Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Malu


__ADS_3

Bismillah.


Malam hari di rumah sakit, tepat Faqih di rawat. Revan dan yang lainnya berada disana, seperti kata Revan sebelumnya dia akan menginap untuk menjaga Faqih. Benar saja 4 anggota inti geng Revandra itu kini berada di kamar rawat Faqih.


"Lo pada kalau mau berisik lebih baik pualng!" usir Revan.


Dia merasa terganggu oleh suara Irfan dan Digo yang sedari terus berisik membuat ruang rawat Faqih tak sepi sama sekali, untung ruang rawat Faqih kedap suara.


Cep!


Mendengar ancama dari ketua mereka Digo maupun Irfan terdiam seribu bahasa. Kedua orang itu tak berani lagi mengeluarkan suara mereka. Tak lupa kepala keduanya yang tertunduk menatap lantai. Seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh orang tuanya saja.


"Lagian katanya mau cagain orang sakit, malah bisik rusuh." sahut Gibran.


Kedua orang tua Faqih memang tidak menemani Faqih di rumah sakit atas permintaan Revan dan ketiga temannya. Mereka mengatakan kalau mereka saja yang akan menjaga Faqih.


Faqih masih belum siuman sampai saat ini, setelah dia melewati masa kritisnya. Tanpa disadari oleh Revan dan yang lainnya Faqih terganggu atas suara berisik mereka.


Faqih tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, perlahan-lahan dia membuak matanya, karena terganggu akan suara berisik yang ditimbulkan oleh Irfan dan Digo. Sampai Faqih mendengar suara tegas Revan.


"Rev." panggil Faqih lirih.


Merasa dirinya terpanggil Revan segera mencari sumber suara. "Faqih." buru-buru Revan mendekati Faqih yang sudah siuman diikuti ketiga temannya.


"Akhirnya lo sadar juga Qih."


"Panggil dokter aneh!" suruh Digo pada Ifran.


Buru-buru Irfan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Faqih. Tak berselang lama Irfan sudah kembali dengan seorang dokter laki-laki yang sudah berumur. Dokter itu segera memeriksa keadaan Faqih.


"Syukurlah semua sudah membaik, mungkin 5 sampai 6 hari sudah diperbolehkan pulang." ucap dokter.


"Terima kasih banyak dok." ucap Irfan.


Diantara mereka berlima memang Irfan yang paling ramah pada orang lain. Revan? Jangan pernah berharap dia akan bersikap ramah, mungkin dunia sudah terbaik kalau seorang Revan bersikap ramah. Apalagi pada orang yang tidak Revan kenal.


Gibran, memang memiliki sikap dingin. Faqih dan Digo masih mending dari pada Revan maupun Gibran.

__ADS_1


"Sama-sama. Untuk nak Faqih sudah malam saya harap banyak istrihat. Saya permisi." ucap dokter ramah.


'Cek! gimana mau istirahat dok, orang yang jaga aja spek beginian.' keluh Faqih sambil menatap teman-temannya malas.


Karena sudah malah, Revan dan yang lainnya memutuskan memberitahu orang tua Faqih besok pagi kalau Faqih sudah siuam.


"Udah pada tidur gih." suruh Faqih.


"Oke, lo juga tidur ya bang!"


"Abang pala lo Irfan!" ketus Faqih.


"Tidur!" satu kata yang keluar dari mulut Revan membuat semua terdiam membisu seperti sebelumnya.


Yah, Revan memang mudah sekali emosi. Jika ada sesuatu yang tak sesuai menurutnya pasti Revan akan marah. Revan itu terlalu galak kalau kata Irfan.


Mereka semua akhirnya tidur juga setelah Revan bersuara. Benar-benar tidak ada satupun yang berani melawan Revan.


Waktu bergulir dengan begitu cepat tak terasa pagi hari sudah menyapa, sekarang jarum jam di kamar rawat Faqih sudah menunjukkan pukul 7:30. Dari 5 orang yang tidur di kamar rawat Faqih, hanya tinggal Revan yang belum bangun.


Gibran sudah memberitahu orang tua Faqih, kalau Faqih sudah siuaman. Saat ini orang tua Faqih sedang menuju rumah sakit bersama kakak kandungnya, yaitu umi dan abi Sakira. Tak ketinggalan Sakira pula ikut. Gia pun ikut ke rumah sakit bersama orang tuanya.


"Kata teman Faqih sudah, tadi malam mereka siuman." jawab bunda Erna.


"Alhamdulillah." sahut Sakira.


Gia menatap malas saudara sepupunya itu, Gia memang tidak membenci Sakira. Hanya saja kadang Gia kurang suka pada Sakira. Bagimana tidak Gia mengira bundanya lebih menyayangi Sakira sebagai anak susunya sekaligus keponakannya itu.


"Nggak usah tanya-tanya bunda Kira!" ketus Kia.


Sakira yang mendengar perkataan Gia tersenyum pada sepupunya tanpa menyahuti perkataan Kia, gadis itu sekalipun tak pernah marah pada Gia. Orang tua Sakira juga maklum terhadap Gia. Alhamdulillah nya Faqih menyayangi Sakira seperti adik sendiri. Faqih tak pernah membedakan Gia maupun Sakira.


Sampai di rumah sakit mereka semua langsung menuju ruang rawat Faqih.


Kelk!


Pintu ruang rawat dibuka oleh seorang, semua orang yang berada di dalam menoleh pada pintu, munculah ayah Aklam dan yang lain.

__ADS_1


"Astaga si Revan apa kagak mau semua keluarga Faqih dateng sedangkan dia masih molor di sopa." ucap Irfan pada ketiga temannya.


"Dia malu? Nggak mungkin, urat malu si Revan udah putus sejak lahir Ir." sahut Digo.


Gia dan Sakira yang melihat Faqih sudah sadar berlari kecil mendekati Faqih. "Abang!" ucap keduanya.


Faqih tersenyum melihat Sakira dan Gia mendekat kearahnya merasa sedikit heran Faqih melihat Gia tidak cari gara-gara pada Sakira.


"Loh Revan belum bangung." ucap bunda Erna.


Kini semua mata tertuju pada Revan yang masih tidur diatas sofa, sialnya saat semua orang sedang menatap Revan. Revan malah membuak matanya santai sambil menoleh ke brankar Faqih.


Disaat itulah kedua nerta Revan dan Sakira bertemu. Revan belum sadar sampai dia memutar arah pandangannya.


"Heh, bunda." ucap Revan sambil nyengir.


Jujur Revan malu sekali, apalagi dia kemabli bertemu dengan gadis yang baru kemarin Revan meminta traktir. Biasanya Revan tak semalu ini.


'Gadis itu kenapa ada disini lagi.' batin Revan menahan malu.


"Katanya sih jagain yang sakit kok malah terakhir bangun, Padahal yang sakit udah bangun dari subuh." sindir Digo.


"Mungkin Revan lelah Digo, kagak usah kayak gitu sama Revan." bela Gia.


"Nggak usah belain dia!" ucap Faqih dan Digo kompak.


"Kalian!"


"Sudah-sudah jangan ribut, malu ada tamu. Faqih salam dulu sama abi dan umi." suruh bunda Erna.


Sejak Sakira kecil hidup bersama keluarga Faqih, sejak saat itulah mereka memanggil orang tua masing-masing dengan sebutan yang sama.


Faqih bisa lebih leleusa dekat dengan Sakira, karena Sakira sama seperti Gia sudah menjadi adik kandung sendiri. Karena mereka satu susuan dengan bunda Erna.


Disaat Sakira kecil tidak tahu kenapa asi umi Intan tidak keluar, ditambah lagi Sakira tidak bisa meminum susu formula. Sampai disaat usai Faqih satu tahu dia harus rela berbagi asi dengan Sakira.


Sejak saat itu Faqih tahu kalau Sakira adiknya setelah Sakira berumur 1 tahun 7 bulan lahirlah Gia.

__ADS_1


Revan sudah bergabung dengan yang lainnya setelah tadi pamit sebentar ke kamar mandi untuk cuci muka.


"Malunya sampai ubun-ubun gue." sindir Gibran.


__ADS_2