
"Kalian bertiga bisa diam tidak? kita kemari itu buat menyelesaikan tugas bukan untuk mendengarkan bicara kalian, kata dion."
Berbagai jenis daun dan pohon telah aku tulis, tinggal jenis bunga yang belum aku tulis. Kami sampai pada titik yang penuh dengan berbagai macam bunga yang lebat. Aku mulai menulis satu persatu jenis bunga yang ada di hutan ini.
"Awwh, teriak seseorang, kami tersentak kaget melihat Al dengan darah di tangannya."
"Oh tidak, Al menyentuh duri dari bunga beracun, kalau tidak segera kita keluarkan durinya, akan bahaya bagi al, kata dion."
Tanpa berfikir panjang aku mengisap darah di jari Al, lalu mengeluarkan duri bunga beracun itu. Dan aku melepas bandol kain yang aku pakai untuk melilitkannya di jari Al, agar darahnya tidak mengalir.
Kami juga memutuskan untuk kembali naik taksi karena keadaan Al tidak memungkinkan untuk naik motor. Dion, Al, dan Regina pulang bersama sedangkan aku pulang dengan kely.
Sesampai di rumah masing-masing, aku merasakan sakit kepala, dan lemas. Dan aku berusaha untuk tidur, mungkin efek dari racun itu juga sudah mengalir di tubuhku.
(AL & DION)
Ketika al sadarkan diri, dia melihat dion ada bersamanya. "Al, kamu sudah sadar? kamu itu bikin kami semua khawatir tahu, kata dion."
"Maaf karena sudah merepotkan kalian semua dan aku berterima kasih karena kamu telah menolong diriku, kata Al."
"Ucapan terima kasih itu bukan untukku tapi lebih pantas untuk amel, asal kamu tahu hanya dia yang berani mengisap darahmu dan mengeluarkan duri beracun itu dari jarimu, padahal sudah jelas itu beracun, kata dion."
"Benarkah? gadis itu nekad sekali hanya untuk menolongku dia melakukan semua itu, kata Al."
"Dan kain yang melilit jari kamu itu adalah badol amel, kata dion."
"Besok aku akan mengembalikannya sekaligus berterima kasih padanya, kata Al."
"Lebih baik kamu lanjutkan tidurmu, aku akan pulang, kata dion."
"Baiklah, kata Al."
Esok paginya kepalaku semakin sakit, aku pun tidak bisa bangun dari tempat tidur. Mungkin racun yang terlanjur menyatu dengan darah Al juga meracuni tubuhku. Nenek yang hendak membangunkan aku seperti hari biasanya tersentak kaget melihat wajahku yang sangat pucat.
"Kek, cepat kemari, lihat amel, kata nenek."
__ADS_1
"Iya tunggu, kata kakek sambil berlari ke kamarku"
"Amel! apa yang terjadi dengan cucuku? Tanya kakek."
"Aku juga tidak tahu, kata nenek."
"Cepat hubungi rumah sakit terdekat, kata nenek."
Setelah menelfon rumah sakit, tidak lama ambulance datang dan aku dilarikan ke rumah sakit untuk diperiksa. Setelah sampai di rumah sakit dan perawat membawaku ke ruang UGD, setelah dokter memeriksa keadaanku, dokter pergi memberitahu kakek dan nenek yang menunggu di luar ruangan.
"Dokter, bagaimana keadaan cucu saya? cucu saya sakit apa dokter? Tanya nenek."
"Kakek tenang dulu, cucu kakek terkena racun, dan besok dia juga sudah bisa pulang jika ia rutin meminum obat dan racunnya sudah benar-benar hilang, kata dokter."
"Syukurlah, apa sekarang kami boleh masuk? Tanya kakek."
"Iya silahkan, kata dokter."
Kakek dan nenek menanyakan mengapa aku bisa terkena racun. "Amel bagaimana bisa racun ada dalam tubuhmu? Tanya kakek."
"Mulai besok kamu tidak boleh jajan sembarangan, nenek akan membuatkan kamu bekal setiap hari, kata nenek."
"Tapi nek, amel sudah SMA bukan anak kecil lagi yang harus membawa bekal ke sekolah, kataku."
"Kamu tidak boleh membantah kali ini, kata nenek."
*****
"Eh kalian lihat amel tidak? Tanya kely pada teman-teman satu kelas kami."
"Bisa jadi amel absen hari ini, karena racun dari darah Al yang semalam, kata dion."
"Dion kamu benar juga, kata Al."
"Pokoknya sepulang sekolah kalian berdua harus ikut denganku ke rumah amel, kata kely."
__ADS_1
"Memangnya kamu tahu rumah amel di mana? Tanya dion."
"Tidak sih, amel belum pernah memberitahu aku alamatnya, kata kely."
"Lalu bagaimana caranya kita bertemu amel, kalau kita tidak tahu alamatnya, kata dion."
"Aku tahu caranya, kata Al."
"Kalian berdua ikut denganku, kata Al."
"Memangnya kita mau kemana? Tanya kely."
"Sudah ikut saja, kata al" al membawa kami ke ruang kepala sekolah."
"Untuk apa kita keruangan kepala sekolah? Tanya dion."
"Untuk mencari alamat amel, pasti di biodata amel ada alamatnya, kata Al."
"Oh iya, kenapa aku tidak berfikir hal demikian ya, kata kely."
Hanya Al yang berani masuk ke ruang kepala sekolah, kely dan dion hanya menunggu di luar. Tidak lama Al keluar dengan selembar kertas di tangannya.
"Apa kamu mendapatkan alamatnya? Tanya kely."
"Iya, sepulang sekolah kita akan pergi ke rumahnya, kata Al."
"Kalau begitu sekarang kita kembali ke kelas, kata dion."
Hari ini mereka belajar tentang sejarah, dimana kita dituntut untuk banyak mencatat. Mereka mulai menulis satu persatu kalimat yang keluar dari mulut pak toni. Setelah mencatat bell istirahat berbunyi. Kely, dion dan al, pergi ke kantin bersama. Kami memesan makanan dan minuman, kami duduk dengan bangku yang sama.
"Eh ada Al dan Dion disana, ayo kita kesana, kata seli"
"Ayo, ayo, kata rere, dan fatin."
"Hai Al, hai dion, sapa geng seli serentak."
__ADS_1