
Bismillah.
"Alhamdulillah, hari ini Revan sudah diperbolehkan pulang." Ucap mama Diana begitu bahagia.
Papa Riko dan mama Diana sendiri yang menjemput Revan. Samapai saat ini Revan dan papanya masih saling mendiamkan. Sedangkan dengan mama Diana keduanya sudah mulai baikan satu sama lain, intrakasi keduanya juga sudah cukup baik.
Papa Riko masih belum berani meminta maaf secara langsung pada Revan. Beliau hanya tidak ingin perang dingin antara dirinya dan sang akan kembali terjadi, seperti sebelum Revan mengalami kecelakaan. Maka dari itu papa Riko harus mencari waktu yang pas untuk berbincang dengan Revan.
"Iya ma." Sahut papa Riko singkat.
Keduanya sedang membereskan semua barang-barang yang harus di bawa pulang. Revan tak banyak bicara. Dia membiarkan kedua orang tuanya berbincang saja sedangkan dirinya tengah berbalas pesan pada Revandra.
"Revan lu pulang hari ini?" Digo membuka obroalan pertama mereka.
Tidak biasanya memulai obrolan dalam grup wa. Mungkin saja Digo sedang tidak ada pekerjaan.
"Iya." Jawab Revan.
"*Tumben banget basa-basi lo Digo."
"Suka-suka gue, Irfan!"
"Ayo ke rumah Revan*." Ajak Gibran pada mereka semua ..
"Gas!" Jawab semuanya kompak.
Setelah itu barulah Revan memasukkan kembali hp miliknya. Kedua orang tuanya juga sudah selesai membereskan semua barang-barangnya.
Ketiganya hanya tinggal menemui dokter yang selalu memeriksa kondisi Revan. Untuk biaya rumah sakit mereka tidak perlu pusing, orang kaya pasti sudah lebih dulu melunasi biaya rumah sakit.
"Dok saya mau mengucapkan terima kasih banyak." Ucap papa Riko pada dokter yang merawat Revan.
"Sama-sama pak, bu. Lagipula sudah tugas saya sebagai dokter untuk mengurus pasien dengan baik."
"Sekali lagi terima kasih banyak dok. Kalau begitu kami permisi dulu." Pamit mama Diana.
"Silakan pak, bu."
Barulah mereka benar-benar pulang, tentu saja dengan papa Riko yang menyetir mobil. Sebenarnya Revan juga sudah sanggup untuk kembali mengemudi, tapi dia tahu pasti tidak akan diperbolehkan dulu untuk segera mengemudi.
Selama perjalan pulang ke rumah di dalam mobil tidak ada obrolan diantara ketiga orang itu. Masing-masing dari mereka hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai di kediaman Farenza, Gibran dan yang lainnya juga tiba diwaktu yang sama. Jadilah 4 orang itu membantu kedua orang tua Revan.
"Kalian disini juga." Ucap mama Diana basa-basi.
__ADS_1
Keserigan bersama Revandra mama Diana jadi lebih akrab pada geng motor yang dipimpin oleh anaknya sendiri.
"Iya tante." Sahut Faqih.
Untung saja disaat Revan masih berada di rumah sakit tidak ada satupun musuh yang tau kalau dirinya tengah dirawat di rumah sakit. Kecelakaan yang menimpa Revan benar-benar dirahasiakan oleh anggota Revandra.
"Ayo semua masuk dulu." Ajak mama Diana.
Digo dan Irfan langsung saja menerobos masuk tanpa malu sedikitpun, sudah menjadi kebiasaan mereka.
"Gue ke kamar dulu, kalian tunggu disini aja." Ucap Revan sambil menatap datar temab-temannya.
"Iya," sahut mereka semua malas.
Sepeninggalan Revan pekerja di rumah itu membawakan Gibran dan yang lainnya minuman dan juga camilan.
"Tidak perlu repot-repot mbok." Ucap Digo.
"Tidak apa den, kalian semua teman den Revan. Ayo silakan diminum, kuenya juga jangan lupa dicicipin.
"Siap mbok." Sahut Irfan semangat.
Sementara mama Diana dan papa Riko masih berada di kamar mereka untuk membicarakan hal penting. Keduanya berniat untuk meminta maaf pada Revan.
Sama halnya dengan Revan di kamarnya dia juga sedang mengingat seberapaa banyak dosa yang dia lakukan karena telah melawan kedua orang tuanya dulu.
Di rumah orang tua Sakira.
"Umi, Sakira. Abi dengar hari ini, Nak Revan sudah diperbolehkan pulang." Ucap abi Gilang pada anak dan istrinya.
"Alhamdulillah." Sahut umi Intan dan Sakira secara bersama.
"Umi, Sakira duduk sini dulu ada hal penting yang harus abi bicarakan."
"Baik abi."
Kini ketiganya tengah berada di ruang keluarga untuk membicarakan hal yang mungkin serius. Karena tak biasanya abi Gilang seperti ini.
"Jadi abi mau bicara apa?" tanya umi Intan membuka pembicaraan. Umi tersenyum pada anak dan suaminya, saat ke ruang tamu tak lupa umi Intan membawakan minum untuk mereka mengobrol.
"Abi hanya ingin bertanya pada Sakira, kalau tiba-tiba, Nak Revan meminta pernikahan kalian untuk disegerkan apakah Sakira sudah siap?" tanya abi Gilang sungguh-sungguh.
Sakira menatap umi dan abinya secara bergantian, sejak pertama kali Sakira menyetujui perjodohan ini. Berarti dia sudah siap dari segala halnya.
"Insya Allah abi. Apapun yang terjadi nanti Sakira sudah siap." Jawab Sakira begitu mantap.
__ADS_1
Umi Intan dan abi Gilang menghembuskan nafas lega, putri mereka memang benar-benar sudah dewasa, begitu bijak dalam mengambil keputusan.
"Jadi sekarang kita mau ke tempat, Nak Revan sekarang atau bagimana?" tanya abi Gilang memastikan.
"Nanti sore saja bi, sekalian sihlaturahmi sama mereka." Bukan Sakira yang menjawab ucapan abi Gilang. Tapi umi Intan.
"Baiklah." Sahut abi Gilang.
"Sekarang Sakira bantu umi masak dulu untuk di bawa ke rumah, Nak Revan." Ajak umi Intan.
"Baik umi." Patuh Sakira.
Sementara abi Gilang kembali sibuk dengan pekerjaannya. Kini umi Intan dan Sakira sibuk di dapur.
"Assalamualaikum umi." Ucap Gia tiba-tiba saja dia sudah di dapur entah sejak kapan dia berada di rumah orang tua Sakira.
"Waalaikusalam." Jawab Sakira dan umi Intan bersama.
Sakira dan umi Intan tersenyum pada anak bungsu di keluarga mereka. Langsung saja Sakira menghampiri Gia.
"Gia kamu sama siapa datang?" tanya Sakira.
"Sendiri."
"Naik apa?" tanya Sakira lagi.
"Heheh, Naik motor." Jawab Gia.
"Aku kesini mau minta makan sama umi Intan." Ucap Gia begitu jujur.
Umi Intan dan Sakira hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah si bungsu yang sudah dewasa ini.
"Makan sayang." Ujar umi Intan. "Tapi maaaf umi dan yang lainnya sudah sarapan lebih dulu." Sesal umi Intan.
"Tidak papa umi, anda mbak Kira yang nemenin Gia makan." Sahutnya enteng.
"Kalau ada maunya kamu manggil mbak." Sahut Sakira.
"Maaf mbak sudah kebiasaan sih soalnya." Jawab Gia.
"Sudah makan dulu sana. Dan Sakira temani Gia lebih dulu." Suruh umi Intan.
Kedua gadis itu akhirnya segera menuju ruang makan, tentu saja hanya Gia yang mengisi perutnya. Karena dia sudah sangat lapar, bundanya yang terburu-buru pergi tadi pagi menyuruh dirinya untuk masak sendiri. Tapi karena malas jadilah Gia lari pergi ke runah umi Intan untuk mengisi perutnya.
"Abi dimana mbak?"
__ADS_1
"Mungkin di kamar, sedang sibuk dengan berkas-berkas beliau. Kata abi ada beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan." Terang Sakira yang membuat Gia mengangguk mengerti.