak tahu kenapa dia jadi gugup seperti ini. Jelas Sakira tau kalau sendiri tadi Revan terus memperhatikan dirinya dan hal itu membuat Sakira tak nyaman.


"Dan Sakira, ini nak Revan orang yang abi maksud. Kalian sudah pernah bertemu bukan sebelumnya." ujar abi Gilang.


Revan dan Sakira secara bersama menatap abi Gilang, memang benar apa yang abi katakan mereka pernah bertemu sebelumnya. Tapi keduanya tidak saling akrab satu sama lain.


"Benar begitu Sakira, Revan?" tanya papa Riko memastikan, karena beliau tidak tau apa-apa.


"Benar." jawab Revan, sementara Sakira hanya mengangguk untuk mengiakan ucapan papa Riko.


Umi Intan tersenyum melihat putrinya yang betul-betul menjaga diri dari seorang laki-laki yang bukan mahrohmnya. Umi selalu percaya pada putrinya diluar sana bisa menjaga pandangannya dan menjauhkan diri dari maksiat.


"Kita langsung saja tanyakan pada yang bersangkutan, apakah Sakira dan nak Revan menerima perjodohan ini? Abi tidak akan memaksa, jika salah satu dari kalian tidak menerimanya."


"Saya setuju abi!" jawab Revan sangat yakin.


Sampai semangat yang Revan keluarkan membuat kedua orang tuanya bingung sendiri. Bukankah tadi Revan bersikeras untuk menolak perjodohan ini? Tapi kenapa sekarang dia yang jadi begitu paling semangat disini.


Abi Gilang tersenyum. Kini semua orang menoleh pada Sakira untuk menunggu jawaban dari gadis itu, kira-kira jawaban apa yang akan Sakira berikan pada semua orang. Revan sudah tidak sabar mendengar jawaban apa yang Sakira ucapkan.


"Bagaimana nak? Kira menerima perjodohan ini?"


Walaupun umi dan abinya sudah tau jawaban Sakira sedari awal, mereka tetap kembali menanyakan pada Sakira setuju atau tidak. Takut Sakira menolak setelah melihat calon suaminya modelan seperti gengster yang amat menyeramkan di mata Sakira.


"Insya Allah umi." jawab Sakira.

__ADS_1


Jawaban yang keluar dari mulut Sakira membuat semua orang merasa lega, tidak dengan Revan tiba-tiba dia jadi minder pada Sakira. Melihat dirinya yang berpenampilan seperti pereman. Tidak memiliki sopan santun yang baik, suka membuat rusuh dan sering mengacau, hampir membunuh anak orang.


'Apa aku pantas untuk dia? Dia begitu sempuran, sedangkan aku. Aku hanya seorang bajingan.' batin Revan.


'Tapi aku mencintai Sakira, aku ingin memiliki gadis itu. Tidak pernah sebelumnya aku merasa seperti ini.' lagi-lagi Revan terus berperang dengan pikirannya.


Lalu Revan menatap para orang tua secara berganti, dia harus berbicara 4 mata dengan Sakira. Mungkin jika Revan melontarkan pertanyaan pada Sakira akan membuat Revan lebih yakin lagi.


"Maaf abi, apa boleh Revan bicara berdua dengan Sakira. Disini saja tidak apa." walaupun ragu Revan tetap meminta izin pada abi Gilang.


"Baik, tapi karena kalian berdua belum mejadi mahrom. Kami hanya akan bergeser sedikit dari sini."


"Terima kasih abi."


Para orang tua pindah ke ruang keluarga yang masih terhubung dengan ruang tamu, jarak mereka juga tidak terlalu jauh. Revan dan Sakira masih terlihat di mata semua orang.


Kini hanya ada Revan dan Sakira di ruang tamu, Revan memperhatikan Sakira sejenak. Bingung kenapa Sakira sedari tadi selalu menatap kebawan. Entah apa yang menarik dibawah sana.


Kadang dia juga merasa sedikit kesal pada Sakira, karena tidak pernah mau menatap dirinya. Sedangkan bersama Faqih Sakira begitu dekat bahkan berani memegang tangan Faqih. Bukan sepupu juga bukan mahrom.


Mengingat hal itu seketika, darah Revan menjadi mendidih. Apalagi mengingat kata-kata terakhir Faqih yang mengatakan dia calon suami Sakira.


"Sial." umpat Revan, Sakira masih dapat mendengar jelas perkataan Revan.


"Kak Revan mau ngomong apa?" Dengan penuh keberanian, akhirnya Sakira bertanya juga.


Revan yang tersadar menatap Sakira sejenak, dia sudah lupa apa yang ingin Revan tanyakan pada Sakira. Sekarang yang ada hanya Revan ingin mengorek apa hubungan Sakira dan Faqih yang sebenarnya.


"Kamu dan Faqih sepupu?"


Saat bertanya Revan berusaha sekuat tenaga menahan emosinya, dia tidak ingin menyakiti fisi maupun hati Sakira. Revan benar-benar terlanjur jatuh hati pada Sakira.


"Benar."

__ADS_1


Revan melotot tak percaya. "Bukankah sepupu itu tidak mahram? Lalu apa benar yang Faqih katakan saat di kanti tadi kalau dia calon suami kamu? Kalau begitu kenapa kamu menerima perjodohan ini." kesal Revan.


"Aku dan bang Faqih memang sepupu, tapi kami mahram. Lalu perkataan bang Faqih di kanti tadi, kalau dia calon suami Kira, bang Faqih memang selalu begitu untuk menjaga adiknya agar tidak ada yang mengganggu." terang Sakira.


"Bagimana bisa sepupu mahram?"


"Kak Revan bisa tanyakan saja pada abi, umi atau dengan bang Faqih nya langsung."


Ya benar, Revan sedang cemburu. Sampai dia membuat Sakira heran atas respon Revan. Tidak tahu saja Sakira kalau Revan selalu cemburu saat melihat dia dan Faqih dekat.


Revan terlalu sibuk pada Sakira, dia lupa dirinya lebih parah dari Sakira. Pacaran sana sini, setiap bulan selalu berganti pacar.


"Ada lagi yang mau kak Revan tanyakan?"


"Ada, tapi bukan pertanyaan. Aku ingin pernikahan kita disegerkan dan aku juga ingin pernikahan ini dipublick, agar semua orang tau aku dan kamu sudah menikah."


Deg!


Sakira tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dia harus senang ataupun sedih. Senang karena Revan tidak main-main pada pernikahan mereka. Tapi sedih juga karena Sakira tahu, kalau banyak orang yang tau dia dan Revan menikah. Pasti banyak orang yang akan membenci dirinya.


Sakira sangat tau betul, kalau Revan begitu terkenal di kampus mereka. Walaupun lebih terkenal Gibran dan Faqih. Sakira juga jadi kepikiran Gia.


'Apa Gia akan membenciku?' batin Sakira.


Yang Sakira tahu Gia begitu menyukai Revan. Sakira tidak mau dia dan Gia jadi saling diam hanya karena seorang laki-laki. Lagipula Sakira tidak tahu jika dia akan dijodohkan dengan ketua gengster Revandra.


Tak tahu kenapa abinya dan sang umi bisa menerima Revan begitu saja untuk menjadi calon mantu mereka.


"Bagaimana Sakira kamu setuju? Tidak setujupun kamu harus setuju." perkataan Revan akhirnya menyadarkan Sakira.


"Aku ikut saja kak." jawab Sakira pasrah.


"Bagus calon istri yang baik."

__ADS_1


__ADS_2