
Mereka berempat pun pergi ke suatu rumah sakit terbesar yang ada di bandung. Hampir sekitar 15 menit mereka mencari ruangan amel dirawat. Dan akhirnya mereka menemukan ruangan amel, dan ada putra yang mendampingi amel saat itu.
Kely terlihat gemetar melihat sahabatnya lemah mematung di tengah keramaian sahabatnya. Kely menggenggam jari amel yang dingin dan lembut itu sambil menangis. Dilanjutkan dengan cristofer, dion dan Aabriella.
"Kalau boleh tahu kamu siapa, Tanya kely pada sosok lelaki yang bersama amel tadi."
"Aku putra, aku dan amel saling dijodohkan namun amel tetap menganggap aku sebagai teman terbaik, kata putra."
"Terima kasih sudah memberitahukan kami keadaan amel saat ini, kata kely."
"Sudah seharusnya kalian tahu, kata putra."
Tidak lama perbincangan mereka, amel mengalami kontraksi nyeri yang sangat menyiksa tubuh lemahnya itu. Yang mengharuskan dokter mengeluarkan semua orang yang ada di dalam ruangan ini.
Semua orang yang menunggu hasil dari dokter begitu gelisah akan keadaan amel di dalam sana.
Dokter muncul dengan wajah yang sudah bisa ditebak jika kondisi amel tidak begitu baik.
Malam sudah gelap, mereka berlima tertidur di samping amel yang belum sadar juga dari kemarin.
"Mereka semua terbangun karena amel menyentuh kepala mereka."
"Amel, Alhamdulillah kamu sudah sadar, mengapa kamu tidak jujur kepada kami kalau kamu sedang sakit, kami datang demi dirimu, aku sangat rindu bertemu denganmu, kata kely sambil memeluk amel yang tetap diam."
"Maafkan kami amel, kami tidak bisa menjagamu sehingga kamu sakit seperti ini, kata dion."
Amel hanya memejamkan matanya sembari mengeluarkan air mata. Putra menyeka air mata amel dengan wajah yang begitu sedih. Amel menarik tangan putra dengan tenaga yang sangat tidak berdaya. Sampai telinga putra mengenai sungkup yang terpasang di wajah amel. Amel berusaha mengatakan sesuatu pada putra.
"Putra, sekarang adalah saat yang tepat untuk kamu menggali tanah yang berada tepat di samping pohon di danau tempat kita bertemu, dan ambil peti yang aku tanam, kata amel."
Putra pun menitip amel pada sahabat-sahabatnya, dan pergi ke tempat yang amel perintahkan.
Putra menggali tanah itu dengan perasaan bimbang, dan penasaran dengan isi peti itu, setelah mengambil peti itu, putra kembali ke rumah sakit dan menemui amel.
"Aku sudah mengambil apa yang kamu peintahkan, kata putra."
__ADS_1
Dan amel kembali menarik tangan putra.
"Sekarang buka peti itu, pinta amel."
Putra pun membuka peti itu dan menemukan sebuah surat di dalamnya. Putra juga membaca surat itu sampai tidak menyadari air matanya terjatuh tanpa terpedulikan lagi rasa tegar.
For you
Putra Arfandi
15 juni 2018
Maafkan aku yang menyamar menjadi awan disaat kamu yang seharusnya bahagia.
Lepas dan lupakan aku seperti caramu melepas balon di kala itu, tanpa meminta balon itu untuk kembali lagi.
Berhenti mengharapkan senja yang tidak mungkin hadir saat malam menyepi bumi.
Satu yang harus kau tiru, yaitu gerimis, yang meski menjatuhkan pasukannya tetap tersenyum pelangi selepas redup langit.
Aku terlahir sebagai beban mereka yang bersamaku hingga detik ini.
Alasan terbesarku tidak memberimu harapan adalah karena ketidakmampuan diriku melihatmu terluka di kemudian hari, mengalami apa yang aku alami sebelumnya. Aku mengorbankan cintaku demi kebahagiaan masa depanmu kelak.
Jangan menjadi seperti diriku yang semasa hidup mengalami luka hati yang tak lagi mampu dinalar.
Setelah membaca surat itu, putra langsung memeluk amel dengan sangat erat. Terlihat amel juga bersedih dalam diamnya.
Saat amel tidak bergerak lagi, semuanya hening, putra berlari memanggil dokter dan perawat yang ada di rumah sakit itu.
Mereka diminta untuk keluar dari ruangan amel, di luar mereka semua terlihat begitu panik. Putra menggaruk-garuk kepalanya dengan sedikit kesal. Mengapa tidak dari awal ia tahu tentang penyakit amel untuk dirawat di rumah sakit.
Setelah dokter keluar, mereka semua langsung melingkari dokter.
"Maafkan kami, amel sudah tidak bisa kami selamatkan, kata dokter."
__ADS_1
"Kakek, nenek, paman, dan sahabat-sahabat amel serta putra langsung masuk dan melihat amel yang pucat."
"Amel bangun, jangan tinggalkan kami, kami masih ingin bersamamu, kata kely."
"Amel, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu, kata dion."
"Kamu adalah gadis yang terbaik yang pernah aku kenal, kata cristofer."
"Amel, I'm sorry (maafkan aku), kata Aabriella sambil memeluk tubuh amel yang kaku."
"Lepas semua penderitaan yang selama hidup menyiksamu, aku tegar karena kamu yang memintanya, tapi perlu kamu tahu aku cinta meski kamu tak lagi bersamaku di dunia ini, kata putra."
Selain itu kakek, nenek dan paman amel menangis histeris melihat amel benar-benar pergi meninggalkannya, mendahului dirinya yang lebih tua darinya.
Di pemakaman amel, kely dan dion terkejut melihat Al juga ada di pemakaman amel.
"Mau kamu apa lagi ha?! kamu tahu, kamu sudah banyak memberi penderitaan buat amel, dan sekarang percuma kamu ada disini, kata kely sambil memukul dada Al yang tetap diam."
"Kamu sahabat terbaikku dan kamu juga sahabatku yang brengsek, hatimu begitu tega menyakiti amel yang mencintaimu tulus dari hatinya, kata dion."
"Dari mana kamu tahu mengenai pemakaman amel? Tanya kely."
"Putra yang memberitahukan aku, dan memintaku untuk datang di sini, kata Al."
"Yang al katakan benar, aku melihat nama Al sayang di kontak amel, maka dari itu aku juga memintanya untuk hadir, kata putra."
Setelah pemakaman itu selesai, kely, dion, cristofer dan Aabriella kembali pulang ke negara mereka tinggal. Dan putra tetap ingin menjadi cheff di sebuah restoran bintang lima yang ada di Bandung.
-SELESAI-
PENULIS
Nama : HENY NORZAIDA
Email : hynrzaida@gmail.com
__ADS_1