GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps.1


__ADS_3

Saat itu aku dan awan kelabu tidak selaras, hatiku dan arah awan berbeda, aku ingin mengeluh namun kepada siapa aku harus mengeluh?


Aku melihat sosok pria yang berbeda dengan yang lain, diam, aku tidak pernah sekalipun mendengar suaranya, dia berdiri di tengah barisan panjang dan mata ini hanya tertuju padanya.


Beberapa minggu setelah mengurus pendaftaran aku tidak lagi menemukan sosok dirinya, aku mencarinya namun tidak menemukannya. Hingga akhirnya MOS tengah berjalan dan ternyata aku satu gugus dengannya, dia menjadi rebutan para senior wanita di sekolah ini, tentu aku merasa banyak yang akan menjadi saingan bagiku.


Aku juga bertemu dengan wanita cantik yang duduk sebangku denganku selama MOS, dan aku bisa menjadikannya sahabat. Aku dan temanku sering memperhatikan senior-senior kami yang mencari perhatian pada pria tampan yang entah siapa namanya. Namun dia benar-benar tidak tertarik dengan satupun senior kami, dia tetap diam dan berlalu meninggalkan mereka.


Akan sulit bagiku untuk mendekatinya jika dia hanya diam dan terus diam, jika aku mengajak dia berkenalan aku takut dia tidak akan merespon. Aku harus memikirkan strategi terlebih dulu sebelum mendekatinya.


Wanita itu menceritakan kepadaku, dia sedang jatuh cinta, jatuh cinta pada teman sebangku pria yang aku suka. Aku juga belum tahu siapa namanya, dia juga hampir sama dengannya yang tidak terlalu banyak bicara.


"Amelia Aisyah Putri, coba lihat pria yang duduk di ujung sana, dia telah mencuri pandanganku, aku ingin mengajaknya berkenalan namun aku takut, kata dia."


"Kamu tahu nama aku dari mana? Tanyaku."


"Aku melihantnya di atributmu, kata dia."


"Oh iya aku lupa, kataku."


"Kalau aku Kely Angelista, panggil aku kely, kata kely."


"Panggil saja namaku amel, kataku."


Tidak perlu waktu yang lama untuk kami saling mengenal, karena kami sama-sama orang yang cepat bersosialisasi dengan orang lain atau bisa di bilang berjiwa sosial.


Pada hari terakhir MOS aku diminta oleh kakak senior untuk menyanyikan lagu balonku dalam bahasa inggris. Aku tidak sendiri ada pria itu juga bersamaku. Aku tidak tahu berbahasa inggris, bagaimana bisa aku menyanyikan lagu itu.


"Maaf kak, tapi aku tidak pandai berbahasa inggris, kataku."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu harus menari sesuai dengan lagu itu, kata kak sila, salah satu senior wanita yang terkenal akan kecantikan, kekayaan dan kecerdasannya."


"Dan kamu siapa namamu? tanya kak sila."


"Ghozali Al Gaffar, panggil saja al, kata al."


"Apa kamu bisa menerima tantangan itu? Tanya kak sila."


"Bisa, kata al."


Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya, dan aku juga sudah tahu siapa namanya. Saat mendengar al bernyanyi aku jadi tahu kalau al juga anak yang bertalenta, tidak hanya itu cara bicaranya pun berbeda, sangat indah. Di tengah nyanyian al akupun menari dengan perasaan malu karena nada kemana tariannya kemana. Mereka menertawakan aku, sunggu rasanya aku ingin lari dari tempat ini.


Setelah itu pengumuman penempatan kelas akan segera diumumkan. Dan kelas kami tidak akan berubah, tetap bersama gugus kami dan kelas kami IPA1 yang jaraknya cukup jauh dari kantin.


Esok harinya kami mulai sekolah, pagi-pagi sekali nenek sudah membangunkan aku, aku tinggal bersama nenek dan kakekku sejak umurku lima tahun, ibu dan ayahku pergi entah kemana, mereka hanya menitipkan aku kepada kakek dan nenek untuk dirawat. Kakek dan nenek sangat memanjakan aku, mereka melakukan apa saja demi diriku.


"Amel, bangun kamu akan terlambat jika belum juga bangun, kata nenek."


Setelah mandi dan berpakaian aku segera turun untuk sarapan, nenek sudah menyiapkan nasi goreng yang lezat dengan segelas susu.


Aku ke sekolah mengendarai sepeda berwarna merah jambu, aku mempercepat laju sepedaku agar tepat waktu sampai kesekolah. Di tengah perjalanan sebuah motor melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, sampai dia tidak sadar karenanya bajuku terkena lumpur bekas hujan semalam. Dia merusak semangat pagiku.


"Bagaimana ini, aku tidak mungkin pergi dengan pakaian kotor seperti ini, tapi ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah MOS. Biarlah aku akan tetap ke sekolah, kata amel."


Baru sampai di depan gerbang saja, orang-orang yang melihatku, menertawakan aku dan menghina diriku. Aku sedikit merasa malu dan kesal namun ada kely yang membantuku menghentikan mereka.


"Amel, mengapa bajumu bisa sekotor ini? Tanya kely."


"Ada motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak melihat ada lumpur, dan lumpur itu mengenai pakaianku, kataku."

__ADS_1


"Apa kamu ingat dengan motornya? Tanya kely."


"Iya aku ingat, motornya berwarna hitam dan sepertinya yang mengendarai juga anak SMA, kataku."


"Ya sudah ayo kita masuk ke kelas, kata kely."


Saat ibu guru memasuki kelas dan melihat pakaianku kotor, dia menegurku namun aku masih bisa dimaafkan karena ini hari pertamaku sekolah. Ibu guru mengetes kami semua untuk mengerjakan soal matematika yang ada di papan tulis secara bergiliran dan al mendapat giliran pertama, dia mengerjakan soalnya dengan sangat santai dan juga cepat, setelah itu giliran pria yang duduk di sampingnya lalu giliranku.


Aku berdiri lama di depan papan tulis, aku sama sekali tidak bisa mengerjakan soal ini sampai akhirnya, ibu guru marah padaku dan memintaku untuk berdiri di depan kelas dengan mengangkat salah satu kakiku dan kedua tanganku menarik telinga kanan dan kiri, lagi-lagi aku mempermalukan diriku sendiri. Sudah pasti al tidak mau berteman dengan orang sepertiku.


Satu jam lamanya aku berdiri akhirnya bel istirahat berbunyi. Aku kembali duduk di kursiku dan memijat betisku yang sakit.


"Mel, kamu tidak ke kantin? Tanya kely."


"Tidak, aku tidak bisa, pakaianku kotor dan kakiku masih lemah untuk berjalan ke kantin, kata amel."


"Kalau begitu aku pergi membeli minum dulu untukmu, kata Kely."


"Iya, kata amel."


"Dan jangan lama-lama, kata amel."


"Iya iya, kata kely."


(KELY)


Di kantin aku bertemu dengan kakak senior seli dan kawan-kawannya, mereka sedang menggoda pria yang aku sukai, dan aku tidak bisa melawan mereka karena bagaimana pun aku masih junior di sekolah ini. Jika aku lawan mereka bisa menjadikan aku sebagai bahan bullyan.


Aku mendengar mereka menyebut nama dion, yah nama pria itu dion, hatiku bahagia saat aku tahu namanya. Aku bisa menceritakan kejadin ini pada amel, namun bahagiaku tidak sampai semenit, aku melihat dion mesrah dengan kak rere, anggota kedua dari geng seli, dan dia juga lumayan cantik. Dan sepertinya dion juga tertarik pada kak rere.

__ADS_1


Saat aku hendak mengambil minuman dari dalam kulkas, tiba-tiba ada yang sengaja memajukan kakinya hingga aku tersungkur ke lantai. Sungguh tega hati mereka, mereka menertawakan aku termasuk dion, hanya Al saja yang tetap diam. Aku langsung bangkit dan buru-buru ke kelas.


*****


__ADS_2