GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps. 25 bab9:memilih teman


__ADS_3

Biarkan aku seperti ini.


11 mei 2018


Aku bekerja sebagai seorang penulis, dan menerbitkan puluhan novel. Dan salah satu novel yang aku buat adalah novel gerimis mata hati yang aku ambil dari kehidupan nyataku. Dimana aku terluka untuk kedua kalinya oleh dua pria yang sama-sama aku sayangi.


Aku berkeliling dunia mencari inspirasi untuk aku tulis, banyak yang bisa aku pelajari dari dunia, dan sekaligus untuk mengobati hati yang telah terluka untuk kedua kalinya.


Takdir membawa aku dalam keadaan itu, dimana sampai sekarang aku belum bisa menerima laki-laki lain setelah andra. Aku takut untuk kembali mencoba jatuh cinta, aku takut semua ini akan terjadi lagi, dimana aku akan merasakan sakit untuk yang ketiga kalinya.


Cukup mereka berdua saja yang meninggalkan luka dalam hatiku. Mereka sudah cukup melengkapi hidupku meski dengan penderitaan.


******


Aku bahagia mendengar kabar dari kely dan dion yang sudah memiliki seorang putra, aku tidak bisa melihat proses persalinan kely, karena aku sedang berada di Prancis. Aku akan menyelesaikan tulisanku terlebih dulu baru berkunjung ke London menemui kely dan dion.


Aku duduk santai di sebuah kursi di pinggiran jalan yang ramai penduduk, aku meneguk kopi yang masih hangat sambil memandangi langit sore. Seseorang menepuk pundakku, aku melihatnya wajahnya sangat asing bagiku, aku belum pernah melihatnya, tapi anehnya dia tahu aku orang Indonesia dan dia juga pandai berbahasa Indonesia.


"Hai, aku cristofer."


"Hai juga, kataku."


"Aku tahu nama kamu, amel kan? Tanya cristofer."


"Iya, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Tanyaku."


"Mungkin kamu belum pernah melihatku tapi aku pernah melihatmu di salah satu acara tv, Dan aku juga suka semua novel yang kamu buat, semuanya menyentuh hati, kata cristofer."


"Terima kasih atas pujian kamu, kataku."


Dia banyak cerita pengetahuannya tentang diriku.


Kami menghabiskan waktu bersama dengan topik yang terus terganti.


"Mengapa kamu mengidolankan diriku? Tanyaku."


"Sebab kamu wanita yang tangguh dan berbakat, kata cristofer."


"Aku juga tahu kamu pandai bermain gitar dan bernyanyi, kata cristofer."


Cristofer kembali mengingatkanku pada Al, dia yang dulu mengajari aku memetik gitar sementara aku juga berlatih bernyanyi, aku pernah membuat lagu setelah aku merasa sangat rapuh ditinggal orang-orang yang aku sayangi. Cristofer memintaku untuk menyanyikan lagu yang aku buat.


Kita Tidak Bisa Bersatu


Dahulu aku punya cinta, cintanya juga untukku

__ADS_1


Aku pernah bahagia, dan pernah terluka


Angin dan hujan menjadi satu namun tidak akan pernah abadi


Seperti cinta kita yang kini telah rapuh


Reff :


Jangan pernah tinggalkan aku lagi


Janji untuk tetap bersama kau ingkari


Kau tinggalkan aku dan terus tinggalkan aku


Lalu siapa yang akan bahagiakanku jika bukan dirimu


Pernah terlukis nama di hati


Pernah kau jadi milikku dan sekarang kau jadi miliknya


Kini aku sendiri tanpa siapa yang tahu


Tuhan beri hati untuk dia yang setiat


Cristofer bertepuk tangan untukku, bukan hanya cristofer tetapi pengunjung yang ada di cafe itu. Tidak mudah untuk menjadi apa yang kita mau, seperti diriku yang membutuhkan begitu banyak pengorbanan dan juga kerja keras.


Setelah hari itu aku dan cristofer pergi ke suatu museum louvre di prancis, aku memilih museum louvre karena museum itu adalah bekas istana kerajaan prancis dan menjadi salah satu museum terbesar di dunia. Aku suka tempat-tempat yang bersejarah, aku juga suka menghabiskan waktuku untuk menulis dan menatap langit sore untuk memikirkan sesuatu yang menarik untuk ditulis.


Aku menghidupkan camera dan mulai membidik satu demi satu obyek, namun tidak jarang ada tempat yang tidak memperbolehkan kita mengambil gambar. Hari ini kami habiskan waktu di museum ini, hingga aku merasa sangat kantuk dan berpamitan dengan cristofer.


"Cristofer, aku harus kembali ke apartemen, ini sudah terlalu larut malam, di negaraku aku tidak terbiasa tidur tengah malam, kataku."


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan dan jangan lupa untuk datang lagi ke cafe kemarin, aku akan mengajakmu ke tempat lain di prancis, dan kamu pasti akan terpukau melihatnya, kata cristofer."


"Baiklah, kataku sambil meninggalkannya."


Tidak lama aku menunggu taksi, setelah satu jam aku di atas taksi dan akhirnya sampai juga di apartemen. Aku menggantung jaket dan melepas syal di leherku, cuaca yang dingin membuat tubuhku mudah lelah, aku membuat coffee untuk menghangatkan tubuhku.


Aku duduk di jendela apartemen yang luas, aku mulai mengetik semua moment pertama aku di prancis dan salah satu negara pertama yang aku kunjungi, selanjutnya aku akan memikirkan negara mana lagi yang harus aku kunjungi untuk mencari inspirasi.


Aku mendengarkan musik dari handphone milikku. Aku terlalu sibuk mendengarkan musik dan juga mengetik sampai aku dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba masuk dan mengagetkanku.


"Hallo amel, how are you? (apa kabar?) what are you doing? (kamu sedang apa?) Tanya Aabriella."


"You startled me, I was listening to music and wondering, (kamu mengagetkan aku, aku sedang mendengarkan musik dan mengetik) kataku."

__ADS_1


"May I hear the music you are listening to? (boleh aku mendengar music yang sedang kamu dengarkan?) Tanya Aabriella."


"Of course, (tentu saja) kataku."


"Indonesian music? what is the meaning of this song, (musik Indonesia? apa arti dari lagu ini?) Tanya Aabriella."


"It's a song of evidence, the meaning of the song tells the story of not easy to win a person's heart, (itu lagu bukti, arti lagu itu menceritakan tentang tidak mudahnya memenangkan hati seseorang) kataku."


"Good song (lagu yang bagus) kata Aabriella."


Aabriella adalah salah satu temanku di prancis, dia juga suka menulis cerita sepertiku, kami bertemu di bibliotheque nationale de france (perpustakaan nasional prancis) saat itu aku ingin membaca sebuah buku novel yang sama sedangkan bukunya hanya ada satu saja, kami berbincang mengenai banyak hal tentang tulisan.


Esok hari aku kembali ke cafe kemarin dan menunggu cristofer, aku tidak sendiri, ada Aabriella bersamaku. Cristofer bilang akan mengajak aku ke suatu tempat yang indah. Terdengar suara cristofer memanggilku.


"Amel, aku disini, kata cristofer."


"Hai cristofer, ayo kemari, kataku."


"Cristofer kenalin ini Aabriella teman sesama penulis, dan Aabriella ini cristofer, dia temanku juga disini, kataku."


"Hai, kata mereka saling menyapa."


Cristofer mengajak kami ke place de la concorde itu adalah alun-alun kota berbentuk octagonal yang terletak di antara tuileries gardens dan champs elysees, dan merupakan alun-alun terluas.


Aku merasa sangat bahagia karena mereka, aku bisa bertemu teman baru yang baik seperti kely dan dion. Selama perjalanan kesana kami bersenda gurau, agar suasana semakin menyenangkan.


Aku juga bisa menulis kisah pertemananku di Indonesia bersama kely dan dion serta pertemananku di prancis bersama Aabriella dan cristofer. Meski kami beda agama itu tidak menjadikan masalah untuk kami berteman, untuk kami saling berbagi cerita.


Sesampai disana kami terus mengabadikan moment dengan sangat baik, aku seketika berada di dunia yang berbeda. Hampir 2 jam kami menghabiskan waktu di tempat ini, kami memutuskan untuk mencari tempat lain lagi dan yang kali ini akan kami kunjungi adalah menara effiel.


Setiba di tempat itu aku terdiam memandangi menara itu dan seketika air mataku terjatuh, karena aku mengingat kakek dan nenek yang ada di Indonesia. Selama aku ada di prancis aku tidak lagi pernah mendengar kabar mereka. Aku merindukan mereka, aku janji akan pulang menemui mereka setelah urusanku di prancis selesai.


"Amel, why are you crying? (mengapa kamu menangis?) Tanya Aabriella."


"I just remember my grandparents in Indonesian (aku hanya merindukan kakek dan nenek aku di Indonesia)."


"Sudah, jangan menangis, karena mereka juga akan merasa sedih jika melihatmu menangis, kata cristofer"


"I will not cry anymore (aku tidak akan menangis lagi)" kataku sambil memeluk mereka.


"You two wait a minute here, I'll be right back (kalian berdua tunggu sebentar disini, aku akan segera kembali)" kata cristofer.


Kami pun menunggu cristofer, entah apa yang akan dia lakukan. Cristofer kembali dengan membawa es krim di tangannya. Kami menyantap es krim bersama, aku merasa punya keluarga baru.


Malam mulai tiba, kami harus pulang, aku dan Aabriella pulang bersama, setelah sampai di rumah, aku menghidupkan cameraku dan melihat foto kebersamaanku dengan mereka. Entah sampai kapan aku bisa menyelesaikan tulisanku ini, aku harus kembali menemui kakek dan nenek. Aku terlelap, tubuhku begitu lelah karena hari yang kulalui.

__ADS_1


*****


__ADS_2