Gengster Love Gadis Muslimah

Gengster Love Gadis Muslimah
Kehancuran Revan.


__ADS_3

Bismillah.


Revan menikmati suasana pantai sendiri, dari kejauhan dia terus menatap Oca dan sang kakak Ega. Kadang Revan tersenyum melihat kedekatan mereka, kadang juga dia tersenyum kecut.


"Jangan iri Rev, biarkan bang Ega bahagia." Ucap Revan pada diri sendiri. "Sekarang kita nikmati saja hari libur ini."


Revan berusaha mengukir sebuah senyum pada dirinya sendiri, dia tak boleh terlihat terluka maupun bersedih yang ada nanti abangnya curiga pula.


Jadilah Revan menikmati ombak yang terus pergi kearah pinggir. Dia duduk di atas pasir sambil menikmati hembusan angin yang menerpa, matanya jeli meneliti setiap ombak yang selalu datang ketepi pantia.


Revan berusaha melupakan sejenak tentang perasaannya yang kini entah dia tidak bisa menjelaskan atau menggambarkan sendiri perasaannya ini.


Baru saja Revan menutup matanya untuk lebih menikmati hembusan angin yang terus menyapa dirinya. Dia merasa ada orang yang kini mendekat kearahnya. Revan enggan untuk membuka matanya, dia pura-pura tidak merasakan ada orang yang datang.


"Rev." Panggil Ega.


Dengan sangat terpaksa Revan kembali membuka matanya, dia dapat melihat sang kakak tersenyum kearah dirinya. Bukan hanya Ega yang kini berdiri di depan Revan, Oca juga. Dia dapat melihat jelas sang kakak dan Oca saling berpegang tangan dengan erat. Lagi-lagi Revan berusaha menyungging sebuah senyum tulus.


"Kenapa bang?" bingung Revan.


"Gue udah jadian sama Oca." Bisik Ega pada adiknya itu.


Kedua bola mata Revan membelak sempurna mendengar kejujuran abangnya. Tapi kalau dipikir lagi memang dia tadi yang menyuruh abangnya untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang pas saat ini.


"Selamat bang." Ucap Revan yang membuat Ega mengangguk senang.


Lalu Revan beralih menatap gadis yabg berdiri disebelah abangnya, Revan berusaha tersenyum setulus mungkin. "Selamat ya Ca."


Rasanya ada Revan sesak sekali saat mengatakan hal tersebut. Karena sedari tadi sudah berpura-pura jadi Revan bisa menutupi segala rasa yang masuk ke dalam hatinya.


"Terus kalian ngapain masih disini?" bingung Revan.


Apakah mereka mau mengumbar kemesraan di depan dirinya. Entahlah dia jadi ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini.


"Mau ngajak balik Rev, udah sore."


"Oh, terus si Oca?" Revan menatap Ega dan Oca secara bergantian.


"Ikut kita." Sahut Ega enteng.


"Baiklah, ayo pulang."

__ADS_1


Ketiga orang itu akhirnya benar-benar memutuskan untuk pulang. Tentu saja sekarang Revan yang akan menyetir. Revan tidak melihat kiri kana saat menyeberang, mobil mereka terparkir diseberang.


Dia tidak sadar kalau ada mobil yang melaju kencang kearahnya dengan santai Revan berjalan menuju parkir. Anehnya tidak ada yang melihat aksi Revan, sampai Ega merasa ada yang aneh pada dirinya, tapi dia tak tau apa yang tadi fokusnya pada Oca, Ega melihat kearah Revan.


Disaat itu juga sebuah mobil akan menabrak Revan. "Revan awas!" teriak Ega.


Dia berlari menuju Revan meninggalkan Oca begitu saja, saat ini yang ada di dalam otak Ega hanya menyelamatkan adiknya saja tidak ada yang lain.


Oca yang melihat Ega berlari untuk menyelamatkan Revan berteriak sekencang mungkin.


"Ega!" teriak Oca, namun tak didengar oleh Ega sedikitpun.


"Revan!"


Bruk!


Duk!


Ega berhasil mendorong Revan, tapi dirinya terpental jauh akibat ditabrka mobil. Sesaat Revan membeku dia masih mencerna apa yang sudah terjadi. Sampai sesaat kemudia Revan tersdar.


"Bang Ega!" teriak Revan akhinya.


Dia sudah tak peduli rasa sakit pada kepalanya yang sempat membentur pembatas jalan. Bukan hanya Revan yang sudah menangis tapi juga Oca.


"Bang Ega bangun bang! Ban...gun bang, Revan mo...hon." Suara Revan terbata-bata karena sudah menangis.


Oca yang berada di sebelah Revan saja tak dapat berkata apa-apa lagi. Orang-orang sudah mengerumuni tubuh Ega.


Cepat dia dilarikan ke rumah sakit, dibantu oleh beberapa orang yang bertugas keamanan.


Sampai di rumah sakit terdekat Ega langsung ditangani. Pikiran Revan sudah sangat kacau dia segera menghubungi orang tuanya.


Hanya butuh 35 menit untuk orang tua Revan tiba di rumah sakit, karena lokasi mereka dengan Revan tak begitu jauh.


Sampai disana dokter baru saja keluar dari ruang pemeriksaan Ega. "Keluarga korban." Ucap dokter.


"Saya mamanya dok, bagimana keadaan putra saya?" tanya mama Diana sangat khawatir.


"Maaf."


"Maaf kenapa dok!" mara papa Riko.

__ADS_1


"Tuhan telah berkehendak lain. Kami tidak bisa menyelamatkan anak ibu dan bapak." Sesal dokter.


Deg!


Tapi mau bagaimana lagi, dokter hanya berusaha semampu mereka. Sisanya akan mereka pasrahkan pada Sang Kuasa.


Revan maupun kedua orang tuanya memantung di tempat setelah mendengar perkataan dokter.


"Nggak! Dokter bohongka? Anak saya nggak mungkin meninggal." Rancau mama Diana.


"Maaf saya permisi dulu."


Bersamaan dengan itu kedua suster membawa jenazah Ega yang sudah ditutup kain.


"Nggak." Mama Diana hanya mampu menggeleng lemah.


Nyatanya bukan mama Diana saja yang tidak teriam akan kepergian Ega, tapi juga papa Riko, Revan dan Oca.


Baru saja Oca merajuk kebahagain sebentar dengan Ega, dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Sungguh begitu sesak hati Oca dia sudah tak mampu untuk berkata-kata.


"Semua ini gara-gara kamu Revan!" bentak papa Riko.


Melihat Riko membentak putra bungsu mereka, mama Diana kini ikut menoleh pada putranya meminta penjelasan. Revan tersentak kaget kala papanya memarahi dia atas kejadian yang menimpa sang kakak.


Baru pertama kali ini Revan dibentak oleh papanya, tentu saja dia sangat kaget. Tidak ada lagi papa yang lembut. Pahlawan yang selama ini Revan kenal.


Dia mau mengelak, tapi yang dikatakan sang papa benar semua ini gara-gara dirinya, andai saat itu Ega tidak menolong Revan, pasti dia yang sekarang tak bernyawa lagi.


"Kamu akan pembawa sial!" semakin menyakiti hati Revan kata-kata yang telah keluar dari mulut papanya, Revan tak berani membantah dia tidak punya sedikitpun kekuatan.


"Kamu pembunuh Revan!"


Deg!


Sungguh kata-kata yang keluar dari mulut mamanya membuat dada Revan terasa begitu sakit tak menyangka semua orang akan menyalahkan dirinya atas kejadian ini.


Sejak hari inilah hubungan Revan dan kedua orang tuanya rengang, padahal dia juga begitu merasa kehilangan seorang kakak yang selalu melindungi dirinya. Sejak hari itu juga Revan menjadi orang yang pendiam dan dingin.


Sementara Oca memutuskan untuk pidah keluar negeri, sama seperti kedua orang tua Revan di dalam lubuk hatinya Oca juga menyalahkan Revan atas kepergian Ega.


Karena tak ingin selalu mengingat Ega, Oca tak pernah lagi kembali ke indonesia. Dia memiliki kenangan yang terlalu menyakitkan.

__ADS_1


Flacbak Off.


__ADS_2