Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
3 Bulan


__ADS_3

Bismillah.


Waktu terus berjalan tak terasa pernikahan Revan dan Sakira sudah berumur hampir 3 bulan. Keduanya hidup secara berdampingan berusaha saling mengerti satu sama lain.


Hubungan Revan dan kedua orang tuanya juga semakin membaik, Sakira benar-benar bisa menarik Revan untuk melakukan hal-hal positf. Gengster itu kini sudah banyak berubah, Memang tak salah kedua orang tuanya menjdohkan dia dengan Sakira.


Setiap harinya bahkan Revan terus merasa jatuh cinta pada sang istri. Sakira selalu dapat membuat dirinya merasa tenang dan lebih baik seperti sekarang ini mereka tengah menikmati kebahagiaan, Sakira dinyatakan hamil sudah 2 minggu.


Setelah 3 bulan penantian akhirnya malakit kecil itu ini sudah berada di rahmi Sakira, Revan benar-benar menjaga istrinya. Sekarang dia juga sudah jarang ke markas. Semua pekerjaannya dihendel oleh Gibran.


"Masya Allah, kamu akhirnya isi juga, Nak." Ucap umi Intan bahagia.


Kebahagiaan bukan hanya dirasakan oleh umi Intan saja, tapi semua orang yang sudah lama menanti kehadiran malaikat kecil itu di dalam perut Sakira.


"Alhamdulillah umi, Allah mengasih kepercayaan ini pada Kira dan kak Revan." Jawabnya, sambil mengelus sendiri perutnya yang masih terlihat rata itu.


"Mama juga senang tak lama lagi rumah ini akan menambah keluarga baru lagi." Sambung mama Diana yang diangguki oleh semua orang.


Mereka mendoakan yang terbaik untuk janin yang sekarang ada di dalam perut Sakira. Tepat saat kehamilan Sakira, bersama itu juga Revan telah menyelesaikan sidang skripsinya.


Sungguh hadiah yang tiadatara bagi Revan mendengar istrinya hamil, dia tak menyangka akan menjadi seorang ayah. Mengingat dulu betapa bejat dirinya, Revan sama sekali tidak menyangka akan berada dititik ini sekarang.


"Kalau hamil jangan stres, jangan kecapean ya Kira." Pesan mama Diana yang diangguki saja oleh Sakira.


Ketiga wanita yang terpaut usai berbeda itu tengah duduk di taman belakang yang berada di rumah orang tua Revan, kini telah menjadi mertua Sakira.


Umi Intan sangat bersyukur putrinya mendapatkan mertua yang menyayangi Sakira seperti akannya sendiri.


"Mama pengen sekali cucu perempuan, tapi nanti mau dikasih laki-laki ataupun perempuan mama akan tetap senang." Ujar mama Diana.


"Sakira hanya bisa berdoa ma, semua sudah Sakira serahkan pada Allah yang Maha Kuasa. " Mamam Diana maupun umi Intan tersenyum mendengar penuturan Sakira.

__ADS_1


"Semoga kelak cucu-cucu nenek menjadi anak yang soleh dan soleha." Doa umi Intan yang mendapatkan amin dari Sakira dan mama Diana.


"Aamiin." Ucap mereka kompak, setelah itu mereka sama-sama tertawa renyah.


Disaat sedang asyik tertawa dan berbincang-bincang, tiba-tiba seorang menghampiri ketiga wanita yang tengah bersantai itu.


"Disini rupanya." Ucap orang yang baru saja datang, tak lupa sembuah senyum dia suguhkan pada ketiga wanita yang sedang duduk di depannya ini.


Sakira mendongokan kepalanya kala mendengar suara yang sangat dia kenali menghampiri mereka. Bukan hanya sangat Sakira kenali, tapi dia juga rindu dengan pemilik suara barusan.


"Kak Revan sudah pulang." Ucapnya senang, dia bahkan langsung menarik tangan suaminya untuk bersalam.


Revan tersenyum melihat tingkah istrinya, jika dulu mereka belum menikah Sakira sama sekali tak pernah melirik kearahnya. Berbeda dengan sekarang gadis itu kini begitu manja padanya, tentu Revan menyukai hal itu.


"Mama, Umi. Revan bawa Sakira nya dulu ya." Izin Revan pada mama dan mertuanya.


"Kak Revan apa sih!" kesel Sakira, bukan umi Intan maupun mama Diana yang menjawab melainkan Sakira kini tengah malu di hadapan kedua wanti paruh baya disamping kiri dan kanannya ini.


"Kita mau kemana sih kak!" gerut Sakira kesal.


Entalah sejak dinyatakan positif hamil mood Sakira. Jadi sering tidak menentu saja, kadang dia suka tiba-tiba ngambek dengan suaminya.


"Itu aja oke sayang, nanti kamu tau sendiri. Jawab Revan lembut.


Revan tau menghadapi bumil tidak lah mudah, apalagi dimasa-masa perkembangan bayi di dalam perut itu. Maka dari itu Revan tak ingin membuat istrinya marah.


Sampai di dalam rumah suasana begitu gelap gulita, Sakira heran tak pernah sebelumnya dia melihat rumah mertuanya jadi gelap gulita seperti ini.


"Kak kok gelap?" tanya Sakira dengan heran.


Revan tak langsung menjawab dia sibuk memegang tangan istrinya dengan begitu lembut. Berharap dari tanganya itu dia bisa memberikan kehangatan tersendiri pada Sakira.

__ADS_1


"Jangan takut aku ada disini, sekarang ayo kilat lihat kenapa rumah jadi gelap begini." Ujar Revan memarik pelan tangan istrinya.


Bukan hanya sekadar menarik tangan sang istri, nyatanya Revan membawa Sakira kedalam pelukannya.


Trang!


Saat itu juga ruang yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang menerang, sudah banyak orang disekitar mereka berdua rupanya.


"Selamat milad sayang, terima kasih sudah mau menjadi bagimana dalam hidupku. Terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anak-anakku, terima kasih sudah memilih aku untuk menjadi imam mu diibadah terpanjang ini." Sungguh kata-kata Revan membuat Sakira begitu terharu, tak menyangka suaminya akan berkata dengan begitu romantis bagi Sakira.


Apalagi tatapan cinta yang terpancar dari kedua bola mata Revan membuat Sakira tak percaya, jika laki-laki di hadapannya ini adalah pembuat onar di kota Surabaya saat mereka belum menikah.


Tanpa basa-basi Sakira kembali memeluk suaminya, dia hari ini begitu bahagian. Semua orang di dalam ruangan itu juga bisa merasakan kebahagain yang dirasakan oleh Sakira dan Revan. Umi Intan dan mama Diana juga sudah berada di tempat itu, entah sejak kapan kedua wantai paruh baya itu sudah berada di ruangan yang sama dengan mereka.


"Bos jangan mesara-mesaran terus, kalau mau jangan sekarang nanti aja di kamar. Kalau disini masih banyak yang jomblo." Celetuk Irfan yang mengundang tawa semua orang.


Sakira langsung melepas pelukannya pada Revan, kala sadar di ruangan itu ramai orang. Kini pipi Sakira terasa memanas dia yakin saat ini pipinya sudah berubah memerah.


"Lo ganggu momen aja Irfan tau nggak sih!" kesel Revan.


"Tapi gue setuju sama Irfan." Sahut Faqih yang membuat Revan mendengus kesal.


Berbeda dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, mereka malah terkekeh bersama melihat tingkah Revan.


Papa Riko dan mama Diana ikut bahagia melihat putranya bahagia begitu pula dengan umi Intan dan abi Gilang. Ternyata putri mereka berada ditangan yang tepat, walaupun dulu abi Gilang sempat meragukan Revan.


"Kagak punya gandengan bilang aja lu pada irikan sama gua." Balas Revan telak.


TAMAT


Thanks you All

__ADS_1


__ADS_2