
Bismillah.
"Mama, Sakira mau ijin pulang dulu. Soalnya hari ini Sakira harus ngisi les anak-anak." Ucap Sakira pada mama Diana.
Sakira pikir dia sekarang bisa pergi lebih dulu, karena sudah banyak orang yang menemani Revan di rumah sakit. Dia juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai guru les.
Mama Diana menatap Sakira sejenak, memang sejak pagi Sakira dan umi Intan lah yang menemani mama Diana dari pagi untuk menjaga Revan.
"Iya bu Diana, saya juga mau pamit pulang. Kasihan nanti kalau suami pulang kerja belum ada makana." Sambung bunda Intan.
Kali ini mama Diana juga menoleh pada umi Intan sambil tersenyum tulus, senyum yang mengisyaratkan terima kasih. Sementara Revan yang mendengar Sakira pamit pulang pada bundanya segera menoleh pada orang-orang yang ada di kuris sofa.
Karena masih asik berbincang, jadi Sakira tidak menyadari kalau Revan tengah menatap dirinya. Ada rasa kecewa kala Revan mendengar Sakira akan segera pulang. Padahal dia masih ingin Sakira tetap berada didekatnya. Kalau sudah begini Revan pasti akan menyalahkan anak-anak Revandra.
"Tatap aja terus belom mahram kali." Sindir Faqih.
Sedikit tidak terima dia karena adiknya di tatap begitu insten oleh lawan jenis yang bukan mahramnya, yah. Walaupun tidak dapat dipungkiri Sakira dan Revan akan segera menikah.
"Tau apa lo tentang mahram?" bukan Revan yang merespon Faqih, melayinkan Irfan.
"Terus lo tau apa? gini-gini gue masih tau batasnya. Emang lo pernah lihat gue dekat sama cewek lain selain kedua adek gue." Sungut Faqih.
Gibran menepuk pundak Faqih pelan. "Biasa Irfan." Ucap Gibran singkat.
Mungkin hanya Faqih dan Revan yang mengerti kata-kata singkat yang keluar dari mulut Gibran.
"Iya tau. Udah biasa dia mah." Sahut Faqih akhirnya.
Gibran mengangguk, sedangkan Irfan menatap mereka berdua cengoh. Berbeda dengan Revan dan Digo yang tengah menatap pujaan hati mereka, walaupun Sakira dan Gia tidak melihat kearah 5 laki-laki disana.
Kembali pada Sakira dan para perempaun lainnya.
Mama Diana tiba-tiba memeluk Sakira begitu erat, entah apa yang terjadi. Sampai-sampai membuat Revan heran sendiri.
"Maaf selama 2 bulan ini selalu menyusahkan Kira." Sakira yang ada di dekapan mama Diana menggeleng pelan.
"Mama Sakira tidak sedikitpun merasa direpotkan, Sakira senang malah bisa membantu sesama." Balas gadis berhijab hitam itu dengan bijak. Tak lupa seluas senyum dia tujukan pada mama Diana.
__ADS_1
Revan jelas melihat senyum itu walaupun hanya dari samping saja. Melihat hal itu Revan mendengus kesal.
"Aneh sama mama aja dia mau senyum, lah sama gue natap aja kagak mau. Kayaknya lantai lebih menarik dari pada seorang Revan Farenza." Dengus Revan merasa tidak terima.
Walaupun dia bicara pelan, tapi Digo yang tepat berada disampaing Revan mendegar jelas apa yang Revan katakan.
"Nanti kalau udah nikah lo bisa puas nantap dia, Sakira sangat menjaga pandangannya." Ucap Digo sok bijak.
Sontak keempat temanya menatap Digo cengo, tumben sekali kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu benar adanya.
"Tumben bener lo." Komentar Irfan.
"Jelas gue emang selalu bener." Tak ada lagi yang meresopon ucapan Digo, narsisinya terlalu tinggi. Selalu gemar memuji diri sendiri.
Gia akhirnya memutuskan untuk ikut pulang bersama Sakira dan umi Intan. Untung tadi Sakira membawa mobil saat pergi ke rumah sakit.
"Nak Revan dan yang lainnya, umi, Gia dan Intan pulang duluan ya." Pamit umi Intan pada semuanya.
"Siap umi." Jawab mereka serentak.
"Bawa Qih, ya sudah. Assalamualaikum." Salam umi Intan diikuti oleh Sakira dan Gia.
"Waalaikusalam." Jawab semuanya.
Faqih dan mama Diana mengantar ketiganya sampai ke depan pintu ruang rawat Revan.
"Jangan nyusahin umi sama Kira lo."
"Nggak janji." Balas Gia pada abangnya.
Faqih hanya mampu berdecak sebal, adiknya kalau sudah ada Sakira pasti melupakan dirinya. Faqih merasa jadi seorang yang dibutuhkan saja baru dianggap ada kalau tidak yang dia seperti benar-benar tidak ada dibuat oleh Sakira dan Gia.
Sepeninggalan umi Intan, Sakira dan Gia. Revan meminta mama pulang agar bisa beristirahat. Revan yakin mamanya itu kurang sekali istrihat. Pada akhirnya mama Diana setuju pulang diantara Gibran. Karena tadi pagi beliau diantara sang suami ke rumah sakit. Papa Riko juga sempat mampir sebentar tadi pagi ke ruang rawat Revan sebelum pergi bekerja.
Jadilah sekarang di kamar rawat Revan hanya ada 4 orang lagi, Revan, Digo, Faqih dan Irfan.
"Lo pada ngapain sih kesini? ganggu gue aja tau nggak! Gue masih pengeng sama Sakira disini." Kesal Revan menyampaikan unek-uneknya yang sedari tadi dia tahan agar tidak memamkin teman-temannya ini di hadapan umi Intan dan Sakira. Bisa hancur imegnya di hadapan calon mertua dan calon istri.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya memang imaeg Revan sudah hancur di hadapan Sakira dan umi Intan saat pertemuan mereka kala Faqih di rawat dulu.
"Dijenguk bukanya terima kasih malah marah-marah lo." Sahut Irfan santai.
"Gue kagak minta dijenguk!" Semakin kesal saja Revan.
"Tau nggak!
"Nggak!" jawab Faqih dan Digo kompak.
"Serah! Tapi yang pasti kalian sangat mengganggu momen gue dengan Sakira!" Kali ini Revan bicara sedikit berapi-api.
"Ada lo tumben sekarang kagak nempel sama Revan lagi." Komentar Irfan setelah Revan mereda.
Faqih mendegus, "Gia emang nggak pernah suka sama Revan." Sahut Faqih enteng.
Deg!
Digo tersentak dia merasa ada harapan untuk mendapatkan hati Gia. Sedangkan Revan memang sedari awal tidak peduli.
Disini lain, Sakira dan umi Intan telah mengantar Gia pulang ke rumahnya. Setelah itu Sakira juga mengantar umi Intan pulang lebih dulu, barulah dia segera menuju tempat mengisi lesnya.
Tak butuh waktu lama Sakira sudah tidak di temapat anak-anak les. Dia langsung mengisi kelas setelah bercanda sejenak dengan anak-anak lesnya.
Rata-rata yang ikut les Sakira anak perempuan mereka masih duduk di bangku SMP, tapi tetap saja ada beberapa anak laki-laki yang mengikuti les Sakira.
Sakira yang penuh kesabaran dalam mengajar seorang membuat mereka semua betah kalau les Sakira yang mengisi. Pasalanya ada beberapa guru les tempat Sakira mengajar saat ini.
"Baiklah kita, mulai hari lesnya sekarang ya." Ucap Sakira.
"Baik mbak." Sahut mereka semua kompak.
Sakira memang dipanggil mbak di tempatnya mengisi les saat ini.
"Jadi mbak mohon fokus sama pelajaran les kali ini oke."
"Siap mbak." Lagi-lagi mereka menjawab kompak.
__ADS_1