GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps. 29


__ADS_3

"Mengapa kamu mau menerima perjodohan ini, sementara kita belum pernah bertemu dan berkenalan sebelumnya? Tanyaku."


"Karena aku percaya Tuhan akan memberikan jodoh untukku melalui cara apapun, kata putra."


"Sepertinya kamu pria yang baik, apa pekerjaanmu? Tanyaku."


"Aku seorang cheff, kata putra."


"Wah berarti kamu bisa mengajari aku memasak, kataku"


"Tentu saja bisa, kata putra"


Sakit perutku kembali kambuh dan kepalaku juga mulai sakit, tubuhku dingin terkena hujan, rambutku juga basah. Putra menggendongku ke rumah paman dengan keadaan menggigil.


Sesampai dirumah kakek, nenek, dan paman surya melihat putra sedang berlari menggendongku.


"Putra apa yang terjadi dengan amel? kalian berdua hujan-hujan ya? Tanya kakek."


"Sepertinya amel kedinginan terkena air hujan, aku juga sudah memintanya untuk berteduh namun amel menolak dan memilih untuk duduk di bawah gerimis hujan, kata putra."


"Kalau begitu, kamu bawa amel ke kamarnya dan berikan dia selimut, nenek akan buatkan teh panas untuknya, kata nenek."


Mereka sangat panik karena diriku, mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi denganku. Setelah aku sadar dari pingsanku, aku tidak lagi melihat putra. Mungkin dia sudah pulang karena pakaiannya juga basah karena menemaniku duduk di bawah gerimis hujan. Aku merasa bersalah padanya, aku harus meminta maaf padanya jika nanti aku bertemu dengannya lagi.


*****

__ADS_1


Aku memutuskan untuk pergi ke dokter untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dokter mengambil sampel darahku untuk mengecek penyakit yang aku derita. Aku juga sudah menjelaskan kepada dokter bila aku sering merasakan sakit perut dan sakit kepala yang luar biasa. Setelah menunggu dua jam akhirnya hasil laboratorium sudah keluar.


Dokter memberikan hasilnya padaku, dan akupun membaca surat itu dan mengetahui jika aku positif terkena gagal ginjal, tapi kata dokter masih ada kesempatan untuk menyembuhkan itu dengan cara operasi ginjal. Aku tidak akan melakukan itu, aku tidak ingin kakek, nenek, paman, dan putra mengetahui bahwa aku terkena gagal ginjal. Dokter sudah memberiku obat untuk menghilangkan rasa nyeri dan pusing.


Selama aku berada di perjalanan pulang, aku terus saja memegang perutku yang terasa sakit. Sesampai di rumah aku langsung mengunci kamarku dan meminum obat dari dokter, setelah itu aku menyembunyikan obat tersebut agar kakek, nenek, dan juga paman tidak mengetahuinya. Aku yakin mereka tidak akan sanggup mengetahui itu dan pasti mereka akan berusaha agar aku pulih dari penyakit ini.


Nenek mengetuk pintu kamarku, pasti nenek mengkhawatirkan aku yang sedari tadi hanya berdiam diri di kamar. Aku membukakan pintu untuk nenek, betapa beruntungnya aku mempunyai nenek yang begitu perhatian dan menyayangiku lebih dari orangtua aku sendiri. Nenek membawakan makan malam untukku.


"Amel, kamu harus makan, jika tidak, pasti kamu akan sakit, kata nenek."


"Aku akan makan sebentar lagi, kataku."


"Kamu sedang memikirkan sesuatu? katakan pada nenek jika kamu ada masalah, kata nenek."


"Amel tidak sedang ada masalah nek, kataku."


"Iya, terima kasih nek, kataku."


"Sama-sama sayang, sekarang kamu istirahat, nenek akan pergi menemani kakekmu, kata nenek."


Lagi-lagi aku menangis bila nenek terus saja memperhatikan aku, aku yang sebentar lagi meninggalkan mereka. Aku menghabiskan makanan dari nenek, meski perutku terasa sakit.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku lagi, setelah aku buka ternyata putra yang datang.


"Kamu ada apa malam-malam datang kemari? Tanyaku."

__ADS_1


"Lebih baik kita bicara di luar saja, kata putra."


"Baiklah, kataku."


"Aku datang kemari karena kakek kamu yang memita agar aku datang dan menemanimu yang seharian tidak keluar kamar, mereka sangat khawatir padamu, kata putra."


"Aku hanya ingin sendiri, kataku."


"Kamu tahu mengapa ada ombak di laut? Tanya putra."


"Karena takdir ombak itu bersama laut, kataku."


"Karena ombak menjadi teman untuk sunyinya laut, dan kamu seperti ombak itu yang menjadi teman untuk sunyinya hatiku, kata putra."


"Kamu bisa saja, oh iya aku mau bertanya padamu, kataku."


"Silahkan saja, aku akan mendengar dan menjawab pertanyaanmu tersebut, kata putra."


"Jika suatu saat aku terkena penyakit, apa kamu akan tetap bersamaku? Tanyaku."


"Mengapa kamu bicara seperti itu? Tanya putra."


"Kamu hanya perlu menjawab pertanyaanku, kataku."


"Kamu tahu langitkan? Tanya putra."

__ADS_1


"Iya, memangnya kenapa dengan langit? Tanyaku."


__ADS_2