
Bismillah.
"Kita ke sirkuit balapan sekarang." Ajak Revan pada 4 temannya.
"Yuhu, siapa yang nantangin?"
Duk!
Faqih memukul kerasa kepala Irfan selalu saja dia bertanya dan pertanyaan Irfan harus mendapatkan jawaban, kalau tidak dia akan berusaha sampai jawabannya dia dapatkan walaupun tidak penting juga.
"Sakit." Keluh Irfan, dia mengusap kepalanya yang habis ditabok Faqih.
"Makanya jangan banyak tanya, tadi datang jangan terlambat."
"Iya bang, salah lagi dah gue."
"Ribut aja terus, kagak usah ikut kalau mau ribut." sindir Gibran.
Cep!
Irfan dan Faqih tidak lagi bersuara, nyatanya Gibran dan Revan lebih seram wakil ketua dari geng Revandra kalau sedang serius. Sudah diam tetap saja kedua orang itu salah-salahan menggunakan bahasa isyarat mereka.
Tatapan mata Irfan dan Faqih seakan saling menyalahkan satu sama lain. "Lu sih yang mulai dulua." Begitulah inti dari tatapan kedua orang yang berdiri dibelakang Gibran.
Tumben sekali Digo tidak cari masalah, mungkin efek tak bertemu dengan Gia sang pujaan hati, jadi bawaannya lemes terus aja si Digo. Dari tadi sore sampai malam dia seperti tak ada nyawanya. Badan mah ada di hadapan Revandra, tapi nyawan dan pikiran entah perginya kemana.
Mereka berlima mengendarai motor sport masing-masing. Motor milik Faqih juga sudah dibenarkan kembali, pelaku juga sudah kapok diserang mendadak oleh Revandra.
"Go." seru Revan.
Revandra tidak ada pelan-pelannya mengendarai motor, mereka semua seperti kesurupan setan. Mengemudikan motor ngebut brutal, untung jam sudah menunjukan pukul 11:30 jadi jarang ada mobil dan motor yang lewat, jalan sepi. Para gengster di kota Surabaya juga pintar memilih sirkuit balapan.
Sirkuit balapan liar yang mereka adakan tempatnya jauh dari perkotaan dan perdesaan. Ada sebuah jalan yang jarang sekali dilalui oleh orang-orang, karena tempatnya yang jauh dan sulit untuk dijangkau. Maka dari itu para gengster memilih tepat tersebut untuk dijadikan sirkuit balapan liar mereka.
"Udah kagak sabar gue mau balapan sama orang-orang itu." ucap Revan pada diri sendiri.
__ADS_1
Sorota matanya yang tajam, setajam elang seakan langsung bisa menangkap dimana tempat keberadaan musuh. Dalam diri Revan dia yakin sekali akan menang kali ini, apalagi dia tau rencana musuh yang mudah sekali ditebak. Bagi Revan trik licik yang digunkan musuh tidak mempan untuk dirinya.
Revan paham sekali menantang Revandra balap liar, hanya untuk memancing mereka semua keluar. Setelah balap usai para musuh akan mengeroyok Revandra.
Sampai disirkuit balapan sudah ramai orang disana, Revan dapat melihat kelompok geng motor Atras sedang menatap remeh kearah geng motor Revandra. Hanya ada 5 anggota intin Revandra yang ikut dalam balapan ini.
Paham sekali Revan cara ini juga adalah salah satu trik licik musuh agar Revandra mengerahkan seluruh anggotnya namu Revan tidak akan tertipu hal itu. Dia masih bisa menatap geng Atras dari kegelapan malam. Tidak ada lampu di tempat itu cahanya penerang hanyalah lampu motor.
Ketua Revandra itu menatap remeh balik para musuh yang sedang menatap remeh geng mereka. Revan akan pura-pura tidak tau apa-apa setelah balapan ini.
"Siapa yang maju?" tanya Faqih.
"Gue." jawab Revan yakin.
Jarang sekali Revan maju untuk ikut balapan, bisanya 4 temannya yang akan selalu berganti. Jarang mengikuti balapan bukan karena Revan tidak bisa. Revan sudah mendapat julukan racing king hanya dalam 3 kali pertandingan tidak ada yang dapat mengalahkanya.
Semua anggota intin Revandra menatap Revan tak percaya, tumben sekali Revan menawarkan diri langsung untuk ikut balapan kali ini, biasanya dia harus dipaksa lebih dulu.
"Lo yakin Rev?"
"Gue percaya sama lo bos."
"Gue juga." sambung Irfan dan Bagus menyahuti semangat Gibran untuk Revan.
"Lo semua tenang aja."
Revan mendekati kelompok geng Atras, dia ingin tahu siapa yang akan menjadi lawan tandingnya kali ini.
"Revan akhirnya lo terima tawaran gue." ucap Joki sebagai ketua geng Atras.
"Apa jaminannya?" Revan tidak butuh basa-basi pada para musuh.
"Wih, gercepa juga lo ya, gue pengen kalau lo kalah, lo harus bubarin geng Revandra dan lo mengakui geng Atras sebagai geng terkuat."
"Wah, gila lo Joki." Sentak Irfan tidak terima.
__ADS_1
"Kenapa kalian takut, atau racing king Revandra sudah tidak sanggung melawan kami?" Joki malah semakin memporovokasi Rervandra.
Untung Revan tidak tersulut emosi, dia sudah menebak hal ini akan terjadi. Tidak ada satu orangpun yang melihat kalau Revan tengah tersenyum jahat.
"Oke, tapi gue punya keinginan gue sendiri kalau lo kalah gue mau Atras hancur dan mengumumkan pada seluruh gengster di kota ini kalian hanya semut kecil yang berani menantang seorang racing king."
Semua geng Revandra tersenyum penuh kemenangan, ketua mereka memang lebih licik dari orang lain. Joki sempat syok atas tawaran Revan, tapi dia yakin sekali mereka yang akan menang maka dari itu Joki menerima tawaran Revan.
"Deal." ucap Joki.
"Deal." Apa yang mereka janjikan disaksikan oleh wasit dari geng Jenlot yang berada dipihak netral.
"Biar adil malam ini pertandingan untuk Revandra dan Atras saja. Gue mengajukan 3 orang dalam 4 kali pertandingan. Pertandingan akhir semua peserta harus ikut. Ini biar adil. Dari Revandra 3 orang yang maju, gue, Faqih dan Gibran." ucap Revan mantap.
Joki tersenyum penuh percaya diri, tentu dia percaya diri racing king dianggota mereka sudah kembali. Orang ini pernah sekali mengalahkan Revan dalam balapan.
"Geng Atras gue, Viko dan...." Ucap Joki terhenti sejenak, dia tersenyum miring pada Revan.
"Dan Dirga."
Deg!
Bukan Revan yang kaget tapi 4 temannya, tentu mereka tau siapa Dirga. "Sejak kapan dia pulang." Bisik Digo pada Irfan.
"Aku tidak tau."
Sementara Revan sudah tau kalau Dirga, racing king dari Atras sudah kembali dari luar negeri. Inilah sebabanya kenapa Joki benari sekali menantang Revandra. Karena adanya Dirga dia yakin mereka akan jadi pemenangnya.
Gibran menatap Revan sejenak, melihat ketua mereka berwajah tenang saat kemunculan Dirga membuat Gibran juga lebih percaya diri.
Mereka semua tidak tahu kalau Revan sudah mencari seluruh informasi tentang Dirga. "Masih berani menantang ternyata." ujar Revan.
Balapan segera dimuali bendera sudah dikibarkan. Orag yang pertama dalam balapan ini Faqih dan Viko. Viko tersenyum mengejek pada Faqih. Namun, Faqih yang memang selalu tenang menghadapi segala hal hanya menganggap Viko angil lalu.
Bendera mulai dikibarkan dalam hitungan detik pertandingan sudah dimuali, Viko dan Faqih saling berebut untuk memenangkan balapan pertama mereka.
__ADS_1
Balapan kali ini tidak main-main, karena kedua kelompok mempertaruhkan geng mereka sendiri.