GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps. 11


__ADS_3

"Namaku amel, kataku."


"Kalau aku yohan, aku siswa di sekolah SMA KARYA, jaraknya tidak jauh dari sekolahmu, kata yohan."


"Aku mau ke sana dulu, kataku sambil meninggalkannya."


Aku tidak menyadari jika poinnya sudah terbalik, tim basket kami kalah 3 angka. Dan aku melihat Al tidak lagi bermain bagus seperti sebelumnya. Ada apa dengannya? Apa mungkin dia cemburu melihatku dengan yohan? Kalau benar, aku jahat sudah mengacaukan pertandingan pertama Al.


Setelah pertandingannya selesai, aku langsung menemui Al dan memberinya handuk serta sebotol air dingin, namun Al lebih memilih berlalu meninggalkan aku. Aku melihat regina menghampiri Al dan melakukan hal yang sama sepertiku dan Al menerima semua itu.


Aku mendengar seseorang memanggil namaku di seberang lapangan. Aku melihat yohan sedang melambaikan tangan ke arahku. Akupun menghampirinya.


"Amel, ambil coklat ini sebagai tanda terima kasihku, kata yohan."


"Maaf, tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku membantumu ikhlas tanpa balasan, dan itu sudah menjadi suatu kewajiban bagi anak PMR seperti kami, kataku."


"Eh kamu jangan dekat-dekat dengan amel karena amel sudah punya Al, kata kely."


"Kamu tidak perlu mengatakan itu kely, jika kamu mau, silahkan saja, aku tidak akan keberetan karena dia cewek genit, kata Al."


"Al, aku terima kamu marah padaku, aku terima kamu bicara dengan cewek lain, tapi untuk kali ini aku tidak terima perkataanmu. Dimana letak kesalahanku, aku hanya menjalankan tugasku sebagai ketua medis disini, aku tidak menyangka kamu seperti ini, kataku sambil meninggalkan mereka."


"Aku tegaskan padamu, amel adalah kekasihku, dan aku tidak akan semudah itu melepaskannya. Jangan kamu fikir aku sungguh-sungguh dengan ucapanku tadi. Aku tidak akan bodoh melepas amel yang selama ini aku cintai. Dan jangan kamu memanfaatkan kepolosannya, kata Al."


"Selama kalian masih berada dalam lampu merah berarti masih ada lampu hijau untukku, aku juga tidak akan melepasnya begitu saja, kata yohan."


"Kamu jadi cowok tidak punya malu, kamu sudah tahu amel punya pacar dan kamu masih mau mendekatinya, kata kely."


"Bro, kamu harusnya mengerti, dengan keadaan ini, kata dion."

__ADS_1


"Aku tidak peduli semua perkataan kalian, kata yohan sambil pergi meninggalkan mereka."


"Al, bagaimana ini, amel juga pergi sendiri entah kemana, kamu harus mencarinya dan meminta maaf sesegera mungkin sebelum orang itu benar-benar merebut amel darimu, kata kely."


"Kamu benar, kalau begitu aku pergi dulu, kata Al."


"Iya kamu juga harus hati-hati di jalan, kata kely dan dion."


Setelah berjalan cukup jauh, al menemukan diriku yang sedang terduduk di halte.


"Amel, aku tahu aku egois, aku tidak bisa mengerti keadaanmu, aku menyesal, aku terbawa perasaan saat melihat kalian berdua, aku cemburu jika cowok lain berusaha mendekati kamu, kata Al."


"Jika benar begitu, tapi mengapa kamu harus mengatakan 'aku tidak keberatan karena dia cewek genit?' aku sakit hati mendengarnya, kataku."


"Aku ingin menebus semua yang terjadi di hari ini dengan mengajakmu camping bersama kely dan juga dion di depan rumahku karena besok hari libur, kata Al."


"Aku mau kok, kataku."


"Iya, kataku sambil tersenyum."


Malam harinya kami membangun tenda di halaman rumah Al yang sangat luas, Al dan dion yang bertugas membangun tenda sedangkan aku dan kely bertugas membuat api unggun. Kami menyusun kayu hingga menjadi seperti menara, lalu kami membakarnya dengan korek api.


Aku yang ceroboh terkena percikan api unggun.


"Awhh!! Kataku."


"Amel tanganmu, kata kely."


"Ada apa dengan tangan amel? Tanya Al yang mendengar suara kely."

__ADS_1


"Tangan amel merah terkena ciprakan api, kata kely."


Al berlari ke arahku dan melihat tanganku.


"Amel kamu tunggu di sini, aku akan mengambil salep di dalam, kata Al."


"Iya, kataku sambil mengipas tanganku."


"Amel mengapa bisa tanganmu terkena ciprakan api? Tanya dion."


"Itu karena dia ceroboh, kata kely."


"Seharusnya kamu lebih hati-hati jika melakukan sesuatu, kata dion."


"Yang dikatakan dion benar mel, kata kely."


Al kembali membawa salep dan mengoleskannya di tanganku.


Kami duduk melingkari api unggun, dion dan Al bermain gitar untuk menambah meriah camping kami sedangkan aku dan kely hanya bisa bertepuk tangan. Tidak lama ayah dan ibu Al menghampiri kami.


"Kami juga boleh ikutan camping dengan kalian kan? Tanya ibu Al."


"Iya biar kami terlihat lebih muda juga, kata ayah Al."


"Boleh tante, pasti akan lebih menyenangkan, kataku."


"Iya tante, kata kely."


"Wah jadi ramai kita, kata dion."

__ADS_1


"Tentu saja ayah, ibu boleh ikut, kata Al."


Malam sudah semakin larut, saatnya kami tidur. Ada tiga tenda yang dibangun, ayah dan ibu Al, al dan dion, aku dan kely.


__ADS_2