GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps. 15


__ADS_3

BAB 4


KECEWA


Cinta yang mulai surut pada dua hati yang saling mengecewakan.


Pagi ini aku pergi ke perpustakaan kampus untuk mengerjakan tugas skripsi dari dosen. Tugas yang sulit bagi orang yang memiliki otak seperti diriku. Aku mengetuk-ngetuk meja menggunakan pena sambil berfikir tema yang cocok buat skripsi kali ini.


Dion melihatku kebingungan dan menghampriku di sudut perpustakaan.


"Hai mel, sapa dion."


"Hai dion, balasku."


"Kamu terlihat sedang ada masalah, masalah Al? Tanya dion."


"Bukan masalah Al, tapi masalah skripsi yang harus aku kumpulkan beberapa hari lagi dan aku sama sekali belum punya ide, kataku."


"Coba aku pinjam laptop kamu, pintah dion."


"Memangnya kamu bisa? Tanyaku."


"Lihat saja, kata dion."


Dion mengerjakan skripsi milikku dengan sangat teliti namun cepat, aku memandang dion secara diam-diam dan berfikir seolah-olah dion adalah Al. Tidak lama kely datang menghampiri aku dan dion. Kely memeluk dion dengan sangat mesrah bagai dinginnya musim semi, dan mereka bermesraan di hadapanku lagi, aku membuang muka tidak ingin melihat mereka.


"Amel, al di mana? Tanya kely."


"Aku tidak tahu, balasku."


Aku pergi meninggalkan mereka bermaksud memberi mereka waktu berdua meskipun sering berduaan. Belum jauh kaki ini melangkah tiba-tiba ada yang menarik rambutku dari balik tubuhku, dan membuat rambutku terurai. Aku tidak biasa mengurai rambutku karena itu membuatku gerah.


"Mel, sumpah kamu cantik banget, rambutmu juga cantik dan hitam, bagaimana kalau mulai besok kamu mengubah gaya? Tanya kely."


"Tidak akan berhasil, dia tidak akan terpesona sama sekali denganku, kataku."

__ADS_1


"Tapi tidak ada salahnya dicoba, iya kan? Tanya kely."


"Aku akan mencobanya demi Al, tapi kamu harus membantuku, kataku."


"Tenang saja pasti aku bantu, kata kely."


*****


Keesokan harinya aku mengurai rambutku di kampus dan berjalan bak putri di negeri dongeng, semua orang memandangku. Namun Al tidak melihatku dan akupun menyapanya.


"Hai Al, kataku."


"Amel, apa-apa ini! Kemana ikat rambutmu? Aku tidak menyukai ini, kamu lebih terlihat seperti wanita murahan, aku lebih suka kamu yang dulu, kata Al."


Aku terkejut melihat reaksi Al yang berkata kasar padaku.


"Al mau kamu apa sih, aku yang seperti dulu dicuekin dan sekarang aku dihina, Al aku juga punya hati, punya perasaan dan kamu sudah melukai itu semua."


Air mataku pecah seketika mendengar kata murahan dari mulut Al yang dilontarkan kepadaku.


"Jika menurutmu aku bak wanita murahan di pandangan matamu, tetapi mengapa kamu mau berpacaran denganku, apa kamu fikir hubungan itu hanya sebuah kata belaka? kamu pernah tidak berfikir sedikit saja seberapa sering hatiku terluka, Kataku panjang lebar dan meninggalkannya."


"Aku melakukan semua ini, karena aku takut seseorang akan merebutmu dariku, ucap al dalam batin sambil mengusap sebutir air mata yang jatuh di pipinya."


Amel kembali menuliskan penderitaannya.


"Kita berjalan dengan langkah yang sama namun menuju arah yang berbeda."


"Apa mungkin aku bisa lepas dari dia! dia yang terlanjur aku cinta."


"Aku menunggu maaf kamu untukku, dan kuyakinkan kamu akan dimaafkan olehku, namun kamu tidak melakukan itu walau sekali, kamu begitu sulit mengucap kata MAAF sejak dulu hingga sekarang."


Jangan lakukan ini padaku, aku masih ingin bersamamu namun sepertinya kamu punya kepribadian ganda yang kadang baik dan terkadang kamu terlihat sangat kasar. Buktikan padaku kalau aku benar-benar wanita yang kamu sayangi.


Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapimu, aku juga manusia biasa yang tidak selamanya bisa bersabar. Aku mohon jangan biarkan aku benar-benar merasa salah memilihmu.

__ADS_1


Semalaman aku menunggu pesan darimu yang tidak kunjung ada, aku kira kamu akan menyadari jika kamu yang salah bukan aku dan harusnya meminta maaf itu kamu bukannya aku. Sesekali aku melihat keluar jendela berharap kamu datang menemuiku dan semua penantianku sia-sia. Aku putuskan untuk tidur saja karena aku telah menunggumu.


Esok harinya aku menunggu dirimu di kampus, namun aku sama sekali tidak melihatmu, jangan hukum aku dengan pergi dari pandanganku. Meski berkali-kali sakit namun aku masih bisa memaafkan dirimu karena aku sudah buta dengan cintamu. Dan aku minta jangan bersebunyi dariku, karena aku tidak akan bisa menemukanmu.


Sekitar 1 jam aku menunggu dirinya dan akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya namun kali ini dia tidak sendiri, ada cewek lain yang ia gandeng. Sekali lagi aku terluka olehnya, tetapi aku tetap berusaha memasang wajah palsu dengan tetap tersenyum pada mereka.


Tuhan ujian darimu begitu berat aku jalani, aku tidak sanggup menahan air mataku. Namun aku tidak boleh menangis di depan mata mereka.


"Hai Al, sapaku."


"Iya, kata Al."


"Hai aku syakira, dan siapa namamu? Tanya syakira."


"Aku amel, kataku."


"Oh iya Al aku masuk kelas duluan ya, kata syakira."


Dan sekarang tinggalah aku dan Al saja.


"Al katakan padaku, apa salahku? Tanyaku."


"Aku tidak perlu menjawabnya, dan aku harus pergi menyusul syakira sekarang."


Al meninggalkan aku sendiri yang sedang menahan rasa kecewa, dan air mataku meluap setelah Al menjauh dariku. Aku buru-buru menyeka air mataku karena kely dan dion menghampiri diriku.


"Amel ada apa dengan dirimu? kamu menangis ya? Tanya kely."


"Tidak, aku hanya mengingat film yang aku tonton semalam, kataku."


"Kamu bohong, setahuku kamu tidak suka nonton, kata kely."


"Ayo katakan mel, biar aku memberinya pelajaran, kata dion."


"Kamu tidak akan bisa melakukan itu dan sampai kapanpun kalian tidak bisa memahami apa yang aku alami selama ini, kataku."

__ADS_1


Aku kembali meninggalkan mereka yang masih bingung mengapa aku menangis.


*****


__ADS_2