
"Kami juga merindukanmu amel, sekarang kamu ada dimana? Tanya kely."
"Aku ada di bandung, di rumah paman surya, aku sangat merindukan kakek dan nenekku, maka dari itu aku pulang ke indonesia dan lupa memberikan kabar kepadamu, kataku."
"Kami tidak masalah dengan hal itu, bagaimana kabarmu? Tanya kely."
"Aku baik-baik saja, kataku berbohong menyembunyikan sakitku (maafkan aku kely karena aku sudah mengatakan satu kebohongan padamu, namun aku terpaksa melakukan itu, kataku dalam hati)."
"Syukurlah, jika kamu baik-baik saja, kata kely."
"Dan kamu bagaimana kabarmu, dion dan juga anakmu? Tanyaku."
"Kami semua baik-baik saja, kata kely."
"Kalau begitu aku tutup telfonnya ya karena aku harus membantu nenek memasak untuk makan malam, kataku."
"Iya, baiklah, kata kely."
Nenek memintaku untuk mengupas bawang merah dan putih, aku juga harus mengulek bawang itu dengan cabai merah yang rasanya sangat pedas. Aku tidak biasa dengan aroma pedas seperti ini sehingga aku bersin-bersin. Setelah semua masakan selesai, tugas selanjutnya membawa semua hidangan ini ke meja makan.
Di meja makan sudah ada kakek dan paman surya yang menunggu makanannya, mereka terlihat sangat lapar. Di tengah makan malam berlangsung, kakek bertanya padaku.
"Amel, menurutmu putra pria yang seperti apa? Tanya kakek."
Pertanyaan kakek tersebut membuat aku tersedak,
"Putra? putra pria yang sangat baik, sopan, dan juga penyayang, kataku."
"Apa kamu menyukainya? Tanya kakek."
"Mengapa kakek menanyakan hal seperti itu? Tanyaku."
__ADS_1
"Kakek hanya ingin memastikan saja, jika benar kakek akan meminta putra untuk melamarmu, kata kakek."
"Kek cukup! jangan memaksa amel untuk menikah, amel tidak bisa, kataku."
"Tapi, apa alasanmu untuk tidak mau menikah? Tanya kakek."
"Aku tidak bisa memberitahu kalian alasannya, kataku sambil menangis."
Aku tidak bisa menahan sakitnya kepalaku karena tangisanku sendiri, setiap sudut ruangan seakan berputar 180 derajat. Tubuhku terkapar di lantai sebelum paman membawaku ke kamar, mereka semua panik, terutama kakek yang terlihat sangat kesal pada dirinya sendiri karena telah membuatku seperti ini.
Saat aku sadar, kakek menggenggam telapak tanganku dengan sangat erat, lalu kakek meminta maaf dengan semua pertanyaan yang membuatku merasa sedikit tertekan. Aku juga merasa bersalah pada kakek, karena penyakitku ini, kakek harus meminta maaf padaku. Nenek memintaku untuk istirahat, agar keadaanku lebih baik lagi dan besok aku bisa beraktivitas kembali.
Esok harinya putra datang menjenguk diriku, dan aku juga tidak menyangka putra memasak untuk diriku. Dia membuatkan aku bubur dan menyuapiku dengan sangat sabar.
"Amel, kamu sakit apa? Tanya putra."
"Aku tidak sakit, aku hanya merasa sangat lelah saja semalam, kataku."
"Iya baiklah, aku mau ke toilet dulu ya, kataku."
"Iya hati-hati, biar aku bantu berdiri, kata putra."
"Oke, kataku."
Saat aku berada di toilet handphone aku berdering, putra bingung mau mengangkatnya atau menunggu aku kembali dari toilet.
Putra menunggu terlalu lama dan memutuskan untuk mengangkat telfonnya, tetapi putra tidak bicara sepatah katapun, karena matanya tertuju pada obat-obatan yang ada di dalam tasku.
"Putra! kataku."
"Amel, aku mohon katakan yang sejujur-jujurnya, kamu sakit apa? Tanya putra."
__ADS_1
"Putra, itu bukan milikku tapi, kataku belum sempat aku melanjutkannya."
"Tapi apa amel, mengapa kamu harus berbohong, jika kamu tidak mau memberitahu kepadaku, tidak apa-apa, aku akan bertanya pada kakek dan nenek saja, kata putra."
"Putra! putra! jangan, aku mohon mereka juga tidak tahu hal ini, aku akan memberitahukannya hanya padamu, tapi sebelum itu, aku mau kamu berjanji untuk tidak mengatakan apa-apa kepada kakek, nenek, dan juga paman surya, kataku."
"Aku berjanji dan kamu bisa memegang janjiku, kata putra."
"Kata dokter aku terkena gagal ginjal, dan aku harus meminum obat-obatan itu agar sedikit membantu menghilangkan nyeri dan sakit kepalaku, kataku."
"Amel, itu penyakit yang parah, mengapa kamu tidak jujur saja pada kakek, nenek, dan juga paman surya? Tanya putra."
"Aku tahu keputusanku ini salah, namun aku akan lebih merasa bersalah jika membuat mereka terus mengkhawatirkan aku, mereka sudah cukup baik padaku, kataku."
"Mereka akan lebih merasa bersalah dibandingkan kamu, mereka akan merasa tidak memperhatikanmu sehingga tidak tahu jika kamu sedang sakit, kata putra."
"Yang kamu katakan itu benar, tetapi aku tidak akan sanggup mengatakannya kepada mereka, kataku."
"Jika kamu mau, aku yang akan mengatakannya pada kakek, nenek, dan juga paman surya, kata putra."
"Tidak putra! kamu sudah berjanji padaku, kataku."
"Baiklah jika itu mau kamu, tapi aku akan membawamu ke dokter dan kamu tidak boleh menolak, kata putra."
"Baiklah, kataku."
Putra mengantar aku ke rumah sakit untuk kembali diperiksa oleh dokter, perjalanan tidak terlalu jauh namun melelahkan bagiku. Setelah sampai di rumah sakit, kami harus menunggu beberapa menit untuk mengantri. Tidak lama dokter memanggil namaku, aku merasa sangat ingin berlari menjauhi ruangan ini. Tapi aku tidak bisa membuat putra kecewa denganku, dia sudah mengantarku ke tempat ini.
"Dokter kalau boleh tahu, amel sakit sudah berapa lama? Tanya putra."
"Memangnya amel tidak memberitahu kamu? Tanya dokter."
__ADS_1
"Tidak, bahkan dia juga menyembunyikan sakitnya dari kakek, nenek dan juga pamannya, kata putra."