GERIMIS DI MATA HATI

GERIMIS DI MATA HATI
eps. 18


__ADS_3

Aku mencoba menghubungi Al namun tidak ada balasan, aku mencoba ke rumah Al dan mengetuk pintu rumahnya berkali-kali hingga seseorang pun datang membukakan pintu untuku.


Dia adalah Al, aku bahagia dia baik-baik saja dan dugaanku salah jika terjadi sesuatu padanya.


"Amel, kamu mau apa datang kemari? Tanya Al, aku juga pernah melarang kamu untuk datang lagi ke rumahku."


"Tapi mengapa Al, aku pacar kamu, apa salah jika aku mengkhawatirkan kamu? Tanyaku."


"Bukan seperti itu tapi, ucapan Al terpotong oleh wanita yang tiba-tiba datang di tengah percekcokan kami."


"Sepertinya aku pernah melihat wanita ini, siapa dia? Tanyaku."


"Dia adalah temanku dari jerman, namanya syerien kata Al."


"Aku fikir kamu menduakan aku, aku percaya kamu tidak akan pernah menduakan aku karena kamu juga sayang sama aku, benar tidak? Tanyaku berpura-pura tidak tahu jika sebenarnya aku sudah mengetahui siapa gadis itu."


"Iya kamu benar, kata Al."


"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu, kataku."


"Maafkan aku mel, aku tahu pasti kamu cemburu dan terluka namun kamu menyembunyikan itu, kamu benar-benar gadis yang baik hati dan aku tidak pantas memilikimu karena aku pria yang telah menyakiti hatimu berulang kali. Suatu saat nanti pasti kamu akan mendapatkan pria yang jauh leih baik dariku."


Aku berdiri di atas halusnya pasir pantai yang ternodai oleh air mataku. Aku tidak tahu lagi mau kemana selain ke tempat ini, luas tanpa seseorang membuatku sedikit lebih tenang.


"Apa kamu tahu butiran air mata sekejap saja terjatuh, kamu datang memberi luka dan awan datang menjatuhkan hujan, cukup melengkapi hidupku. Langit mendung tidak akan menghadirkan bintang dan hanya akan menghadirkan kelam."


"Mungkinkah kamu yang akan menjadi lampu cinta yang semakin redup lalu padam dalam hatiku? Hati ini gelap, berjalan tanpa cahaya dan entah kemana hati ini akan kembali berlabuh."

__ADS_1


"Tuhan menghadirkan kamu untukku, untuk memberi aku bahagia, kamu bukan hanya datang memberi sedih, luka dan sakit padaku lalu lenyap tidak terlihat mata lagi."


*****


"Seharusnya aku sadar lebih dulu sebelum aku benar-benar sudah merasakannya, hati? cinta? Semua tersakiti dan meninggalkan bekas kenangan dalam diriku."


Aku tidak mengerti Al berubah dalam kurung waktu yang relatif singkat, Al kini selalu mengatarku pulang ke rumah dan bahkan dia membawaku ketempat yang romatis aku tidak menduga semua ini. Al memberiku boneka beruang dengan warnah senada dengan kemeja yang ia kenakan sekarang, serta setangkai bunga ia berikan untukku.


Al menggandeng tanganku dan berjalan menelusuri taman yang dipenuhi lampu kerlap-kerlip. Dan juga kami bersepeda di tengah malam buta, membopong tubuhku di punggung kekar miliknya. Karena kelelahan kami beristirahat di bawah pohan, aku tidak akan melepaskan momen ini dengan sia-sia.


Aku mengambil handphone di dalam tas bermotif kelinci milikku, lalu aku mengambil gambar Al yang sedang melipat kedua tangannya di dada. Dan untuk gambar yang kedua dia sudah mengetahui aku memotretnya diam-diam dan dia mengangkat dua jari telunjuk dan tengah di pipinya, kami juga foto berdua dengan gaya konyol masing-masing.


Setelah kami pulang ke rumah, Al menemui kely dan juga dion di cafe tempat kami sering berkumpul tanpa sepengetahuan diriku.


"Besok aku akan pergi ke jerman, dan amel belum mengetahui ini semua, aku minta sama kalian berdua untuk tetap merahasiakan ini, pinta Al."


"Kely benar, cukup sudah amel menderita selama ini, kata dion."


"Tolong, bantu aku sekali lagi, kata Al."


"Baiklah kami akan membantumu, kata kely."


*****


Tidak lama setelah hari itu Al kembali tidak memberi kabar padaku. Aku pergi ke rumah Al dan mengetuk pintu rumahnya, rumahnya nampak sepi. Seseorang melihatku dan bertanya.


"Cari siapa? Tanya orang itu."

__ADS_1


"Aku mencari Al bu, kataku."


"Sayang sekali pemilik rumah ini sudah pergi ke jerman beberapa hari yang lalu, katanya untuk melanjutkan pendidikannya, kata ibu itu."


"Oh begitu ya ibu, kata amel."


"Tunggu, siapa nama kamu? Tanya ibu itu."


"Nama saya amel bu, kata amel."


"Nak amel, tunggu sebentar ya, ini ada titipan dari Al buat nak amel, kata ibu itu."


"Aku membuka dan membaca surat dari Al."


18 januari 2016


Aku mengucapkan beribu-ribu maaf untukmu, meski aku tahu kamu inginkan satu kata maaf saja yang keluar dari bibirku secara langsung tapi aku tidak bisa.


Bibir dan lidahku terasa kaku mengucapkannya. Aku akan pulang ke Indonesia untuk menemuimu setelah sekolahku selesai, aku tahu kamu menyimpan benci padaku, menyembunyikan kata-kata jika aku pria yang salah untukmu, dan aku kagum padamu karena masih tetap bertahan dengan sikapku padamu.


Jagalah boneka yang aku titipkan padamu dan mungkin kamu tidak tahu di dada boneka itu ada tombol dan kamu akan mendengarkan kata maaf dariku. Sampai jumpa sang pemilik hati.


Salam,


Ghozali Al Gaffar


Lagi-lagi seperti ini caramu melukaiku, lalu haruskah aku menggu kembalimu? Dan jika kamu kembali, apa yang akan aku dapatkan kembali?

__ADS_1


*****


__ADS_2